BATAM TERKINI

Rudi Minta ke Investor Agar Perhatikan Faktor Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat

Wali Kota Batam, Rudi menekankan, agar setiap investasi yang masuk ke Batam, juga memperhatikan faktor lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Rudi Minta ke Investor Agar Perhatikan Faktor Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat
Istimewa
Pengolahan biji plastik 

TRIBUNBATAM.id, BATAM- Wali Kota Batam, Rudi menekankan, agar setiap investasi yang masuk ke Batam, juga memperhatikan faktor lingkungan dan kesehatan masyarakat. Tidak sekadar mencari nilai investasi.

"Intinya kita akan terima investor, tapi tak boleh hanya lihat investasi dari sisi uangnya. Efek perusahaan juga harus dipikirkan," kata Rudi, Senin (19/11/2018).

Hal ini ia sampaikan, menanggapi rencana masuknya industri daur ulang plastik ke Batam. Sebelumnya, ada sekitar belasan perusahaan yang bergerak di bidang plastik dan mengurus dokumen terkait perizinannya di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam. Dalam hal ini, DLH sangat berhati-hati untuk menerbitkan dokumen yang dimintakan.

"Plastik ini harus diolah betul-betul. Karena ini terkait limbah. Satu kali olah saja, bisa 30 persen yang tinggal. Satu hari, berapa ton dia olah plastik? Bisa dibayangkan berapa limbah yang dihasilkan," ujarnya.

Di sisi lain, limbah atau sampah plastik ini juga sulit terurai dengan tanah. Dari hasil kajian, butuh ratusan sampai ribuan tahun, waktu yang diperlukan untuk membuatnya terurai.

Baca: Lirik Dua Pulau di Anambas, Investor Asal Tiongkok Investasi Rp 1,8 Triliun

Baca: Tergiur Dengan Gaji Besar, Penyeludupan 24 TKI Ilegal Digagalkan Dirpoairud Polda Kepri

Baca: Manfaatkan Energi Ramah Lingkungan, PGN Luncurkan 32 Unit Gaslink Truck Berbahan Bakar Gas Bumi

"Belum lagi, kalau banyak masyarakat yang sakit karena limbah plastik ini. Uang yang masuk, dan uang yang keluar tak imbang," kata Rudi.

"Kalau mereka tak punya uang, kami pemerintah harus bisa mengobati mereka," sambungnya.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam, Herman Rozie mengatakan, Pemko Batam telah berkirim surat ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Surat ini menanggapi rencana masuknya industri daur ulang plastik ke Batam.

Dalam surat itu, mereka memaparkan kondisi Batam saat ini. Disebutkan bahwa sampah yang dihasilkan sekarang sudah mencapai 1.000 ton/hari. Dan kondisi ini sudah sangat membebani Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Telagapunggur yang luasnya hanya sekitar 46,8 hektare.

"Berdasarkan jurnal-jurnal ilmiah, sampah plastik ini hanya bisa diolah 70-93 persen. Kita anggap teknologi yang dipakai investor ini cukup tinggi, bisa diolah sampai 93 persen. Ada 7 persen sisa sampah plastik impor yang TPA kita tanggung," kata Herman.

Ia melanjutkan, dari 11 perusahaan yang masuk, jika dihitung sisa 7 persen dari kuota bahan baku plastik yang diberikan, maka dalam satu hari itu akan menambah beban TPA sebesar 100 ton.

"Coba bayangkan kalau 30 perusahaan. Umur TPA kita ini berapa lama. Itu baru dari segi tempat, lahan. Belum lagi dari segi terurainya. Bisa dilihat di TPA Punggur sekarang, masih banyak sampah plastik dari rumah tangga yang menumpuk, tidak terurai. Ini mau ditambah lagi dengan sisa industri daur ulang plastik yang bahan bakunya diimpor. Ini yang menyebabkan Pemko Batam sangat berhati-hati," katanya. (*)

Penulis: Dewi Haryati
Editor: Sihat Manalu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved