Bintan Terkini

Jembatan Penyebrangan di Pengujan Hampir Selesai. Bagaimana Dengan Nasib Transportasi Pokcai

Nasib pokcai, moda transportasi tradisional di Desa Pengujan, Kecamatan Teluk Bintan jadi tanda tanya

Jembatan Penyebrangan di Pengujan Hampir Selesai. Bagaimana Dengan Nasib Transportasi Pokcai
Tribunbatam.id/Aminudin
Pokcai di Desa Pengujan, Kecamatan Teluk Bintan 

TRIBUNBINTAN.COM, BINTAN - Nasib pokcai, moda transportasi tradisional di Desa Pengujan, Kecamatan Teluk Bintan jadi tanda tanya.

Saat ini, di Desa Pengujan berdiri jembatan penyeberangan berstruktur besi membentang di atas laut teluk Bintan. Proyek jembatan tersebut dikebut Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR Bintan).

Baca: Puluhan Tahun Diminta Hingga pokcai Tenggelam, Pemkab Bintran Akhirnya Bangun Jembatan Pengujan

Baca: Pasca Tragedi Pokcai Tenggelam, Tekong Diperiksa Polisi

Baca: Kesaksian Nenek Siti. Begini Detik-detik Tenggelamnya Pokcai Pengujan! Teriakan Menyayat Hati!

Jembatan merupakan impian bertahun tahun warga Desa Pengujan. Pasca terjadi tragedi pokcai tenggelam 2017 lalu, lambat laun impian akan adanya jembatan jadi nyata. Pemerintah langsung menyetujui usulan jembatan. Dan kini, fisik jembatan tersebut sudah jadi, dan siap jadi akses penyebrangan terbaru warga. Lalu, bagaimana nasib pokcai?

Pantauan Tribunbatam.id, lalu lalu lalang pokcai di Selat Bintan sejauh ini masih menggeliat. Tidak jauh dari lalu lalang pokcai, berdiri fondasi jembatan yang pengerjaannya terus dikebut. Selama jembatan belum dibuka umum, pokcai masih jadi moda transportasi andalan penghubung dua kampung.

Keistimewaan pokcai meski tradisional adalah bisa mengangkut orang dan sepeda motor sekaligus. Bahkan bisa mengangkut kendaraan roda empat.

Tarif penyeberangan masih cukup terjangkau. Untuk orang, Rp 5.000 per sekali menyeberang. Jika mengikutkan sepeda motor tarifnya bertambah Rp 15.000 ribu. Dan tarif untuk mobil di atasnya.

Sejauh data yang ada, setidaknya ada 4 unit pokcai lalu lalang di Desa Pengujan. Satu unit pokcai dikelola terpadu dalam konsep Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Pokcai lainnya dikelola masyarakat.

Seorang pengguna pokcai, Inang mengatakan, ia cukup sedih juga jika kelak pokcai tak lagi beroperasi setelah jembatan bisa dilalui.

"Sedih juga sih. Tapi, semoga saja pokcainya masih ada, mungkin digunakannya dalam bentuk model lain,"katanya, Senin (27/11/2018).

Apakah pokcai bakalan benar benar hilang?

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Desa Ronny Kartika mengatakan, terkait keberadaan pokcai, terutama yang dikelola oleh BUMDes tengah dipikirkan. Dalam waktu dekat akan ada diskusi soal masa depan pokcai di Desa Pengujan.

"Kami akan coba diskusikan bagaimana nantinya, pokcai ini,"kata Ronny Kartika.

Alternatif disiapkan bila jembatan Pengujan kelak beroperasi yakni memodivikasi pokcai menjadi alat angkut ekowisata mangrove. Kebetulan pesisir desa Pengujan masih banyak ditemukan hutan mangrove. Habitat tersebut bisa diberdayakan sebagai ekowisata dalam bentuk tour mangrove.

"Kemungkinan akan dimodifikasi untuk pokcai tour mangrove Pengujan,"kata Ronny. (*)

Penulis: Aminnudin
Editor: Ucu Rahman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved