Helikopter TNI Diberondong Tembakan, Simak 6 Fakta Dibalik Kontak Senjata TNI dan KKB di Papua

Kontak senjata antara aparat keamanan dengan Kelompok Kriminal Bersenjata di Nduga, Papua, berlangsung sengit. Simak 6 fakta di balik peristiwa itu.

Helikopter TNI Diberondong Tembakan, Simak 6 Fakta Dibalik Kontak Senjata TNI dan KKB di Papua
Tribunnews
Sebanyak 19 pekerja jembatan di Papua dibunuh oleh Kelompok Kriminal Bersenjata atau KKB pimpinan Egianus Kogoya pada Minggu (2/12/2018). 

TRIBUNBATAM.id - Kontak senjata antara aparat keamanan dengan Kelompok Kriminal Bersenjata ( KKB) di Nduga, Papua, berlangsung sengit.

Helikopter milik TNI diberondong tembakan anggota KKB saat mengevakuasi Serda Handoko. Aparat gabungan TNI-Polri tak mau tinggal diam.

Serbuan balasan segera dilancarkan dan akhirnya bisa memukul mundur KKB.

Aparat saat ini telah menguasai Pos TNI di Mbua dan terus melakukan penyisiran anggota KKB pimpinan Egianus Kogoya.

Sementara itu, sejumlah korban pembantaian KKB telah ditemukan aparat.

Baca: TERUNGKAP! Ini 8 Fakta Pembantaian 31 Pekerja Jembatan di Papua oleh KKB di Kabupaten Nduga

Baca: UPDATE Pembantaian Pekerja di Papua, Kapolri: 19 Pekerja dan 1 Anggota TNI Jadi Korban Pembunuhan

Baca: Hari Ini 15 Jenazah Korban Pembantaian di Nduga Papua Akan Dievakuasi

Berikut ini fakta di balik perburuan KKB di Ndago, Papua.

1. Serda Handoko dan Pratu Sugeng tertembak oleh KKB di Pos TNI Mbua

Sekitar pukul 05.00 WIT, Senin (3/12/2018), Pos TNI 755/Yalet, Mbua, tempat Jimmi bersama temannya diamankan, diserang oleh KKB. Anggota KKB menyerang dengan senjata api standar militer, panah, batu dan tombak.

“Rupanya mereka tetap melakukan pengejaran. Serangan diawali dengan pelemparan batu ke arah Pos sehingga salah seorang anggota Yonif 755/Yalet, Serda Handoko membuka jendela, lalu ditembak dan meninggal dunia,” kata Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih Kolonel Inf Muhamad Aidi, Rabu (5/12/2018).

“Saat itu anggota di pos membalas tembakan sehingga terjadi kontak tembak dari jam 05.00 WIT hingga 21.00 WIT. Karena situasi tidak berimbang dan kondisi medan yang tidak menguntungkan, maka pada 4 Desember sekitar pukul 01.00 WIT, Danpos memutuskan untuk mundur mencari medan perlindungan yang lebih menguntungkan. Saat itulah salah seorang anggota, Pratu Sugeng, tertembak di lengan,” ujar Aidi.

Halaman
1234
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved