Mantan PM Malaysia Kembali Ditangkap KPK Malaysia, Dituduh Ubah Audit 1MDB

Mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak kembali ditangkap oleh penyelidik korupsi terkait skandal 1MDB yang merugikan negara itu miliaran dolar AS

Mantan PM Malaysia Kembali Ditangkap KPK Malaysia, Dituduh Ubah Audit 1MDB
The Star
Mantan PM Malaysia Najib Razak melambai kepada wartawan menjelang sidang dakwaan korupsi dan pencucian uang skandal 1MDB di pengadilan Kuala Lumpur, Kamis (20/9/2018). 

TRIBUNBATAM,ID, PUTRAJAYA - Mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak kembali ditangkap oleh penyelidik korupsi terkait skandal 1MDB yang merugikan negara itu miliaran dolar AS.

Najib Razak ditangkap Komisi Antikorupsi Malaysia (SPRM/MACC), Senin (10/12/2018), sekitar pukul 11.00 waktu setempat dan langsung dibawa ke kantor SPRM di Putra Jaya.

Namun, laporan terakhir yang dilansir TribunBatam.id dari Berita harian Malaysia, Najib Razak kembali dibebaskan, Senin sore, dengan uang jaminan.

Najib terlihat memasuki Kantor SPRM sekitar pukul 10.42 pagi, Senin dan diduga meninggalkan kantor SPRM sore harinya, sekitar 13.30 waktu setempat.

Najib dijerat dengan dakwaan baru, masih terkait skandal 1MDB (1Malaysia Development Berhad), yakni melakukan intervensi terhadap audit perusahaan investasi yang didirikannya tersebut.

Baca: Najib Blak-blakan. Akui Jho Low Tipu Malaysia, Tetapi Salahkan Goldman Sachs dalam Skandal 1MDB

Baca: Mantan PM Malaysia Najib Razak Hadapi 25 Dakwaan Skandal 1MDB Rp 9,3 Triliun, Ini Rinciannya

Baca: Bantah Korupsi, Mantan PM Malaysia Najib Razak Rilis Dokumen Bukti $100 Juta dari Royalti Saudi

Sebelumnya, Najib juga dijadikan tersangka dalam skandal 1MDB dengan tuduhan lain, yakni menerima aliran dana dari perusahaan tersebut saat menjadi PM Malaysia merangkap Menteri Keuangan.

Penangkapan Najib Razak terkait pernyataan auditor negara pada 25 November lalu, Tan Sri Madinah Mohamad, yang mengatakan bahwa sebagian laporan audit akhir 1MDB telah dihapus atas perintah Najib Razak.

Bagian yang ini ini disebut-sebut terkait masuknya nama Low Taek Jho alias Jho Low, yang hingga saat ini masih buron.

Madinah mengungkapkan bahwa arahan untuk membuat perubahan atas perintah Tan Sri Shukry Salleh, yang saat itu menjabat sekretaris pribadi utama Najib Razak.

Perubahan laporan audit 1MDB dibuat pada 26 Februari 2016 dengan alasan bahwa itu adalah "masalah sensitif".

Sampai saat ini, selain Najib Razak, SPRM juga akan mengembangkan kasus ini dan melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah orang yang terkait dengan laporan tersebut.

Di antara orang yang akan diperiksa SPRM adalah Tan Sri Dzulkifli Ahmad dalam kapasitasnya sebagai petugas hukum di Kejaksaan Agung Malaysia, mantan auditor Jenderal, Tan Sri Ambrin Buang, mantan sekretaris utama Najib Razak, Tan Sri Dr Ali Hamsa, mantan direksi 1MDB, termasuk CEO Arul Kanda Kandasamy.

Penulis: Alfian Zainal
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved