Ajak Pekerja Informal Masuk BPJS, Hal Ini yang Dilakukan BPJS Ketenagakerjaan Tanjungpinang

Banyak warga pekerja informal di kota Tanjungpinang belum masuk peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Ajak Pekerja Informal Masuk BPJS, Hal Ini yang Dilakukan  BPJS Ketenagakerjaan Tanjungpinang
TRIBUNBATAM.id/Thomm
Suasana aksi donor darah di Kantor BPJS Ketenagakerjaan Kota tanjungpinang, Rabu 12 Desember 2018 

TRIBUNBATAM.id - Banyak warga pekerja informal di kota Tanjungpinang belum masuk peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Mereka adalah para petani, pedagang, tukang ojek, nelayan dan lain-lain. Persentase jumlahnya mencapai 60 persen dari warga yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Kabid Pemasaran BPJS Ketenagakerjaan Iwan Kurniawan mengatakan, kalau ingin menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, pekerja informal ini membayar iuran secara rutin sebesar Rp 16.800 per bulan. Dengan demikian, mereka akan menerima jaminan kecelakaan kerja dan kematian.

"Kendatipun Rp 16.800 per bulan, tetapi itu juga duit. Nah, itulah yang masih berat buat para pekerja informal ini," kata Iwan kepada TRIBUNBATAM.id pada Rabu (12/12/2018) usai membuka acara donor darah di Kantor BPJS Ketenagakerjaan Tanjungpinang.

Menurut Iwan, BPJS Ketenagakerjaan sudah berupaya untuk membantu para pekerja informal ini agar bisa masuk pesertanya penerima bantuan iuran. Namun, upaya tersebut belum dikabulkan juga oleh pemerintah pusat.

Selain para pekerja informal ini, masih banyak pekerja penerima insentif belum juga menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Kalau RT/RW memang sudah dimasukkan sebagai peserta penerima insentif yang dibayar pemerintah daerah.

Namun, guru mengaji di TPA atau TPQ belum semuanya dibayarkan pemerintah daerah.

Iwan memisalkan, ada seorang guru mengaji yang meninggal dunia beberapa waktu lalu. Dia beruntung karena sudah terdaftar sebagai peserta mandiri sehingga BPJS Ketenagakerjaan menjamin kematiannya. Jaminan tersebut sangat bermanfaat bagi keluarganya yang hidup apa adanya.

"Saya sudah bicara dengan Ketua TPQ se-kota Tanjungpinang. Dia katakan, dari 1000 guru TPQ, sekitar 200 orang belum masuk peserta BPJS Ketenagakerjaan. Karena itu, kami berupaya terus untuk mengajak mereka supaya masuk peserta mandiri," ungkap Iwan.

Satu upaya untuk mengajak masyarakat untuk masuk peserta BPJS Ketenagakerjaan melalui kegiatan sosial antara lain aksi donor darah. Iwan mengatakan, aksi donor darah ini memang masih berkaitan dengan rangkaian kegiatan hari jadi ke-41 BPJS Ketenagakerjaan. Namun, di balik itu BPJS Ketenagakerjaan ingin membangun kerja sama dan kedekatan dengan mitra-mitra kerjanya.

"Ini juga merupakan partisipasi BPJS Ketenagakerjaan terhadap lingkungan dan masyarakat dan meningkatkan silaturahmi dengan mitra dari PMI, TNI-Polri, perusahaan dan masyarakat. Target kami adalah 150 kantong darah. Kami berterima kasih atas semua pihak," ungkap Iwan.

Dia kemudian mengharapkan aksi sosial tersebut akan meningkatkan peran aktif masyarakat dari berbagai segmen untuk berpartisipasi sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Ada tiga segmen yang masuk peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Segmen pertama, Peserta dari Badan Usaha. Pihak yang masuk segmen ini adalah peserta penerima upah. Untuk segmen ini, perusahaan yang membayar jaminan pekerjanya tanpa ada batasan usia selagi pesertanya masih aktif bekerja.

Segmen ke dua, Peserta Bukan Penerima Upah. Pihak yang masuk segmen ini ialah peserta mandiri dan perorangan. Mereka mendaftar dan membayar sendiri. Namun, mereka yang masuk peserta ini hanya terbatas pada usia 58 saja.

Segmen ke tiga, Peserta dari Jasa Konstruksi. Perusahaan jasa konstruksi yang mendaftarkan perusahaannya ke BPJS Ketenagakerjaan. (tom)

Penulis: Thom Limahekin
Editor: Rio Batubara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved