KARIMUN TERKINI

Angin Kencang Landa Karimun. BMKG: Imbas Siklon Pabuk, Bisa Memicu Gelombang Laut Jadi Tinggi

"Untuk gelombang di perairan Karimun yang biasanya 0,2 sampai 0,5 meter sekarang 0,3 sampai satu meter," kata Eko

Angin Kencang Landa Karimun. BMKG: Imbas Siklon Pabuk, Bisa Memicu Gelombang Laut Jadi Tinggi
TRIBUNBATAM.id/ELHADIF PUTRA
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas IV Raja Haji Abdullah, Raden Eko Sarjono menyampaikan kondisi cuaca. 

TRIBUNBATAM.id, KARIMUN - Kecepatan angin di wilayah Kabupaten Karimun meningkat, hal ini bisa menyebabkan terjadinya gelombang laut yang tinggi.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas IV Raja Haji Abdullah, Raden Eko Sarjono mengatakan biasanya kecepatan angin di wilayah Karimun hanya berkisar di antara empat sampai enam knot. Namun untuk saat ini kecepatan angin mencapai 10 knot.

"Untuk gelombang di perairan Karimun yang biasanya 0,2 sampai 0,5 meter sekarang 0,3 sampai satu meter," kata Eko saat dijumpai di kantornya, Kamis (3/1).

Baca: Angin Kencang, Jadwal Kapal Tujuan Lingga Sempat Ditunda.SOP Tanjungpinang Ingatkan Gelombang Tinggi

Baca: Bulog Pastikan Harga di Gudang Bulog Masih Bisa Dijangkau Masyarakat dan Bisa Bersaing di Pasaran

Baca: Seorang Napi di LP Kelas IIA Tanjungpinang Dikabarkan Meninggal Dunia, Warga Lihat Ambulance

Baca: INFO GEMPA HARI INI - Gempa 5.0 SR Guncang di Sumba Barat NTT Kamis Jam 11.49 WIB. Berikut Info BMKG

Penyebab kondisi cuaca tersebut adalah karena imbas siklon tropis pabuk yang tetjadi di Laut Cina Selatan, atau tepatnya di sebelah timur Negara Malaysia.

"Jadi ini dampak tidak langsung siklon tropis pabuk. Pengaruhnya adalah kecepatan angin menjadi kencang. Dan, karena kita di daerah Kepulauan jadi meningkatkan tinggi gelombang. Bahkan di perairan Anambas gelombang mencapai tujuh meter," papar Eko.

Pengaruh lain dari kondisi cuaca ini adalah terbentuknya awan rendah dan awan cumulonimbus sehingga menyebabkan curah hujan meningkat dan lebih signifikan.

Hal ini dapat berimbas terjadinya bencana banjir bagi daerah dataran rendah dan longsor bagi daerah dataran tinggi. (ayf)

Penulis: Elhadif Putra
Editor: nandrson
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved