Anambas Terkini

Kapal Bukit Raya Jadi Primadona Warga Anambas. Beda Harga Beda Pelayanan, Ini Keluh Kesah Penumpang

Besaran nominal harga sewa kamar awak kapal ini pun, berkisar antara 300 ribu sampai satu jutaan rupiah tergantung hasil kesepakatan

Kapal Bukit Raya Jadi Primadona Warga Anambas. Beda Harga Beda Pelayanan, Ini Keluh Kesah Penumpang
Tribunbatam.id/Septyan Mulia Rohman
Kapal KM. Bukit Raya saat sandar di Pelabuhan Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas. 

TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS - Kapal Bukit Raya kini menjadi primadona transportasi bagi warga Anambas.

Namun pelayanan yang diberikan Kapal Bukit Raya kepada penumpang perlu menjadi catatan.

Mulai dari penumpang yang tidur di tepi dek atau di bawah kasur kelas ekonomi yang telah disediakan, hingga bau kurang sedap yang muncul dari beberapa titik pada sejumlah dek yang menjdi bau 'khas' kapal Pelni itu.

"Kalau boleh dibilang, ini lah seninya naik kapal Bukit Raya ini. Pilihan masyarakat untuk bisa sampai dengan selamat apalagi dengan kondisi cuaca laut yang terbilang ekstrem, salahsatunya dengan kapal ini," ujar Aman seorang penumpang yang naik dari Jemaja Kamis (24/1/2019).

Harga tiket sebesar 168 ribu rupiah untuk rute Kijang ke Tarempa, memang begitu menjadi pertimbangan masyarakat, apalagi kalau membawa barang yang jumlahnya tidak sedikit.

Beda harga beda pelayanan pun cukup terlihat jelas di sini. Ada alternatif bagi penumpang yang ingin berlayar dengan nyaman, salahsatunya dengan menyewa kamar awak kapal dengan nilai yang bervariasi, tergantung destinasi tujuan.

Dihadang Ombak Besar, Kapal Ferry Tidak Bisa Berlayar. Bukit Raya Kini Jadi Primadona Warga Anambas

Wow, Kini Sudah Ada Lipstik Miss V, Simak Fungsi dan Manfaatnya

Sidang Sabu 19,7 Kg di Karimun - Divonis 19 Tahun Penjara, Denda Rp 1 M, Mata Firdaus Berkaca-kaca

Besaran nominal harga sewa kamar awak kapal ini pun, berkisar antara 300 ribu sampai satu jutaan rupiah tergantung hasil kesepakatan antara penumpang dengan awak kapal.

Hal ini yang diakui Danu penumpang lainnya yang ditemui saat kapal berlayar dari Jemaja menuju Tarempa.

"Kalau saya, sudah telpon sebelumnya dengan awak kapal. Lumayan membantu lah apalagi kalau yang berangkat membawa keluarga," ujarnya.

Sayang, tingginya minat penumpang untuk menyewa kamar awak kapal ini, kerap dimanfaatkan sejumlah oknum awak kapal dalam meraup untung.

Penumpang pun, seolah tidak ada pilihan selain menuruti besaran harga yang dibuka oleh awak kapal.

Kalaupun, berkurang, harga yang disepakati pun tidak meleset jauh. Harga sewa kamar yang menekan ini, biasanya terjadi saat musim liburan anak sekolah atau saat hari besar keagamaan.

"Paling itu saja. Harganya terkadang terlalu mahal. Selebihnya, sudah cukup bagus. Artinya, penumpang pun terbantu," ungkapnya.

Ia menjelaskan, kondisi kapal saat selesai menjalani docking memang cukup nyaman. Mulai dari pendingin ruangan yang cukup terasa, meski di kelas ekonomi, petugas kebersihan yang rutin menyapu bahkan mengepel setiap lantai di dek secara berkala, sampai kualitas makanan dan minuman yang diberikan managemen kapal secara percuma.

"Waktu awal-awal usai docking itu, memang sedap. Makanannya pun enak. Dapat jus dan minuman mineral. Sampai sekarang pun, masih seperti itu. Hanya memang bau kurang sedap itu saja. Mungkin ini yang perlu jadi evaluasi pihak Pelni," ungkapnya.(*)

Penulis: Septyan Mulia Rohman
Editor: Ucu Rahman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved