PETANI MENJERIT, Tarif Kargo Pesawat Naik Rp 30 Ribu per Kg, Order Produk Holtikultura Banyak Cancel

Para petani mulai menjerit karena pemesanan hasil panen yang disalurkan pengusaha produk holtikultura banyak di-cancel akibat biaya kargo naik.

PETANI MENJERIT, Tarif Kargo Pesawat Naik Rp 30 Ribu per Kg, Order Produk Holtikultura Banyak Cancel
Kompas.com/ESTU SURYOWATI
Ilustrasi 

TRIBUNBATAM.id,  JAKARTA - Sebagai imbas kenaikan tarif SMU oleh maskapai penerbangan, Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) ikut menaikkan tarif jasa pengiriman melalui udara.

Hal itu menyusul kenaikan tarif kargo oleh perusahaan penerbangan Garuda, Lion Air, dan Sriwijaya Air.

Dan kenaikan yang fantastis tersebut ternyata mulai dirasakan imbasnya oleh pengusaha produk holtikultura.

Akhirnya Kementerian Pertanian mengirim surat ke Menteri Perhubungan atas kenaikan yang sangat tinggi itu.

Kenaikan itu langsung mendapat protes dari Kementerian Pertanian.

Dalam protesnya itu, Dirjen Kementan berkirim surat dengan nomor B-37/ITU-120/D/DI/2019 ke Kementerian Perhubungan.

Tarif Kargo Pesawat Naik 300 Persen Sejak Juni 2018, JNE Sebut Kebijakan Itu Mirip Tsunami

Meski Tarif Kargo Pesawat Meroket, TIKI Belum Naikkan Tarif Secara Nasional

Jasa Pengiriman Terlalu Murah, Garuda Indonesia Naikkan Biaya Kargo 50 Persen

Protes Tarif SMU Kargo Terlalu Mahal, Asperindo Bakal Stop Pengiriman Barang Pakai Pesawat

FOLLOW JUGA :

Surat yang diperoleh Kontan.co.id itu menuliskan, Kemtan meminta dispensasi biaya pengiriman produk holtikultura.

Tembusan ke Menteri Pertanian, Menteri Perhubungan, Menteri Hukum dan Ham, Aperindo, dan Asosiasi Logistik Indonesia.

Dirjen Holtikultura Kemtan Suwandi mengatakan mencermati dinamika kenaikan biaya jasa pengiriman, dimana kenaikan harganya sangat tajam dari sebelumnya Rp 14.000 per kg menjadi Rp 44.000 pe kg berlaku per Januari 2019.

“Kami mendapat laporan dari para pengusaha holtikultura mengenai pembatalan order produk holtikultura yang sangat merugikan dan memberatkan petani, kenaikan itu menurut kami sangat berpotensi untuk melemahkan daya saing produk holtikultura,” tulis Suwandi dalam suratnya, Selasa (5/2). (kontan)

Editor: Tri Indaryani
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved