Tanjungpinang Terkini

Pembunuh Janda di Tanjungpinang, Menolak Tuduhan Ada Perencanaan Pembunuhan, Usai Sidang Rusuh Lagi

Beberapa barang bukti disinyalir sebagai penguat pelaku melakukan pembunuhan terencana ini dibantah oleh Nasrun

Pembunuh Janda di Tanjungpinang, Menolak Tuduhan Ada Perencanaan Pembunuhan, Usai Sidang Rusuh Lagi
Tribunbatam.id/Wahib Wafa
Jaksa membawa Nasrun, terdakwa kasus pembunuhan terhadap Supartini di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, beberapa waktu lalu. 

TRIBUNBATAM.id, TANJUNGPINANG - Nasrun DJ terdakwa pembunuhan terhadap janda Supartini membantah jika melakukan pembunuhan secara terencana.

Beberapa barang bukti disinyalir sebagai penguat pelaku melakukan pembunuhan terencana ini dibantah oleh Nasrun.

Seperti halnya kayu, batu dan karung yang digunakan sebagai membunuh korban. Dimana barang tersebut ditemukan di kebun Jalan Ganet Tanjungpinang Timur.

Pengacara yang membacakan duplikat tersebut menuturkan bahwa barang tersebut tidak disiapkan sebelumnya untuk melakukan pembunuhan.

"Jadi kita tidak sependapat dengan replik yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Bahwa barang bukti kayu dan batu serta karung itu adalah barang yang bisa ditemukan dimana saja. Jadi bukan disiapkan oleh terdakwa," kata Dicky Eldina Oktaf SH, usai sidang di PN Tanjungpinang, Rabu (13/2/2019).

Sidang Pembunuhan Supartini di Pengadilan Negeri Tanjungpinang. Jaksa Tuntut Nasrun 20 Tahun Penjara

Sempat Tawar Tabung Gas ke Ayah Fitri Yu Tapi Ditolak, Ternyata Ini Pekerjaan Yuda Lesmana

Desain Terbaru Jordan Proto React dengan Siluet lifestyle, Terinspirasi dari Konsep Luar Angkasa

Ia menjelaskan bahwa dalam replik Jaksa Penuntut Umum menyebutkan bahwa bapa yang dilakukan oleh Nasrun adalah Pembunuhan berencana. Namun pengacara meyakini tindakan yang dilakukan tidak ada unsur perencanaan dalam melakukan Pembunuhan.

"Tidak sependapat jika ada pasal 340 dalam kasus ini. Saat itu terdakwa melakukan hal tersebut karena tersulut emosi akibat perkataan korban yang membuat sakit hati terdakwa," katanya.

Dalam sidang sebelumnya terdakwa mengaku emosi seteleh korban meminta nikah dengan pelaku akibat hamil dalam hubungan terlarang.

Namun persyaratannya terdakwa harus menceraikan istrinya terlebih dahulu. Hal itu yang membuat terdakwa kalap menghabisi korban.

Alasan lain dalam duplik yang dibacakan yaitu tentang tempat dilakukan pembunuhan. Ia menyebutkan bahwa tempat sunyi di kebun biasa mereka datangi. Disana mereka berencana hanya ingin membicarakan sesuatu.

"Sebelumnya mereka kan sempat di kedai kopi dulu. Lalu mau ada pembicaraan di kebun. Mereka memang biasa ke sana. Tapi saya lupa berapa kali mereka kesana," katanya.

Sidang yang dipimpin oleh Eduard Sihaloho didampingi Romauli dan Corpioner sepakat menunda sidang dengan agenda Vonis pekan depan.

Seperti sidang sebelumnya, sejumlah keluarga korban mengerumuni terdakwa. Mereka meneriakkan kata-kata kasar dan ungkapan kekesalan terhadap terdakwa. (*)

Penulis: Wahib Wafa
Editor: Ucu Rahman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved