BATAM TERKINI

Ribuan Paket Numpuk di Kantor Pos, Sekretaris Asperindo : Kalau Kirim Barang Harus Jujur

Asperindo Batam menyebut konsumen tak bisa sepenuhnya menyalahkan sistem terkait penumpukan barang di pos maupun jasa ekspedisi lain.

Ribuan Paket Numpuk di Kantor Pos, Sekretaris Asperindo : Kalau Kirim Barang Harus Jujur
TRIBUNBATAM.id/ARGIANTO DA NUGRAHA
Proses x-ray paket yang dikirim melalui Kantor Pos Batam Centre, Selasa (19/2/2019) 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Sekretaris Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) Kota Batam, Arif Budiyanto menilai, tak bisa sepenuhnya menyalahkan sistem atas terjadinya penumpukan barang di pos maupun perusahaan jasa titipan (PJT).

Akibat penerapan sistem Customs and Excise Information System and Automation (CEISA) oleh Bea dan Cukai, untuk pengiriman barang keluar dari Batam, dan berimbas pada lamanya waktu pengiriman barang hingga sampai ke tempat tujuan.

"Kalau salah sistem, tak bisa juga. Karena itu aturan menteri. Harus diikuti. Tapi pengiriman barang, sudah mulai lancar sekarang," kata Arif kepada Tribun, baru-baru ini.

Seperti halnya sistem baru yang baru diterapkan, dikatakan memang butuh adaptasi dalam penerapannya. Kemungkinan bakal ada kekacauan atau lainnya, bisa saja terjadi.

Namun dia masih berpikir positif soal ini.

"Tapi solusinya lama-lama kan ada. Ada evaluasi dari instansi terkait atau pemerintah. Kalau ini sulit, mungkin ada kemudahan, entah sistemnya dipermudah atau lainnya," ujarnya.

CATAT! Antrean Pengiriman di Kantor Pos Selalu Menumpuk, Begini Trik Agar Paket Cepat Dikirim

Jika Tak Lolos X-Ray Paket Bakal Dibongkar, Begini Caranya Agar Paket Dari Batam Tak Dibongkar

Begini Cara Kirim Paket Berisi Tanaman dan Hewan dari Batam Lewat Kantor Pos

Dampak Aturan Baru di Batam, Kirim Jenazah Mahal, Kirim Burung Pribadi Kena Pajak

Arif melanjutkan, sebenarnya aturan ini sudah lama ada. Hanya saja memang baru sekarang diterapkan.

Salah satu tujuannya, menurut Arif, yakni untuk menyaring barang yang akan keluar dari Batam.

"Untuk menghindari barang yang seharusnya tak bisa keluar, keluar. Jadi di-filter. Menurut saya lebih ke situ. Ada pengakuan dosa dari pemilik barang, kalau untuk mengirim barang itu, harus jujur," kata Arif.

Menurut dia, jika aturan mainnya diikuti, dengan sistem CEISA ini sebenarnya bisa lebih cepat. Dimana pengirim, sebelumnya sudah diberi edukasi kalau barang yang bisa keluar dari Batam per harinya harus maksimal 75 us dolar.

Selain itu, barang yang dilaporkan, harus sama isinya dengan isi paket kiriman secara keseluruhan.

"Yang kadang-kadang masih jadi hambatan itu kalau barang terbukti lebih dari 75 dolar Amerika per hari. Kan harus diselesaikan pajaknya. Setelah dibayar pajaknya, dilanjutkan lagi," ujarnya.

Adapun untuk pengecekan barang yang akan keluar dari Batam, lanjutnya, ketika barang di-scan di x-ray, dan tak sesuai laporan dari si pengirim, dan dicurigai isinya, maka petugas akan melakukan pemeriksaan dengan cara membongkar paket yang akan dikirimkan.

"Dibilang baju, tahu-tahu isinya ada handphone atau barang-barang terkena lartas (larangan terbatas). Mau tak mau BC periksa. Tapi itu juga tak lama. Ada dibongkar barangnya, tapi random, tergantung hasil X-ray. Fungsinya untuk memfilter barang boleh keluar atau tidak. Boleh keluar itu, kalau dibawah 75 us dolar. Kalau ternyata ada hp nilainya Rp 10 juta, kan harus diperiksa," kata Arif. (wie)

Penulis: Dewi Haryati
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved