Melihat Proses Kontestasi Politik Jelang Pemilu 2019, Waspadai Crowd Movement & Propaganda Politik

Perang tagar, meme dan gambar maupun kata-kata serta gerakan gerakan massa ( Crowd Movement ) menunjukkan banyak hal tentang para kandidat dan penduku

Melihat Proses Kontestasi Politik Jelang Pemilu 2019, Waspadai Crowd Movement & Propaganda Politik
ISTIMEWA
Ahli Politik Massa dan Identitas, Dr Andry Wibowo Sik, MH , Msi 

" A Great Nation Is Like A Great Man: When He Makes A Mistake , He Realises , Having Realise It , He Admits It. Having Admits It , He Correct It ... As His Most benelovent teachers , Lao tzu "

oleh Dr Andry Wibowo Sik, MH , Msi (Ahli Politik Massa dan Identitas)

TRIBUNBATAM.id - Kita semua tahu bahwa tanggal 17 April 2019 yang akan datang merupakan tanggal penting bagi seluruh rakyat indonesia selaku pemilik suara, untuk menentukan dan memastikan arah kepemimpinan nasional baik di level eksekutif maupun legislatif.

Proses kontestasi politik yang diperankan oleh para calon, baik calon presiden dan wakil presiden, maupun calon Anggota Legislatif, berlangsung dalam suasana hiruk pikuk dan cenderung anarki baik di jagad maya maupun di wilayah tradisional.

Perang tagar, meme dan gambar maupun kata-kata serta gerakan gerakan massa ( Crowd Movement ) menunjukkan banyak hal tentang para kandidat dan pendukungnya dalam memahami posisi negara dan bangsa saat ini, dimana proposal politik tentang cita-cita dan harapan kondisi negara dan bangsa 5 ( lima ) tahun yang akan datang harus benar-benar dipahami secara mendalam, tidak hanya berpegang teguh pada Jargon Asing Dan Anti Asing , ataupun Pancasila Dan Khilafah , Tetapi Juga Gagasan yang Brilian dari pada kandidat harusnya Di Lempar Secara Terbuka Ke Ruang Publik.

Kampanye tidak saja dilakukan oleh orang orang yang memiliki keahlian di bidang politik , tetapi juga oleh semua orang , semua profesi bahkan agamawan terkadang secara nyata terjebak dalam arus propaganda politik dan tidak sedikit menjadikan tempat ibadah yang bersifat umum dan sakral menjadi arena agitasi yang mempertontonkan keberpihakan kepada para kontestan politik.

Kebenaran yang menjadi nilai pokok yang bersifat umum telah dikemas dalam kebenaran palsu ( false thruth ) dan menjadi asupan informasi sehari hari bagi masyarakat umumnya.

Kebohongan Dan Pembohong ( Lier ) dan kebencian( Hater ) antar konstestan menjadi sesuatu yang umum dan nyata ( commonalisme ) di dalam narasi politik publik dan juga elite.

Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa banyak elite politik dan masyarakat dalam berbagai level serta profesi mengalami apa yang disebut sebagai " cognitive dissonance " .

Disonansi kognitif yang ditemukan oleh ahli psikologi sosial " Leon Festinger " adalah suatu gambaran konseptual tentang kondisi tindakan manusia yang berbeda antara pengetahuannya ( state of mind ) dan tindakannya , atau tindakannya tidak mencerminkan hal hal yang secara umum diketahui sebagai suatu kebenaran.

Halaman
123
Editor: Danang Setiawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved