Pria Singapore Ini Jadi Wanita Setelah Menjadi Single Parent Bagi Putrinya yang Berusia 9 tahun

Seorang pria Singapore mengubah dirinya jadi wanita karena harus menjadi orangtua tunggal atau single parent bagi anak gadisnya yang berusia 9 tahun.

screengrab
transgender single parent 

TRIBUNBATAM.id, SINGAPORE - Seorang pria Singapore mengubah dirinya jadi wanita karena harus menjadi orangtua tunggal atau single parent bagi anak gadisnya yang berusia 9 tahun.

Yang mengejutkan, pilihannya itu mendapat dukungan dari putrinya sehingga memberinya keberanian untuk menjadi transgender.

Hal itu disampaikan dalam Transgender Day Of Visibility yang berlangsung pada 31 Maret lalu di The T Project, sebuah tempat penampungan warga Singapura untuk komunitas waria perempuan.

The T project merilis sebuah video yang menceritakan kisah "ibu" dan anak yang tidak disebutkan namanya itu dengan judul "Cinta Seorang Ibu Dan Putri Satu Sama Lain".

Dilansir TribunBatam.id dari AsiaOne.com, wanita transgender  itu mengungkapkan bahwa gejala "kewanitaan" sudah ada pada dirinya sejak usia 10 tahun karena saat itu ia sudah menyukai gaun.

Namun ia kemudian menikahi seorang wanita dan melahirkan seorang anak perempuan.

Karena "keluarga adalah prioritasnya", dia siap untuk membawa rahasia bahwa ia memiliki kelainan itu kepada pasangannya.

Ketika pernikahan mereka gagal, dia kemudian mengungkapkan rahasianya dan meminta pendapat putrinya apakah ia boleh menjadi wanita.

"Bagiku, kamu adalah orang yang paling penting, dan tanpa dukunganmu itu tidak akan pernah terjadi," katanya.

"Apakah saya transisi atau tidak transisi, saya bisa hidup dengannya," katanya.

Dalam wawancara itu, putrinya yang sekarang sudah dewasa mengungkapkan bahwa sebenarnya cukup mudah untuk mendukung "ayahnya menjadi mumi (ibu)".

"Sangat menyenangkan bahwa saat saya mencapai pubertas, saya meminta ibu saya menjalani pubertas bersama saya," merujuk pada efek terapi penggantian hormon yang harus dilalui orangtuanya.

Sang putri mengungkapkan kepada ibunya,

"Saya pikir saya tidak pernah benar-benar mengatakan kepada Anda betapa bahagianya saya ketika pada rapor (sekolah) saya mereka membatalkan kata 'ayah' dan mereka menulis 'ibu'."

"Aku sangat bahagia dan aku tidak pernah mengatakan padamu bahwa aku benar-benar sangat, sangat, sangat senang tapi aku hanya mengecilkannya sedikit."

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved