TANJUNGPINANG TERKINI

Pilih Tinggal Jauh dari Kompleks Lokalisasi, Anak Laki-laki Ini Jual Koran untuk Biaya Sekolah

Betapa tidak, sejak pukul 06.45 WIB hingga pukul 15.45 WIB, Adi mesti mengikuti proses belajar-mengajar di sekolah layaknya anak-anak yang lain. Setel

Pilih Tinggal Jauh dari Kompleks Lokalisasi, Anak Laki-laki Ini Jual Koran untuk Biaya Sekolah
TRIBUNBATAM.id/THOM LIMAHEKIN
ilustrasi suasana di Simpang Lampu Merah Kilometer 8 Kota Tanjungpinang 

TRIBUNBATAM.id, TANJUNGPINANG - "Si budi kecil kuyup menggigil. Menahan dingin tanpa jas hujan. Di simpang jalan tugu pancoran. Tunggu pembeli jajakan koran... Menjelang maghrib hujan tak reda. Si budi murung menghitung laba. Surat kabar sore dijual malam. Selepas isya melangkah pulang...".

Lagu "Sore Tugu Pancoran" karya Iwan Fals yang diliris sekitar tahun 1985 itu seakan masih relevan saat ini, setidaknya bagi seorang Juliadi (19), siswa SMKN 2 Tanjungpinang.

Di bawah terang lampu jalanan yang agak suram dan deruan suara knalpot setiap kendaraan di Simpang Empat Lampu Merah Kilometer 8 Kota Tanjungpinang, Senin (15/4/2019) malam, Adi begitulah sapaannya, tercenung seorang diri.

Jarum jam menunjukkan pukul 22.30 WIB. Jalanan masih basah karena hujan gerimis baru saja berhenti. Anak laki-laki itu masih tertegun menatap lekat traffic light, menunggu lampu merah datang lagi agar semua kendaraan bisa berhenti di depannya.

Tiba giliran lampu merah, dia beranjak perlahan dari satu mobil ke mobil yang lain, menempelkan halaman depan koran pada kaca mobil sebelah kanan tanpa suara apapun keluar dari mulutnya.

Beberapa pengemudi menurunkan kaca lalu memberikannya uang Rp 2.000-an.

Dia pun menyambut itu dengan sedikit membungkuk sembari menyodorkan koran. Dengan santun dia kemudian menimpalinya dengan ucapan terima kasih.

Namun, tidak jarang juga para pengemudi mengacuhkannya. Mereka bahkan sama sekali tidak membuka kaca mobil baginya.

Adi seakan paham betul akan reaksi tersebut. Dia berjalan lalu sambil menundukkan kepala tanpa umpatan apapun.

Setelah lampu merah berlalu, dia langsung mendekap beberapa eksemplar koran kian merapat ke dadanya. Koran-koran itu seolah menjadi pelindung baginya dari embusan angin malam yang menembus dada hingga sumsum tulang belakang.

Hasyim, kakek Juliadi
Hasyim, kakek Juliadi (TRIBUNBATAM.id/THOM LIMAHEKIN)
Halaman
1234
Penulis: Thom Limahekin
Editor: Zabur Anjasfianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved