MUTIARA RAMADHAN

Ceramah Ramadhan : Orang yang Punya Malu Pada Allah Menjaga dari Perbuatan Zina dan Makanan Haram

DAHULU, masyarakat menjauhi pacaran antara remaja putra dan putri karena ada rasa malu. Bahkan orangtua tidak kuat menahan rasa malu manakala remaja

Ceramah Ramadhan : Orang yang Punya Malu Pada Allah Menjaga dari Perbuatan Zina dan Makanan Haram
Tribunnews
KH Muhammad Cholil Nafis 

oleh

KH Cholil Nafis Lc MA PhD

Ketua Komisi Dakwah MUI

DAHULU, masyarakat menjauhi pacaran antara remaja putra dan putri karena ada rasa malu. Bahkan orangtua tidak kuat menahan rasa malu manakala remaja putrinya bersama laki-laki yang bukan mahramnya.

Jangankan mengajak teman laki-lakinya ke rumah, menyapa di jalanan saja terasa ada rasa malu. Karenanya, pergaulan bebas saat itu dapat lebih mudah dicegah karena ada rasa malu di hati masyarakat. Betapa banyak sesuatu yang diinginkan oleh syawat manusiawi dapat ditahan karena motivasi malu.

Kini fenomena berubah, rasa malu hubungan remaja putra dan putri mulai berkurang. Anak remaja tak segan-segan untuk mengajak teman dekatnya ke rumah untuk dikenalkan kepada orangtuanya padahal bukan untuk melamarnya.

Acara apel malam mingguan dianggap suatu yang lumrah. Bahkan berjalan berduaan dan bersama seakan pasangan yang sah dianggap hal biasa. Itu semua karena mulai pudarnya rasa malu.
Malu adalah budaya bangsa Indonesia. Demikian pula agama Islam menanamkan sifat malu. Budaya malu merupakan kontrol diri untuk bersikap baik dan adil.

Ajaran malu dapat menjaga marwah (baca; muru’ah) dari perbuatan tercela sehinga dapat meningkatkan derajat keimanan. Orang yang tak punya rasa malu akan terjerumus pada kenistaan dan tak dipandang baik oleh Allah SWT dan masyarakat.

Ibnul Qayyim menyatakan kata malu berasal dari kata hayaah (hidup), meskipun ada ulama lain yang menyatakan malu berasal dari kata al-hayaa (hujan). Al-Junaid berkata rasa malu yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran sehingga menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan malu.

Hakikat malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak orang lain. Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut.

Halaman
12
Editor: Agus Tri Harsanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved