Dampak Perang Dagang AS vs China, Singapura Tinjau Kembali Pertumbuhan Ekonomi 2019
Singapura akan meninjau kembali pertumbuhan ekonomi 2019 yang sebelumnya diperkirakan antara 1,5 persen hingga 2,5 persen.
TRIBUNBATAM.ID, SINGAPURA - Singapura akan meninjau kembali pertumbuhan ekonomi 2019 yang sebelumnya diperkirakan antara 1,5 persen hingga 2,5 persen.
Peninjauan itu dilakuka oleh Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) dan Otoritas Moneter Singapura (MAS).
Hal ini diungkapkan Direktur Pelaksana MAS Ravi Menon, Kamis (27/6/2019) dalam konferensi pers untuk laporan tahunan bank sentral.
Menon mencatat bahwa ekonomi Singapura telah "jelas dipengaruhi" oleh perlambatan global di bidang manufaktur, perdagangan dan investasi.
• Song Hye Kyo Tak Kuasa Menghadapi Masalah yang Paling Memberatkannya, Ini Ungkapannya
• Hakim MK Tolak Dalil Kubu Prabowo-Sandiaga Soal PNS Tidak Netral, Alasannya Apa?
• Song Hye Kyo Menangis, Berat Badannya Sampai Turun 5 Kg, Masalah Ini yang Paling Memberatkannya
"Pertumbuhan PDB untuk tahun ini secara keseluruhan cenderung lebih lemah dari yang dibayangkan sebelumnya," katanya.
Ekonomi Singapura tumbuh lebih lambat 1,2 persen di kuartal pertama 2019 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya dan merupakan terendah dalam hampir satu dekade.
Indikator terbaru, terjadi kontraksi 9,3 persen pada ekspor domestik non-migas sejak awal tahun ini, menunjukkan bahwa pertumbuhan pada kuartal kedua "bisa lebih rendah", tambah Menon, sepeeti dilansir TribunBatam.id dari Channel News Asia.
Pertumbuhan pada paruh pertama tahun ini "terlihat cukup lemah, terutama di sektor-sektor yang terkait dengan perdagangan", sehingga MTI dan MAS kembali meninjau perkiraan 1,5-2,5 persen pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahun ini.
Menon mengatakan, perkiraan pertumbuhan setahun penuh saat ini didasarkan pada stabilisasi ekonomi pada kuartal ketiga 2019 dan melihat kenaikan moderat setelahnya.
"Tapi kekuatan pick-up ini, mengingat lingkungan eksternal yang lebih lemah dan konflik perdagangan yang sedang berlangsung, tidak mungkin untuk mengimbangi kelemahan di kuartal pertama," tambahnya.
Meski demikian, ketika ditanya oleh wartawan apakah perkiraan PDB akan direvisi berada di bawah kisaran saat ini, Menon mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakannya.
Perkiraan baru harus menunggu setidaknya sampai data ekonomi untuk kuartal kedua dikumpulkan sepenuhnya hingga Juli, tambah kepala ekonom MAS, Edward Robinson.
Menon mengatakan prospek ekonomi global telah memburuk dalam beberapa bulan terakhir, Dana Moneter Internasional menurunkan perkiraan pertumbuhan PDB global menjadi 3,3 persen.
Penurunan siklus elektronik global, efek keterlambatan dari deleveraging di China dan konflik perdagangan yang berlarut-larut antara Amerika Serikat dan Cina, semuanya berkontribusi terhadap kelemahan dalam manufaktur, perdagangan, dan investasi yang menjadi mesin pertumbuhan global.
Dari tiga faktor tersebut, konflik perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia, Amerika Serikat dan China, merupakan pengaruh terbesar melemahnya pertumbuhan global.