Kanal

Anak Punk Berkeliaran di Tanjungpinang. Ini Hukuman yang Disiapkan Walikota

Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah - ISTIMEWA/HUMAS PEMKO TANJUNGPINANG

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, TANJUNGPINANG - Walikota Tanjungpinang Lis Darmansyah menerima aduan dari masyarakat terkait keberadaan anak-anak punk di Kota Tanjungpinang.

Masyarakat mengaku resah dengan keberadaan anak-anak punk yang berkeliaran, mengamen dengan berpenampilan tak lazim.

Untuk itu, menurut Lis, Pemko Tanjungpinang akan menindak tegas anak-anak punk tersebut. Karena gaya anak punk bertentangan dengan budaya lokal.

Penindakan akan dilakukan dengan mengamankan anak-anak punk yang berkeliaran. Kemudian mereka akan diberikan pembinaan dan bahkan dicukur botak.

Lis menilai, langkah tersebut tergolong efektif untuk memberikan efek jera kepada mereka. Karena menurut Lis, bagi anak punk rambut mereka adalah identitas yang mereka junjung tinggi. Bahkan mereka lebih memilih di kurung dari pada rambutnya dicukur botak.

"Mereka kalau sudah dicukur botak itu tak keluar-keluar rumah sampai rambutnya tumbuh. Karena kalau mereka keluar malu, kalau kumpul sesama mereka nanti diejek," katanya, Senin (27/2/2017).

Dia menjelaskan, anak-anak punk yang berkeliaran tersebut bukanlah anak-anak beridentitas Tanjungpinang. Melainkan anak-anak dari luar daerah. Seperti Medan, Karimun dan Batam.

"Wajar saja masyarakat resah. Mereka ini nggak mandi-mandi, penampilan bertato. Sekarang sudah memeengaruhi anak Tanjungpinang. Satu, dua anak Pinang sudah ada yang ikut dan terpengaruh. Jadi akan kita tindak tegas ," katanya.

Menurut Lis, beberapa tahun terakhir ini sudah puluhan anak-anak punk yang dipulangkan ke daerah asal dari Tanjungpinang.

Bahkan karena anggaran yang minim, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kota Tanjungpinang terpaksa iuran untuk memulangkan anak-anak punk itu.

"Dana pemulangan itu minim. Jadi kadang kita SKPD patungan. Kita pulangkan sampai ke Medan," katanya. (*)

Penulis: M Ikhwan
Editor: Tri Indaryani

Anjing Milik Korban Pembunuhan di Bekasi Tak Mau Makan dan Menangis, Pakar: Bisa jadi Saksi

Berita Populer