Kanal

Delapan Warga Tarempa Tidak Bisa Pulang. 'Dari Pesawat, Saya Sempat Lihat Kapal Ferry'

foto ilustrasi.Calon penumpang kapal ferry Anambas-Batam yang menunggu kapal Blue Sea Jet. Sejumlah calon penumpang ini terpaksa balik arah ketika mengetahui kapal tidak bisa diberangkatkan dan bakal digantikan pada Selasa (3/7/2018) mendatang. - TRIBUNBATAM/Tyan

TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS - Niat penumpang maskapai komersil asal Tarempa dari Bandara Letung untuk bisa sampai di rumah harus melalui jalan panjang.

Delapan orang penumpang yang bertolak dari Batam harus menginap untuk menunggu pelayaran kapal ferry menuju Tarempa keesokan harinya.

Jon seorang penumpang mengatakan, dirinya sempat melihat kapal ferry saat pesawat hendak landing di Bandara Letung yang berlokasi di Desa Bukit Padi Kecamatan Jemaja Timur itu.

Baca: Takut Ketinggalan Kapal, Pemudik Sesaki Pelabuhan Batuampar Sejak Pagi

Baca: Minim Kapal Feri, Tiket Pesawat Anambas-Tanjungpinang Habis Terjual. Harga Tiket Rp 1,245 Juta!

Baca: Sempat Dikabarkan Terancam, Nasib Transportasi Anambas-Tanjungpinang Mulai Jelas. Ini Penyebabnya

Ia pun sempat mendapat informasi terkait kapal ferry yang menunggu mereka atau tidak.

"Kami sampai di bandara sekitar pukul dua siang. Lebih kurang satu jam perjalanannya. Memang nampak kapal ferry itu sekitar 100 meter mau sandar di pelabuhan saat pesawat hendak landing. Rupanya pas sampai di Pelabuhan Letung, kapal sudah bergerak sekitar lima menit yang lalu," ujarnya Senin (20/8/2018).

Ia bersama delapan orang lainnya pun, mau tak mau harus mengambil penginapan di Pulau Jemaja untuk melanjutkan perjalanan ke Tarempa keesokan harinya.

Menurutnya, perlu ada kesesuaian jadwal termasuk moda transportasi penghubung agar penumpang maskapai komersil dari Bandara Letung tidak berlama-lama seperti ini.

Hal ini yang menurutnya menjadi catatan bagi sejumlah pihak, termasuk Pemerintah Daerah.

"Yang menjadi poin penting mungkin seperti itu. Artinya selain kesesuaian jadwal antara pesawat dan kapal ferry, perlu juga moda antar penghubung. Saya niat naik pesawat ini, karena khawatir ombak kuat ketika naik ferry. Kalau menunggu kapal ferry, keesokan harinya. Sama saja kan," ungkapnya.

Andalan kapal ferry sebagai moda transportasi penghubung dari Jemaja ke Tarempa, sebelumnya disampaikan Kepala Dinas perhubungan dan lingkungan hidup Kabupaten Kepulauan Anambas, Andi Agrial.

Upaya untuk menghadirkan kapal pengubung, coba dilakukan dengan bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK), meski memiliki kapasitas angkut mencapai 22 hingga 24 orang.

"Untuk moda antar laut, sementara coba menggunakan kapal ferry terlebih dahulu. Untuk pembuatan kapal penghubung ini, Insya Allah akhir Oktober selesai. Memang hanya bisa memuat sedikit penumpang," ungkapnya.

Adapun untuk moda penghubung di darat, pihaknya memberdayakan empat unit mobil transportasi pedesaan yang ada di Jemaja. Seperti diketahui, penerbangan komersil dari Batam menuju Letung beroperasi selama tiga kali dalam sepekan, yakni pada hari Senin, Rabu dan Jumat. (*)

Penulis: Septyan Mulia Rohman
Editor: Ucu Rahman

Fenomena Air Terjun Sedudo Nganjuk Berubah jadi Hitam Pekat, Pengunjung Dilarang Mandi

Berita Populer