Kanal

Pemberian Vaksin MR di Anambas Kembali Dilanjutkan. Persetujuan Orangtua Jadi Acuan

Imunisasi Campak dan MR di SDN 006 Sekupang, Batam, Senin (6/8/2018). - tribun batam

TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS-‎Sebelumnya pemerintah daerah memberhentikan pemberian vaksinasi terhitung sejak Rabu (8/8/2018).

Hal ini menyusul adanya surat edaran dari Kementrian Kesehatan yang memerintahkan kepada tenaga kesehatan untuk memberikan seleksi kepada penerima vaksin dan tidak menggunakan unsur pemaksaan. Namun kali ini, Pemerintah kembali melanjutkan pemberian vaksin Measles dan Rubella (MR).

Herianto, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Kepulauan Anambas mengatakan, penegasan dilanjutkannya program itu dipertegas dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 33 tahun 2018 tentang penggunaan vaksin MR untuk keperluan imunisasi.

Meski telah dilanjutkan, namun pihaknya mengakui pemberian vaksin dengan sasaran anak ini tidak bersifat wajib. Pemberian vaksin bakal diberikan apabila orangtua menyetujui anaknya diberikan vaksin yang sempat menuai Polemik itu.

"Sifatnya tidak memaksa. Hari ini sudah jalan ke sekolah dasar yang ada di Antang Desa Tarempa Timur Kecamatan Siantan," ujarnya Senin (27/8/2018).

Ia pun mengklaim belum ada anak di Anambas yang terkena virus ini. Upaya pencegahan pun, menurutnya terus dilakukan agar virus tersebut tidak sampai menjalar ke Anambas.

"Pemberian vaksinasi ini lebih kepada bentuk pencegahan," ungkapnya.

Pemerintah Daerah sebelumnya memberhentikan pemberian vaksinasi ini terhitung sejak Rabu (8/8/2018). Hal ini menyusul adanya surat edaran dari Kementrian Kesehatan yang memerintahkan kepada tenaga kesehatan untuk memberikan seleksi kepada penerima vaksin dan tidak menggunakan unsur pemaksaan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan, pengendalian penduduk dan keluarga berencana Kabupaten Kepulauan Anambas, Islam Malik mengatakan, ‎dari data yang dihimpun, ada 12.695 anak yang menjadi sasaran vaksinasi ini.

Usia anak yang mendapat vaksinasi ini, berusia mulai 9 bulan hingga empat tahun yang dilakukan di Puskesmas maupun Posyandu pada September 2018, serta umur 4 hingga 15 tahun yang dilakukan di sekolah.

"‎Alhamdulillah, sejauh ini belum ada keluhan khususnya dari anak yang telah diberikan vaksinasi. Memang pemberian vaksin ini masuk ke dalam program nasional, mengingat penularan virusnya yang membayakan bagi Rahim ibu," ujarnya.

Baca: Tingkatkan SDM Generasi Muda, Danlanal Batam Lepas Peserta Pelayaran Lintas Nusantara

Baca: Tapping Box Tak Maksimal Genjot PAD, Dewan Usulkan Gunakan Sistem Online

Baca: Diduga Jatuh Dari Lantai Dua, Pemborong Bangunan di Kijang Meninggal Dunia

Terhitung sejak awal Agustus hingga 8 Agustus 2018, terdata 2.788 anak di tujuh kecamatan yang sudah diberikan vaksin. Yang menjadi kontroversi di masyarakat lantaran belum mendapat label halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu.

‎Islam Malik menjelaskan, anak usia 9 bulan hingga 15 tahun rentan tertulan virus rubella ini. ‎Biasanya, sebelum memberikan vaksin, anak-anak ini dilakukan screening untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Ia mengatakan, pengaruh pada fisik biaanya muncul ketika anak yang memiliki riwayat penyakit seperti demam, flu, batuk termasuk alergi obat.

"Oleh karena itu, sebelum melakukan vaksinasi, biasanya kami lakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Kami berharap, ‎agar Polemik mengenai hal ini bisa segera diselesaikan," ungkapnya.‎(tyn)

Penulis: Septyan Mulia Rohman
Editor: Zabur Anjasfianto

Viral Rumah Bohemian Rapsody di Blitar, Gaya Eropa dan Dianggap Mistis, Lihat Video Penampakannya

Berita Populer