Kanal

Tapping Box Tak Maksimal Genjot PAD, Dewan Usulkan Gunakan Sistem Online

Anggota DPRD Kota Batam, Udin P Sihaloho - TRIBUNBATAM/ARGIANTO DA NUGRAHA

TRIBUNBATAM.id, BATAM-Penggunaan tapping box dirasa kurang maksimal untuk menambah pendapatan Asli Daerah (PAD).

Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Batam, Udin P Sihaloho Kota Batam menyarankan agar Pemerintah Kota (Pemko) Batam membuat sistem online. Baik itu dari pajak hotel, restoran, kedai kopi, dan lain sebagainya.

"Buat sistem online dari sumber pendapatan kita. Baik itu dari pajak hotel, restoran, kedai kopi, banyak kebocoran sebenarnya terjadi kesini. Saya yakin kita bisa menggenjot pendapatan kita," ujar Udin kepada Tribun, Senin (27/8/2018).

Ia meilai dengan adanya tapping box dari 100 wajib pajak, itupun tidak seluruhnya maksimal. Namun DPRD Kota Batam meminta bukan model tapping box.

"Kita minta dengan sistem online. Contoh saya menginap di Jakarta, pajak yang saya bayarkan, mereka langsung potong 10 persen langsung ke Pemprov. Mereka sudah membangun jaringan atau aplikasi yang bisa langsung masuk ke Kasda (Kas Daerah)," paparnya.

Baca: Diduga Jatuh Dari Lantai Dua, Pemborong Bangunan di Kijang Meninggal Dunia

Baca: BREAKING NEWS. Indonesia Kembali Tambah 2 Emas dari Panjat Tebing beregu Asian Games 2018

Baca: Jokowi Bertemu Konglomerat Generasi Kedua. Ini yang Dibahas

Keuntungannya, lanjut Udin, dari sistem tersebut sudah ketahuan berapa tamu yang menginap setiap harinya. Sehingga kalau ketahuan berbohong maka dapat dijadikan temuan oleh KPK.

"Kita memang pelaporan sendiri. Kalau begini bisa saja tipu-tipu. Kalau online memang pakai perangkat dan kita kan cuma satu kali saja bayarnya untuk membeli alatnya. Alat online ini padahal bisa dianggarkan di APBD. Dan kita sangat setuju sekali. Tapi saya menilai Pemko tidak berniat untuk melakukan online itu," sesalnya.

Ia menambahkan contoh lainnya misalnya Morning Bakery, segelas air putih saja dijual dengan harga Rp 2 ribu. Artinya konsumen disana mengeluarkan uang Rp 200 untuk daerah. Belum lagi menu lainnya seperti roti, nasi, dan berbagai hidangan lainnya.

"Nah itu, kita mana tahu mereka setorkan tidak yang Rp 10 persen itu. Padahal kepada masyarakat sudah di potong," katanya.

Udin yakin omset penjualan di Morning Bakery itu sudah diatas Rp 10 juta perhari. Dan seharusnya sudah mampu membayar ke daerah Rp 1 juta setiap harinya. Belum lagi kedai-kedai kopi lainnya.

"Sementara kalau omset Rp 5 juta perhari itu sudah merugi. Belum lagi biaya menggaji karyawannya. Jadi tak mungkin," katanya. (rus)

Penulis: Roma Uly Sianturi
Editor: Zabur Anjasfianto

Video Detik-detik King Kobra Ditangkap Kurir JNE di Perumahan, Warga Mengaku Lihat Ada 6 Ekor Ular

Berita Populer