Kanal

Bingung Soal Transportasi Penghubung Antar Pulau, Dishub-LH Anambas Mita Sesuaikan Jadwal

Kapal perintis Sabuk Nusantara saat berlabu di Pelabuhan Anambas. - tribunnews batam/sm rohman

TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS-‎Sorotan kapal atau ferry tidak hanya diberikan oleh DPRD Kabupaten Kepulauan Anambas. Dinas Perhubungan dan Lingkungan Hidup (Dishub-LH) Kabupaten Kepulauan Anambas juga meminta agar kapal atau ferry dari Tanjungpinang-Anambas untuk mendukung penumpang maskapai komersil yang mendarat di Bandara Letung.

Seperti diketahui, moda transportasi penghubung untuk bisa sampai ke Tarempa sampai saat ini masih menjadi persoalan.

Penumpang maskapai komersil dari Batam ke Letung, terpaksa harus menginap selama satu hari untuk menunggu rute pelayaran kapal atau ferry keesokan harinya.

Karena waktu singgah kapal atau ferry di Letung ‎yang tidak pas dengan kedatangan penumpang pesawat. Hal ini pun diketahui sudah berlangsung sejak penerbangan perdana maskapai komersil tersebut pada 10 Agustus 2018.

"Sebelumnya kami sudah menyurati pihak managemen kapal atau ferry di Tanjungpinang untuk mengantisipasi hal ini. Namun, dari managemen kapal atau ferry belum bisa memenuhi permintaan itu," ujar Andi Agrial Kepala Dishub-LH Kabupaten Kepulauan Anambas, Rabu (29/8/2018).

Baca: Orang Sakit Terpaksa Tidur di Lantai, Warga Anambas Desak Pengelola Kapal Sediakan Ini

Baca: Dongkrak Tingkat Partisipasi Pemilih saat Pemilu, KPU Anambas Perbanyak Jumlah TPS

Baca: Minim perhatian Pemerintah, Film Produksi Anambas Coba Tembus Layar Lebar

Ia menjelaskan dalam surat itu, mereka meminta agar kapal atau ferry dapat menunggu penumpang lanjutan yang menggunakan maskapai komersil dan mendarat di Bandara Letung.

Pihaknya pun juga meminta kepada perwakilan managemen kapal atau ferry untuk memperlambat keberangkatan transportasi dari Tanjungpinang yang biasanya pukul tujuh pagi menjadi pukul delapan pagi untuk menyesuaikan kedatangan penumpang maskapai komersil.

"‎Namun mereka belum bersedia. Mereka tetap melakukan pelayaran sesuai jadwal yang selama ini sudah berjalan. Mereka tidak mau penumpang dari Tanjungpinang menunggu lama di Pelabuhan Letung termasuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan selama perjalanan seperti cuaca buruk," ungkapnya.

Tidak hanya moda transportasi penghubung yang menjadi persoalan. Transportasi penghubung darat yang selama ini beroperasi ‎melayani penumpang dari bandara ke pelabuhan juga menjadi hal yang menurutnya perlu diperhatikan. Angkutan transportasi pedesaan milik OPD yang dipimpinnya menurutnya memerlukan operasional agar bisa berjalan optimal.

Ia pun menyarankan agar ada solusi nyata agar persoalan moda penghubung ini dapat berjalan optimal. "Tidak bisa kami memungut biaya. Kecuali ada BUMDes yang mau mengelola atau pihak ketiga," bebernya. (tyn)

Penulis: Septyan Mulia Rohman
Editor: Zabur Anjasfianto

Beredar Foto-foto Awal Penemuan Jasad Korban Pembunuhan Sekeluarga di Bekasi, 2 Anak di Kamar

Berita Populer