Breaking News:

Yang Tersisa dari World Cup 2010 (2-Habis)

Berdandan ala Orang Afrika Selatan

Tibalah saat yang kami nantikan. Tepat tanggal 16 Juni 2010, kami berangkat ke Afsel melalui Bandara Ngurah Rai Bali menuju Thailand.

Berdandan ala Orang Afrika Selatan
Wiwit Tirayoh foto bersama supporter bola di Arika Selatan

Belum lagi penontonnya yang luar biasa tertibnya. Mereka sangat sportif, dan engggak ada yang berantem. Bahkan ketika keluar stadion, tidak ada yang dorong-dorongan. Mereka tetap antre dengan tertibnya. Apa reaksi para supporter saat saya ajak foto? Walah.. mereka ternyata juga minta kami foto. Intinya mereka semua narcis setiap saat kamera suami saya membidik mereka.

Dari sekian suporter dari beberapa negara yang saya temui, saya paling berkesan dengan suporter Italia. Saat timnya kalah,  mereka tidak marah marah. Mereka langung pergi meninggalkan stadion.

Para suporter yang kami kenal wajahnya cantik-cantik. Mereka yang duduk dekat saya pasti tahu kalau saya berasal dari Indonesia, setelah kami ngobrol satu sama lainnya. Bahkan, hingga kini kami berteman dengan mereka di Facebook. Ada lima orang yang masih berkomunikasi dengan saya. Mereka berasal dari Brasil, Kenya dan Afsel.

Untuk urusan makan saya tidak menemui kesulitan, karena kalau bosan makan di luar, saya masak sendiri di apartmen. Tentu, masakan Indonesia. Bahan-bahannya tentunya ada semua kecuali kemangi, daun serai dan daun jeruk tidak saya temukan di supermarket tempat saya belanja.

Ada cerita lucu selama berada di Afsel. Kami sempat nyasar di hari pertama ketika nonton ke Soccer City. Kami salah naik bus, dan sewaktu di dalam bus kami diberitahu bahwa kami tersesat. Sontak wajah kami lagsung berubah pucat dan tegang.

Saya cepat berpikir, pasti ada jalan pulang. Setelah turun dari bus, kami bertanya pada polisi. Walau sudah diberitahu juga, tapi kami tetap masih bingung. Lucunya, kami bergandeng tangan saling tarik. Suami mau naik taksi dan saya maunya naik bus karena Bus Reya Vaya adalah bis official. Jadi routenya sudah jelas.

Sedangkan kalau naik taksi saya khawatir akan diputar-putar. Akhirnya kami selamat tiba di apartmen. Hikmahnya, dengan pengalaman itu, kami akhirnya menemukan rute yang lebih dekat kalau akan ke stadion. Sengsara membawa nikmat... he.. he.. he....

Tanggal 2 Juli, kami akhirnya pulang ke Indonesia. Suami saya merasa senang sekali, apalagi bisa memotret beberapa moment dan wanita-wanita cantik dari beberapa negara. Kalau lihat di FB-nya, dia punya album the beauty of WC yang isinya foto-foto wanita dari beberapa negara.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved