Tinggalkan Kesan Tampilan Feminim

Gelarnya berderet-deret, Maklum, ia double sarjana (mechanical engineer dan naval architect)

Tinggalkan Kesan Tampilan Feminim
Namanya Henny Poerwanti. Gelarnya berderet-deret, Maklum, ia double sarjana (mechanical engineer dan naval architect). Saat ini menetap di Singapura dan bergerak di bidang konsultan perkapalan. Sekarang dipercaya menjadi engineering manager di Modec (pemilik FPSO terbesar di dunia). Berikut pengalaman Henny, wanita Indonesia yang jago mendesain kapal.

PERJALANAN karir saya di bidang Industri perkapalan dimulai sejak tahun 1992 di Kodja Bahari Jakarta. Pada waktu itu saya mendapat kehormatan dari Kampus Politeknik untuk mensupport GTZ. 

GTZ adalah sebuah lembaga milik pemerintah Jerman yang bertugas membantu negara-negara berkembang dalam memajukan negaranya.
Apa hubungannya GTZ dengan dunai perkapalan? Ketika itu Kodja Bahari menjadi salah satu galangan kapal terbesar kedua di Indonesia yang menerima project pembangunan kapal penumpang Gotland Vessel milik sebuah perusahaan Swedia. 

Awalnya, saya mulai bekerja sebagai desainer perkapalan (specialist machinery/kamar mesin). Padahal waktu itu saya belum lulus kuliah. 
Seingat saya, mereka yang dikirim dari kampus jumlahnya mencapai lima orang dan saya satu-satunya perempuan. Kehidupan yang keras mulai dari mengerjakan design, hingga turun kelapangan untuk inspeksi, lalu memberi petunjuk kepada para pekerja galangan sudah mulai saya rasakan sejak tahun 1992.

Sebagai wanita yang bekerja di dunia yang keras dan bisa menaklukkan kehebatan kaum Adam sungguh merupakan kebanggan dan kepuasan tersendiri. Bukan berarti saya tidak menghargai mereka, tetapi kemampuan otak, kemampuan dalam hal mengatur orang, bernegosisasi dan juga menyelesaikan berbagai macam problem di kantor maupun di lapangan merupakan tantangan tersendiri.

Contoh sederhana saja, ketika kuliah dulu, saya satu-satunya wanita dari 40 mahasiswa yang mengambil jurusan mesin kapal.
Enggak heran kalau saya selalu di nomor kancilkan alias selalu mendapat giliran akhir setiap kali melakukan praktek lapangan, praktek bengkel ataupun uji laboratorium. 

Dari yang saya ceritakan, intinya adalah kita (kaum wanita) harus bermental baja, pantang menyerah dan harus bisa berdiri sama tinggi dengan mereka kaum laki-laki.

Pengalaman dari Kodja dengan begitu minim fasilitas membentuk mental saya semakin bertambah satu lapis. Dari seorang yang pendiam dan feminim, tiba-tiba menjadi seorang yang sedikit agresif. Begitu kata ibu saya.
Agresif dalam arti, saya tidak pernah merasa takut dan kepercayaan diri otomatis selalu bertambah. Kerasnya hidup dan bekerja di Jakarta tidak membuat saya menjadi wanita yang gampang mengeluh dan juga putus asa.

Dan yang membuat saya sungguh bersyukur dapat bekerja ke Jakarta, waktu itu saya bekerja dengan insinyur dari Jerman dan saya mendapat banyak ilmu mengenai pekerjaan lapangan mulai design, inspeksi kapal, hingga pekerjaan lapangan (mengelas, memotong plat/ pipa, menyambung dan memasang ke kapal) menjadi bagian yang harus saya lakukan.

Wuihh, betapa tidak pada waktu itu saya juga satu-satunya wanita di Kodja Bahari galangan empat yang menyandang gelar diploma (masih belum ada insinyur wanita pada waktu itu di bidang perkapalan).
*** 
DARI Jakarta saya kembali ke kota di mana saya dilahirkan, Surabaya. Saya melanjutkan karier di bidang yang sama. Di sini prestasi saya banyak di belakang meja. Lebih banyak ke desain  daripada ke lapangan. Sejak itu saya mulai fokus pada design kapal, mulai dari kapal untuk kepentingan militer, kapal tanker, kapal kargo  (bulk carrier) hingga kapal penumpang.

Ketika mengerjakan kapal cargo,  saya mendapatkan kesempatan untuk berangkat ke negeri Belanda untuk mengikuti training. Kesempatan itu menjadi pintu kedua bagi saya untuk bisa melihat dunia luar. 

Tidak mudah untuk bisa berangkat ke Belanda, jika tidak karena kepala bagian saya yang pada waktu itu berjuang untuk membela hak saya. Mengapa? Sebenarnya, mereka yang akan dikirim adalah karyawan lain yang sama sekali tidak mengerjakan proyek ini. 

Kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa persaingan di dunia perkapalan adalah sangat kuat antara laki-laki dan wanita. Kami kaum hawa mungkin masih dianggap kurang mampu untuk menerima tugas atau tanggung jawab yang berat. Tetapi tentu saja Tuhan berkehendak lain dan itu patut saya syukuri.(*)
Editor: Madi Dwi Nando
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved