Antara Palestina dan Jodoh

Senin (23/8), saya memutuskan untuk salat isya dan dilanjutkan dengan salat taraweh berjamaah di Masjid Baitus Syakur Jodoh, Batam.

Antara Palestina dan Jodoh
Senin (23/8), saya memutuskan untuk salat isya dan dilanjutkan dengan salat taraweh berjamaah di Masjid Baitus Syakur Jodoh, Batam. 

MEMANG sudah lama saya niatkan untuk salat berjamaah di masjid tertua di Batam ini. Seperti ramadan sebelumnya, saya selalu safarai ramadan laiknya para pejabat di Batam.

Menggunakan sepeda motor tercinta, saya langsung menuju Baitus Syakur. Saya putuskan untuk wudlu di kantor karena sudah pasti di tempat wudlu masjid pastilah ramai.

Terlihat para jamaah mulai dari anak-anak, orangtua, laki, dan perempuan berbondong-bondong memasuki halaman masjid. Akupun memasuki Masjid Baitus Syakur dengan beberapa orang.

Setelah salat Isya, terasa ada yang ganjil. Kami langsung diarahkan untuk salat tarawih. Kok tidak ada khotbah malam ini? Biasanya setelah salat Isya, diselingi dengan khotbah sebelum salat taraweh.

Pertanyaan dalam benakku akhirnya terjawab. Ternyata akan ada khotbah dari Imam Besar Masjid Al-Aqsa, Palestina. Hmm gembira saya mendengarnya. Tidak lama kemudian akhirnya sang Syeikh tersebut menampakan diri bersama seorang penerjemah disampingnya. 

Berbalut baju gamis panjang warna putih, kopiah warna putih juga, nampak seorang bertubuh besar, dengan jenggot tebal putihnya mengucap “Assalamu’alaikum”, dan kami seluruh jamaah pun serentak menjawabnya “Waalaikumsalam”. Sungguh sang Syeikh nampak berwibawa, walaupun beliau sudah memasuki usia senja. Kami pun mendekat dan duduk setengah lingkaran kearaahnya.

Akhir aku baru tahu juga ternyata diatas dinding mighrab ada spanduk putih bertuliskan pengumuman, “Selamat Datang, Imam Besar Masjid Al-Aqsa Palestina, Prof. Dr. Syeikh Muhammad Mahmud Shiyam”. 
Dalam perkenalannya, Syeikh Muhammad sudah dua kali berkunjung ke Batam. Oya, beliau memberikan khotbah dalam bahasa Arab yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah.

Syeikh Muhammad pun berpesan untuk terus mendoakan saudara-saudara muslim yang ada di Palestina untuk tetap tabah dan tawakal menghadapi Yahudi.Yahudi telah membatasi kemerdekaan, dalam semua hal, mulai dari pendidikan, makanan, tempat tinggal serta kebebasan beribadah kaum muslimin di Palestina. 

Pria berjenggot putih tersebut menuturkan bagaimana anak-anak Palestina tetap bersemangat untuk pergi belajar walaupun bangunan sekolah tempat mereka belajar sudah dihancurkan oleh tentara Israel. 

Beliau mengatakan bahwa di Palestina tingkat buta huruf disana cuma ada satu persen.  Subhanallah sangat berbeda dengan kita di Indonesia. Dalam tekanan perang mereka tetap bersemangat belajar menuntut ilmu. Sedangkan di negeri kita yang aman, damai untuk belajar, mereka malah menyepelekan belajar, dengan cara membolos, hingga yang memalukan adalah tawuran, sungguh ironis sekali.

Syeikh pun bercerita tentang kondisi Masjid Al-Aqsa, mulai dari penggalian Israel yang membuat terowongan bawah tanah yang ditakutkan akan meruntuhkan bangunan Masjid Al-Aqsa. Penggalian tersebut beralasan ada kuil kaum Yahudi di bawahnya, sampai dengan aturan pembatasan jamaah yang boleh salat di dalam Masjid Al-Aqsa Palestina. 

Di Palestina, Israel membatasi jamaah yang boleh salat di Masjid Al-Aqsa hanya jamaah yang berumur 40 tahun keatas. Dengan aturan tersebut banyak kaum muslimin yang salat di sekitar area masjid. Namun mereka tetap ikhlas, tabah dan tawakkal, bersujud merendahkan diri seraya berdoa di hadapan sang Khalik.

Akupun berpikir dalam hati, betapa kaum muslimin di Indonesia yang begitu banyaknya, terkotak-kotak akibat para pemimpin ormas (organisasi massa) Islam di Indonesia kadang (atau malah sering?) selalu egois. Mereka lebih mengedepankan kepentingan golongannya dibandingkan kepentingan umat Islam semua. Mereka lebih suka menyalahkan dan memicu persoalan serta perbedaan, daripada duduk bersama dan mencari solusi. 

Akhirnya sebelum menutup khotbahnya, Syeikh mengucapkan terimakasih banyak atas kepedulian kaum muslimin Batam, khususnya jamaah Masjid Baitus Syakur Jodoh atas doa dan bantuan materiil untuk membantu saudara muslim di Palestina. Semoga Ramadan kali ini akan terasa indah dan berwarna dengan kepedulian dan silaturahmi sesama muslim untuk saling membantu dan meringankan beban kaum muslim. Amin.(*)
Editor: Madi Dwi Nando
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved