Teroris Berondong Polsek
Abu Tholut Lebih Hebat daripada Azahari dan Noordin
Mereka mengaku disuruh oleh Mustofa alias Abu Tholut yang sudah divonis 8,5 tahun dan mendapat remisi, lalu kemudian beraksi lagi
TRIBUNNEWSBATAM, JAKARTA- Kepala Kepolisian Jenderal Bambang Hendarso Danuri dalam jumpa pers di Markas Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Senin (20/9), mengatakan kelompok perampok Bank CIMB Niaga dipimpin Mustafa alias Abu Tholut.
"Mereka mengaku disuruh oleh Mustofa alias Abu Tholut yang sudah divonis 8,5 tahun dan mendapat remisi, lalu kemudian beraksi lagi," kata Kapolri.
Siapa sebenarnya Abu Tholut? Menurut Kapolri, Mustofa, mantiki atau pimpinan wilayah jaringan teroris Jemaah Islamiah untuk Aceh dan Sumatera Utara.
Penuturan Kapolri ini dibenarkan Farihin, aktifis Jemaah Islamiyah
(JI) yang sudah tobat. Menurut Farihin, Abu Tholut adalah senior bahkan
gurunya. Abu Tholut pernah menjadi mahasiswa kemudian menjadi guru
Akademi Militer Mujahidin
atau Akademi Itttihad Islami Afghanistan. "Dia angkatan kedua,
bergabung tahun 1987. Sedangkan saya angkatan kelima," kata Farihin
kepada Tribunnews.
Abu Tholut dikenal ahli bahan peledak dengan daya rusak tinggi atau
demolotion. "Beliau itu ahli bahan peledak. Dia bahkan gurunya Noordin M
Top, Azahari, Nasir Abbas
dan lain-lain," kata Farihin sembari menyebut, saat dia kembali ke
Indonesia tahun 1990, Abu Tholut masih mengajar tentang bahan peledak di
Afganistan.
"Awalnya dia aktifis Negara Islam Indonesia, kemudian bergabung ke
Jemaah Islamiah (JI). Bahkan dia menjadi petinggi JI, Ketua Mantiqi III
ya digantikan Nasir Abbas, Filipina. Dia juga gurunya Nasir Abbas," kata
Farihin.
Sepulang dari Afganistan, Farihin mengaku bertemu lagi dengan Abu Tholut tahun 1993 di Jakarta.
Kemudian tahun 1988-99, dan 2000 di memimpin pejuang mujahidin di Poso.
Karena terlibat peledakan Hotel JW Marriott tahun 2003, dia ditangkap
dan divonis penjara 8 tahun di LP Cipinang, tapi baru beberapa tahun
menjalani hukuman, dia bebas tahun 2008.
Setelah bebas dari LP, sejatinya, dia ingin berubah. Farihin
mengungkapkan, Abu Tolut sempat berubah sikap baik dan kooperatif kepada
polisi. "Terbukti, dia sempat menyerahkan beberapa pucuk senjata dan
puluhan ribu amunisi di Semarang," kata Farihin.
Belakangan, dalam perbincangan setelah keluar dari LP itu, Abu
Tholut menyatakan tidak ada dendam. Tapi dia hanya ingin bikin
organisasi, dan bergabung dengan Jemaah Anhosorut Tauhid, selaku Ketua
Laskar Militer. Organisasi ini dipimpin Abu Bakar Ba'asyir.
Menurut Farihin, Abu Tholut memiliki tiga paham dalam melihat
musuhnya, yakni melakukan pendekatan militer, pendekatan politis dan
budaya. Dari sisi mungkin pendekatan politik global, Abu Tholut melihat
Amerika yang memusuhi Islam, sehingga ia akan membalik, melawan siapa
saja yang dekat dengan Amerika. "Karena menganggap polisi dekat dekat
Amerika, apalagi Densus menghambat atau memusuhi mereka, maka polisi pun
diserang," kata Farihin.
Walau demikian, Farihin mengatakan tidak pernah melihat Abu Tholut
mengajarkan penggunaan senjata api. "Dia ahli di peledakan, demolition.
Dibandingkan Noordin, dia lebih ahli, karena dia senior. Guru- guru dari
semua orang itu,"" kata Farihin.
Menurut penuturan Farihin, Abu Tholut lahir Jawa Tengah, besar di Medan.
Ayahnya seorang perwira tinggi TNI, dengan pangkat Brigadir Jenderal.
"Keluarganya di Semarang, salah satu pamannya, alumni Afgan juga,
namanya Mohammaf Faiq alias Amar. Dia sama seperti saya sudah masuk
program rehabilitasi, dan sekarang sudah kooperatif dengan polisi,"
katanya.
Muhammad Faiq, kini mengembangkan usaha waralaba penganan.
Mengenai
sosok Abu Tholut, pengamat intelijen dan terorisme Dynno Cressbon
mengatakan, narapidana terorisme yang bebas dari LP Cipinang tahun 2008,
dia kelahiran Jawa Tengah, dan besar di Deliserdang, Sumut. Dia dikenal dengan pimpinan geng teroris Jawa Deli.
Tahun 1983, dia bergabung dengan Jemaah Islamiah pimpinan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir. Kegiatan dia dalam terorisme terbukti merekrut Asmar Latin Sani, asal Bengkulu, pelaku bom bunuh diri di Hotel Marriott, 5 Agustus 2003.
Dialah pendiri Abu Sayyaf
di Filipina Selatan, bersama Abdurrahman Algozi. Dia terhormat di
Filipina, dan pimpinan MILF kagum, dan apalagi Abu Sayyaf. Dia sangat
dikagumi aktifis JI. "Di Filipina dia menyerang pos-pos militer, dan
aksi itulah yang sekarang dilancarkan ke markas Polsek Hamparan Perak di
Deliserdang," kata Dynno.