Setahun Gempa di Ranah Minang (1)

Sempat Masak Mie Instan

SETAHUN sudah tragedi gempa di Ranah Minang terjadi. Namun peristiwa yang memakan ratusan jiwa

Sempat Masak Mie Instan
Istimewa
Ruziana

SETAHUN sudah tragedi gempa di Ranah Minang terjadi. Namun peristiwa yang memakan ratusan jiwa dan meluluhlantakkan kota Padang itu masih membekas dalam ingatan Ruziana. Ruziana yang kini tinggal di Tanjungpinang secara khusus berbagi pengalaman kepada pembaca Tribun Batam.

Satu persatu kenangan duka menari-nari dalam ingatan. Duka dan ngeri. Itulah yang saya rasakan saat menjadi saksi hidup peristiwa gempa di Padang, 30 September tahun lalu.

Setahun ini, saya menyimpan rapat-rapat dan tidak ingin menceritakan kepada siapapun. Namun saya rasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk menceritakan, meski belum semuanya mampu saya tuangkan kepada pembaca.

Sebenarnya tanggal 29 September 2009, pukul 17.00 WIB, adalah hari yang membahagiakan bagi saya. Setelah 10 hari pulang kampung untuk lebaran, keesokan harinya saya akan pulang ke Tanjungpinang untuk bertemu suami tercinta.

Sore itu di rumah lumayan ramai. Ada tiga orang adik saya, etek dan dan dua orang anaknya. Dua orang sepupu dan paman saya yang baru datang membawakan oleh-oleh untuk saya bawa ke Tanjungpinang. Sedangkan ibu dan ayah saya masih di pasar dan satu orang adik saya masih dalam perjalanan pulang dari sekolah.

Saya asyik berfesbuk ria dan ber sms dengan kawan-kawan mengabarkan rencana kembali ke Tanjungpinang, bercanda tentang oleh-oleh yang diminta mereka. Sedangkan anggota keluarga lain juga asyik menonton televisi. Bahkan cuaca yang agak mendung itu membuat adik saya, Revi berinisiatif membuat mie instans rebus di dapur.

Tiba-tiba, bumi bergetar. Berawal dari getaran kecil hingga terus membesar, serasa terguncang. Kami yang ada di dalam rumah berhamburan ke luar. Pekikan Allahu Akbar berulang kali serukan dan meminta ampun ketika goncangan itu makin terasa kuat. Saya sempat berpikir mungkin inilah kiamat dan akhir hidup saya.

Perlahan gempa reda. Suasana diam dan mencekam. Yang terlihat kemudian adalah pemandangan bagian depan rumah saya ambruk dan berlubang di sudut kamar depan. Lubang itu masih ada dan seolah menjadi saksi bisu kondisi yang mengerikan.

Saya hanya bisa terdiam, tak berani masuk ke dalam rumah. Dalam ketakutan dan kecemasan saya masih bisa bersyukur, rumah jerih payah Mak dan Ayah masih tegak berdiri, meski banyak rengkahan besar siap tumbang di sejumlah bagian rumah.

Sejumlah tembok juga miring dan siap jatuh jika terkena guncangan sekali lagi. Tapi, sekali lagi saya tetap bersyukur karena rumah itu masih berdiri tegak meski rusak berat di sana sini.

Bagaimana saya tidak bersyukur, menengok ke depan, samping dan kiri kanan, rumah tetangga, sanak famili dan warga lainnya, banyak yang rata dengan tanah. Mereka hanya bisa meratapi melihat rumah tempat berteduh kini tinggal atap yang rata dengan tanah.

Alhamdulillah untuk keluarga inti saya, tidak semua rumah yang hancur. Hanya rumah nenek, rumah beberapa orang sepupu ibu yang hancur. Namun kondisinya masih tegak alias tidak rata dengan tanah, meski intinya tak bisa lagi ditempati karena sejumlah ruangan sudah bolong.

Rumah dua orang adik ibu saya masih tegak berdiri meski hanya retak-retak kecil dan selanjutnya beberapa hari kemudian menjadi tempat pengungsian kami.

Kondisi ini makin saya syukuri, karena ribuan orang harus tinggal di tenda-tenda darurat, kedinginan dan kelaparan, karena ekonomi lumpuh dan tak bisa berbuat apa-apa. Hanya mengandalkan bantuan yang baru diterima pada hari ke-2.

Malam naas itu kami makan seadanya. Mie instant rebus yang sempat dimasak adik saya yang kami santap bersama dengan nikmatnya. Kami mengungsi ke pondok tempat adik ibu saya berjualan yang berada di depan rumahnya.

Sejumlah barang berharga yang bisa diangkat, kami pindahkan, khawatir akan ada gempa susulan. Listrik mati dan sinyal handphone lenyap. Kampung kami dan kampung lainnya bagaikan kota mati untuk beberapa hari.(bersambung)

Editor: Agus Tri Harsanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved