Musim Haji 2010

JCH Batam Salat Ghaib untuk Mentawai dan Merapi

Kabar bencana yang melanda Tanah Air mengangetkan para Jamaah Calon Haji (JCH) di Mekkah

JCH Batam Salat Ghaib untuk Mentawai dan Merapi
Tribunnews Batam / Istimewa
Surya Makmur
Laporan Langsung dari Mekah Surya Makmur Nasution

Kabar bencana yang melanda Tanah Air mengangetkan para Jamaah Calon Haji (JCH) di Mekkah, khususnya jamaah kloter I embarkasi Batam. Gempa dan tsunami si Mentawai serta meletusnya gunung Merapi di Sleman Yogyakarta mengingatkan kami pada kampung halaman. Untuk itu, kami pun melaksanakan shalat ghaib untuk para korban.

Pelaksanaan doa dan salat ghaib bersama dilaksanakan usai salat zuhur berjemaah di Kota Mekah, Kamis (2810). H Mustafa yang menjadi pembimbing kloter I memang telah mengumumkannya sebelum salat zuhur berjamaah dimulai.

"Bapak dan Ibu jemaah haji Kloter 1, baru saja kita menerima informasi telah terjadi tsunami di Kepulauan Mentawai dan letusan Gunung Merapi di Yogyakarta yang mengambil korban jiwa. Mari kita doakan bersama dan kita laksanakan salat gaib berjemaah,"kata Mustafa.

Sontak saja beberapa jamaah yang belum mendengar kabar itu kaget. Mereka langsung mengucapkan istigfar dan beberapa kalimat lainnya. "Astagfirullahal Azim, kapan kejadiannya," begitulah salah satu jawab jemaah setelah mendengar pengumuman singkat dari Mustafa.

Musibah tsunami dan gunung meletus di Tanah Air, belum begitu luas terdengar di kalangan jemaah. Informasi bermula dari berita portal online yang saya akses bersama seorang teman- teman yang kebetulan menggunakan handphone yang menyediakan fitur internet.

Termasuk juga memantau perkembangannya dari web Tribun Batam di www.tribunnewsbata.com.  Di Maktab kami, di kawasan Jarwal, tidak tersedia televisi sebagai media informasi. Sehingga informasi tentang perkembangan di Tanah Air tidak begitu diketahui. Ditambah lagi dengan kesibukan jemaah untuk urusan ibadah, sehingga jemaah banyak yang tidak mengetahui peristiwa di Tanah Air.

"Kapan kejadiannya, Astagfirullah," ucap jemaah perempuan dengan rasa ingin tahu. Jemaah yang umumnya perempuan paruh baya terlihat terkejut dan tak percaya jika tsunami kembali melanda negeri kita. Namun itulah kenyataannya, musibah telah mengguncang negeri kami saat kami sedang memenuhi panggilan ke baitullah.

Ketika doa dilantunkan usai salat ghaib, keheningan begitu terasa. Doa yang dipimpin oleh imam juga diamini para jamaah dengan penuh penghayatan.

"Lindungilah negeri kami dari bencana dan bawalah negeri kami dalam suasana
kedamaian. Berikanlah kemudahan-kemudahan dalam mengatasinya, dan jauhkanlah dari cobaan-cobaan yang kami tak dapat memikulnya," demikian Mustafa menambahkan kalimat dalam doanya.

Untuk mengetahui perkembangan informasi berita gempa dan tsunawi serta letusan gunung Merapi, sebagian jemaah mencari tahu dengan informasi dari mulut ke mulut antar sesama jamah. Dan tidak sedikit pula yang jamaah yang mencari kabar ke Tanah Air. Misalnya teman saya yang bernama Agus. Ia mengaku memiliki saudara di kawasan kaki gunung merapi. Namun tidak mendapatkan informasi tentang keberadaan saudaranya.

"Saya punya saudara di kawasan Gunung Merapi. Bagaimana para korban di sana? Semoga saja mereka selamat dari musibah," ujar Agus yang datang menanyakan kabar keberadaan di Gunung Merapai dengan mengunjungi kamar saya yang berada di kamar 305. Ia pun sedikit terpuaskan ketika beberapa info dari portal saya sampaikan kepadanya.

Di sini, di dalam perjalanan yang insyaallah diridhoi oleh Allah. Kami pun senantiasa untuk mendoakan negeri kita dan umat muslim khusunya agar terhindar dari bencana. Kami juga berharap agar rakyat kita tentaram, makmur, dan sejahtera. Istajibdu'ana ya Allah.

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved