Musim Haji 2010

Sarapan Pagi, Selalu ada Roti "Patira" Khas dari Mekah

Upaya tersebut tidak lain agar lidah kita tidak bergantung kepada selera makanan Indonesia saja

Sarapan Pagi, Selalu ada Roti
Tribunnews Batam / Istimewa
Roti Prata atau di Mekah Patira
Laporan Langsung dari Mekah Surya Makmur Nasution

TRIBUNNEWSBATAM, MEKAH -Mencoba menggantikan selera makan. Itulah upaya yang saya lakukan bersama teman-teman Kloter 1 Embarkasi Batam setelah 10 hari berada di Mekah ini. Upaya tersebut tidak lain agar lidah kita tidak bergantung kepada selera makanan Indonesia saja. Soal urusan perut ini, jangan dianggap remeh. Jika salah urus, bisa repot dibuatnya.

Yang muleslah, mag-lah, atau tak enaklah. Ini semua harus diatur dengan baik agar tidak jadi kendala ibadah.

Saya patut bersyukur. Tidak sulit sebetulnya mencari makanan ala Indonesia, seperti sayur tumis kangkung, ikan goreng sambal, telur rebus, sambal telur, tahu, tempe, pecel, bakwan, bahkan bakso. Setiap pagi, banyak pedagang kagetan yang asal Indonesia datang menawarkan jajanan untuk sarapan pagi. Bahkan, untuk malam hari pun tersedia.

Meski demikian, tidak selamanya menikmati makanan khas Indonesia menjadi pilihan utama. Sebab, cara memasak orang Indonesia (umumnya Madura) di Mekah, tidaklah selamanya betul- betul pas di lidah. Namun bagi saya, sebagai menu untuk menghilangkan kerinduan masakan Indonesia, makannya sudah cukup memadai.

Agar makan tetap punya variasi, saya dan seregu mencoba mulai membiasakan makanan yang dijual orang-orang Pakistan dan India. Tentu saja, makanannya akan mudah ditebak. Untuk sarapan pagi yang paling mudah dicari adalah "patira" atau roti perata atau canai. Masarakat Batam atau Tanjungpinang tidaklah asing dengan roti canai, tapi yang ini memiliki perbedaan.

Di Mekah, satu  roti "patira" yang bentuknya bulat lebar dan tebal dengan diamter hampir 40 centimeter ini, dapat dikonsumsi oleh 4 orang. Kalaupun ada yang lebih kecil bentuknya, tetap saja dikonsumsi sekurang-sekurangnya 2 orang.

Ditambah dengan bumbu kacang, atau kare daging dan ayam, membuat selera makan bertambah. Enaknya, roti "patira" ini memasaknya dibuat dengan cara dibakar dalam bara api yang besar, tanpa menggunakan minyak seperti halnya penjual roti prata Martabak Har Batam atau di Pamedan Tanjungpinang.

Harganya pun tidak mahal. Jika di Batam atau Tanjungpinang sepiring roti perata Rp 8.000, di Mekah satu "patira" hanya 1 Riyal atau Rp 2.500. Jika mau tambah kuah kacang yang dihaluskan cukup menambah 2 Riyal atau Rp 5000. Bagi orang Pakistan dan India atau Afganistan, roti "patira" dikonsumsai satu orang satu lembar. Bagi mereka makan satu patira sama dengan mengonsumsi dua piring nasi. Jadi, untuk makan siang atau malam pun menjadi hal biasa buat mereka.

Kalau pembaca menanyakan, bagaimana dengan makan siang atau malam? Yang paling mudah dicari adalah nasi Briyani. Ada yang dicampur dengan daging atau ayam. Per porsi harganya bisa 20 sampai 35 Riyal. Tetapi, seporsi nasi briyani dengan daging atau ayam ini dapat dikonsumsi oleh 4 orang.

Sehingga dengan uang 20 Riyal atau 35 Riyal sudah bisa dikonsumsi beramai-
beramai. Rasanya, insya Allah enak dan lezat. Kalau orang Arab seporsi untuk satu orang.

Bagaimana cara mengonsumsinya agar selera dapat disesuaikan? Pengalaman saya, misalnya, tak lupa berdoa terlebih dahulu. Karena kita berada di Tanah Haram, mintalah kepada Allah SWT agar lidah kita dapat menyesuaikan dengan cita rasa makanan yang ada di Mekah. Pengalaman beberapa teman yang belum apa-apa sudah menyebutkan tak selera dan tak cocok, biasanya akan mengalami kesulitan dalam memakannya.

Bahkan, jika tak berupaya memohon ampun dengan beristigfar kpd Allah SWT, selera makan akan terus terasa tak enak.

Begitulah di Tanah Haram, Makkatul Mukarromah, tidak ada yang musthil. Semuanya bisa saja terjadi. Spontan dan saat itu juga. Dan itu hanya kekuasan Allah semata sebagaimana firmannya "Kun fayakun". Wallahu'alam.

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved