lifestyle
Pevi Permana Jawara di Grand Opening Skate Park Batam
Pevi Permana Bintang Skateboard dengan Segudang Prestasi sempat Terharu Menyanyikan Indonesia Raya di Macau
TRIBUNNEWSBATAM, BATAM- Pevi Permana, pemain skaters kelahiran 25 Maret 1987 di Bandung, membuktikan kehebatannya sebagai pemain profesional kelas dunia.Di ajang kompetisi Grand Opening Skate Park Batam, Pevi keluar sebagai juara pertama tingkat open, kelas tertinggi di kompetisi itu. Dia mengalahkan sekitar 70 pemain lainnya.
Pevi sendiri tidak diragukan mempunyai segudang prestasi dan pengalaman baik nasional dan juga internasional. 5 kali memenangi juara kompetisi skaters tingkat nasional berturut-turut dari tahun 2005 sampai 2010. Ia juga telah mengharumkan nama bangsa dengan mendapatkan medali perunggu sebanyak dua kali di pertandingan Asian Games di Macau, 2007, dan Taiwan, 2010.
Pada 2010, Pevi menunjukkan bakatnya di ajang kelas dunia dengan mengikuti kejuaraan kelas profesional di Boston, Shanghai dan Korea. Di Boston, Pevi menggaet prestasi dengan berada di tingkat 25 dari 72 negara.
Pevi pun bercerita ke pihak Tribun, pengalaman ketika dia berkontribusi mengangkat nama Indonesia di Asian Games. Pevi mengaku tiba-tiba menangis saat mendengarkan lagu Indonesia Raya di negara orang. Menurutnya, memenangkan medali merupakan ingatan yang tidak akan bisa dilupakan.
Pevi memiliki alasan unik kenapa pertama kali ia bisa terjun ke dunia skateboard. Itu bermula sejak ia duduk di bangku 2 SMP. Pevi pusing mendengarkan teman sebangkunya bercerita tentang Skateboard setiap saat. Sampai temannya suatu hari memamerkan fotonya ketika bermain skateboard dengan aksi terbang di udara. Pevi pun terpesona. Dan mulai saat itu, Pevi pun belajar bermain skateboard karena keinginannya untuk bisa terbang seperti temannya.
Pevi, anak tunggal dari pasangan Ruchyat dan Evi, kemudian datang ke lapangan skate mencoba berlatih otodidak dengan meminjam papan skate milik temannya. Ketika berkali-kali mencoba, ia mulai tertarik bermain skateboard. Saat itu, ia meminta orangtuanya membelikan papan seluncur pertamanya.
Dan ternyata seumur hidup, hanya sekali Pevi mendapatkan papan skateboard dari orangtuanya. Saat berkiprah di Skateboard, ia selalu mengganti papan skateboard sekali setiap bulan. Ia pun awal bermain sudah mampu menggaet beberapa sponsor salah satunya merk Australia terkenal, Billabong. Dan sponsor-sponsor yang memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan Pevi dalam bermain skateboard.
Pevi juga mengalami pengalaman pahit ketika bermain. Beberapa kali, ia mengalami cedera patah tangan. Menurutnya, yang terparah adalah ketika kepalanya terjatuh yang membuat ia pingsan. Parahnya, ia juga mengalami amnesia singkat. Namun ini semua tidak membuat Pevi jera dalam bermain. Pevi menuturkan,
"Untuk skateboard gitu jatuh- jatuh sudah biasa, kalau menurut saya, kalau main skateboard tidak jatuh, tidak seperti main skateboard."
Meskipun Pevi sibuk berprestasi dalam dunia Skateboard sejak 2003. Tapi ia tidak lupa dengan persoalan pendidikannya. Ia mendapatkan beasiswa dari Departemen Pendidikan Nasional melanjutkan S2 di salah satu sekolah design di Bandung. Sebelumnya ia telah menyelesaikan tingkat S1 di Universitas Widyatama Bandung di bidang design grafis.
Pevi sangat mengagumi tindakan Pemerintah Batam yang peduli dengan anak-anak skaters. Di Bandung, lapangan skate pertama kali Pevi mencoba bermain sudah tidak ada lagi. Pevi pun terpaksa bermain di jalan atau ke luar kota.
"Saya sangat iri banget. Ya balik lagi ke tadi, saya udah mendapat medali, saya sudah membela kota dan negara sendiri, tapi tidak ada timbal baliknya".
Dengan fasilitas berstandar internasional, Pevi sangat yakin
dalam satu tahun akan muncul pemain skateboard handal di Batam.