Kecelakaan di Laut
Willy Tahu Apa yang Terjadi dengan Ibunya
Semenjak mendengar berita duka kematian ibunya, Willy, anak bungsu Meiry itu,..
BATAM, TRIBUN- Semenjak mendengar berita duka kematian ibunya, Willy, anak bungsu Meiry itu, nampaknya enggan berbicara banyak. Kalau ingin bicara, itu pun seperlunya saja. Lebih banyak dia mengangguk atau menggeleng-gelengkan kepalanya ketika ditanya.
“Dia sendiri sudah tahu. Saya sendirilah yang bilang ke dia mengenai berita ibunya ini,” ungkap Debora dengan suara pelan.
Selama Meiry ibunya bekerja di Tarempa , Willy selalu tinggal bersama Debora, oma-nya itu. Saking dekatnya Willy dengan Debora membuat oma dan cucunya itu saling memahami apa yang dirasakan.
Saat tiba rumah mereka, RT VI/RW 08 Kelurahan Kampung Baru, Debora sedang duduk di ruang tamu bersama beberapa ibu yang datang menghiburnya. Entah ke mana, ketika itu Willy sendiri tak ada bersama-sama dengan mereka.
Sesekali Debora mengenang cerita tentang Meiry kepada para ibu yang hadir menghiburnya. Pada bagian tertentu dari cerita Meiry yang membuatnya tak bisa menahan air mata, Debora pun menangis. Namun, dia cepat-cepat menyeka air mata dengan sapu tangan yang selalu ada di tangannya.
Entah siapa yang menggeraknya, Willy pun tiba-tiba datang. Dia langsung duduk di sampaing kiri Debora, yang wajahnya masih jelas terlihat lembam. Seakan-akan dia bisa merasakan apa yang sedang terjadi dengan oma-nya saat itu. Dia langsung memegang tangan kiri Debora sambil menatap lekat wajah oma-nya itu. Seperti dikuatkan, kesedihan yang terlihat pad raut wajah oma-nya itu perlahan-lahan tawar.
Ketika duduk di sebelah Debora, Willy berbicara seadanya saja. Beberapa oran g coba memancingnya untuk bisa bicara lebih banyak dan lebih banyak lagi. Namun, dia selalu menanggapinya secara dingin.
“Kelas 6 SD. Mau ikut ujian,” jawabnya singkat.
Namun, ketika ada yang coba menanyakannya soal cita-cita jadi polisi mengikuti ayah dan opa-nya, Willy tak bergeming. Dia hanya duduk menden garkan oma-nya yang menjawab.
Kendati demikian, Willy tahu apa yang terjadi dengan ibunya itu. Dia terlihat mengangguk-anggukkan kepada manakala oma-nya dan Yati, adik ibunya, menceritakan soal kematian oran g yang melahirnnya itu.
“Jadi, kematian kakak saya seperti itu, bukan terjadi karena masalah keluarga atau keuangan. Karena kami selalu saling membantu. Kami yakin sekali kalau dia tidak alami masalah pribadi atau keuangan. Mungkin dia banyak pikiran,” ungkap Yati kepada semua oran g yang ada di dalam ruang tamu.
Sekadar membandingkan, Yati pun memberikan contoh. Yati yakin, tidak hanya Meiry kakak-nya, seandainya salah satu dari oran g yang hadir di ruang tamu itu sedang mengalami kekalutan dan berdiri di atas kapal pun, dia pasti akan jatuh.
Usai Yati mengungkapkan contoh itu, Willy pun mengeluarkan sedikit suara. Dia seakan mengatakan apa yang dia mengerti soal saat Magrib di dekat laut.
“Yah, apalagi waktu itu Magrib,” ungkap Willy disertai anggukan.
Memang, setelah itu Willy tak lagi bicara. Dia juga hanya diam ketika ada yang menyalaminya untuk pulang. Meski tak mengungkapkannya lewat air mata, dari raut wajahnya yang selalu tenang, Willy terlihat sungguh merasakan kepergian sang ibunya itu.