Selasa, 28 April 2026

Ekspedisi Uang Lusuh di Pulau Terluar Kepri

Warga Tarempa Kekeringan Minyak di Atas Ladang Minyak

Keliling Kota Tarempa Hanya Butuh 10 Menit


Laporan Dedy Suwadha Wartawan Tribunnewsbatam.com


KRI TELUK SIBOLGA, TRIBUN-
Memasuki hari tiga atau pulau kedua yang dikunjungi tim  Sosialisasi Keaslian uang rupiah dan penelitian di Wilayah Pulau terluar di Kabupaten Anambas dan Natuna, tiba di Pulau Tarempa Ibukota Anambas. Kapal yang membawa rombongan berhasil sandar di Pangkalan TNI AL Tarempa, Rabu malam sekitar pukul 21.00 WIB malam, setelah menempuh 6 jam pelayaran.

Walau tiba malam hari, ternyata pasukan TNI AL dari Lanal Tarempa telah menyambut kedatangan Kapal KRI Teluk Sibolga hingga membantu proses sandar kapal. Dalam agendanya, kegiatan di Tarempa dijadwalkan Kamis pagi (21/7) yang difokuskan di Aula Pertemuan Pemkab Anambas dan Markas Lanal Tarempa. Bagi anggota tim yang pertama kali datang ke gemerlap sempat kagum karena menjelang tengah malam, lalu lalang kendaran roda dua dari kapal terlihat silih berganti.

Rasa penasaranpun mendorong seluruh anggota tim turun kapal untuk sekedar mengetahui kehidupan malam di Kota Tarempa. Rombongan dari BI langsung berkoordinasi dengan sejumlah kantor pelayanan bank yang membuka cabang di Tarempa, seperti dari Cabang BNI Tarempa, Bank Riaukepri Tarempa dan BRI Tarempa.

Hanya butuh beberapa menit jalan kaki dari kapal kearah kota Tarempa, romboangan lain mencoba mencari makan dan minuman panas di malam hari. Suasana yang diperkirakan malam hari sangat sepi, ternyata berbeda terbalik. Kota Tarempa malam hari itu seperti lesehan di Malioboro, dimana sepanjang toko-toko yang tutup malam hari dipenuhi orang-orang minum kopi dan menyantap hidangan malam hari. Bahkan, untuk mendapat tempat duduk saja tim sempat antri.

" Oh yang datang duduk dan mengopi malam ini kebanyakan warga dan anak buah kapal. Sepanjang malam ramainya seperti ini, tapi dibatasi hingga pukul 12 malam saja. Sebab, setelah pukul 12 malam semua aliran listrik akan mati, kecuali warung yang ada generatornya,"ujar seorang penjaga warung menceritakan.

Diceritakan juga, kota Tarempa ini tidak luas. Kalau naik sepeda motor keliling kota hanya butuh waktu sekitar 10 menit saja. Luas kota Tarempa itu jika diambil titik tengah Kantor Camat yang kini jadi Kantor Bupati, yaktu  ke sisi kanan pulau sejauh 500 meter dan sisi kiri pulau kurang dari satu kilometer. Kalau mau bangun kota, mungkin tidak bisa lagi, karena semua gunung yang terlihat adalah gunung batu. Sedangkan, kearah kanan yang ada satu kampung lagi, tidak bisa dibuat jalan darat, dan pemerintah terpaksa membangun jembatan. Dulu tujuannya, agar warga Tarempa ke Pal Matak yang ada bandara udaranya, bisa lebih dekat menyeberang, tapi tetap saja tidak bisa dibuat jalan darat,"papar seorang warga lagi menceritakan Tribun Batam.

Kondisi ini, menjawab rasa penasaran Tribun Batam ketika mendengar curahan hati warga Kecamatan Jemaja, tempat pertama kali tim melakukan sosialisasi. Menurut tokoh masyarakat Jemaja waktu itu, seharusnya ibu Kota Anambas di Kecamatan Jemaja, karena dari dataran lebih banyak serta kini telah ada pengerjaan bandara udara.  "Yang menyusun dan menetapkan ibukota tokoh masyarakat dari Tarempa, jadi kita di Jemaja tidak bisa buat apa-apa. Sekarang, kita mengetahui dana APBD Anambas hampir 1,4 Triliun, tapi mau bangun apa di Tarempa kalau lahan tidak ada,"ujar Umri tokoh masyarakat Jemaja ke Tribun, pada hari Selasa (19/7)

Terlepas dari panasnya suhu politik di Kabupaten Anambas ini, tim mencoba menikmati suasana malam berbaur dengan warga. Hanya malam hari bisa warga berkumpul, ketika lampu dan hiburan televisi bisa disaksikan bersama. Sebab, siang hari aliran listrik tidak menyala ke masyarakat.

Setelah istirahat malam di kapal, akhirnya tim memulai kegiatan serupa di Kota Tarempa. Acara dihadiri oleh Wakil Bupati Anambas Abdul Haris dan Danlanal Tarempa Letkol Yusuf. Sementara ketua tim juga dihadiri Letkol Bambang Winarto dari Lantamal IV TNI AL di Tanjungpinang, serta Hasioholan Siahaan, Pusat Analis Biro Pengedaran Uang BI.

Selain tujuan utama penukaran uang, kegiatan lainnya adalah sosialisasi keaslian rupiah juga mendapat dukungan penuh dari Bupati Anambas, yang diwakili oleh Wakil Bupati Anambas Abdul Haris. Bahkan, dalam acara sosialisasi pemerintah Anambas melibatkan hampir 280 calon pegawai Kabupaten Anambas. Keterwakilan ratusan calon pegawai, hendaknya mampu mensosialisasikan nanti ke keluarga apa dan bangaimana cara mengetahui uang kerta rupiah itu palsu atau tidak.

Abdul Haris mengungkapkan Kabupaten Kepulauan Anambas saat ini ada tujuh kecamatan, yang menyebar di sejumlah pulau- pulau yang semua berbatasan dengan sejumlah negara. Dengan tingkat keamanan yang relatif aman, sehingga kecemasan akan peredaran mata uang asing dan uang palsu dapat diminimalisi.

"Kalaupun ada transaksi keuangan itu dalam bentuk jual beli ikan keramba jenis Napoleon dari keramba di Desa Air Senang. Untuk ikan Napoleon ini telah ada pasarnya, dan itu berasal dari Hongkong. Mengenai mata uang yang digunakan ada mata uang dari Hongkong. Tapi, uang yang diterima masyarakat tetap rupiah,"ujar Abdul Haris.

Ditambahkan Abdul Hari lagi, permasalah mata uang dan ketersedian uang rupiah untuk daerah Tarempa tidak bermasalah karena telah ada tiga bank pendukung beroperasi. Ada bank yang ditunjuk sebagai kas daerah, tapi ada juga bank yang berfungsi hanya sebagai bank pengumpul uang masyarakat. Di Tarempa ada Kantor Cabang Pembantu Bank BNI, Bank Riau Kepri dan Bank BRI. Sedangkan, permasalah layanan bank yang tidak ada di kecamatan lain, juga terkendala oleh fasilitas pendukung akan kehadiran bank tersebut.

" Kita berharap ada pelayanan perbankan di daerah Kecamatan Jemaja. Tapi, keterbatasan pasokan listrik adalah masalah utama Kabupaten Kepulauan Anambas. Layanan listrik kemasyarakat hanya hidup mulai pukul 5 sore hingga 12 malam. Itupun tidak merata, karena ketergantungan solar.  Jumlah pasokan solar untuk tingkat Kabupaten hanya 200 ton saja. Melihat pertumbuhan penduduk yang mulai tertambah, jelas kuota ini sangat kurang, sehingga kita terus berusaha ke pertamina agar kuota ditambah. Sangat sedih, kita tinggal di daerah penghasil minyak, tapi masyarakatanya mendapatkan minyak harganya sangat tinggi, bahkan harga per liter bisa diatas Rp 10 ribu, belum lagi harga minyak di kecamatan lain di Anambas,"ujar Abdul Haris mengeluh.

Keluhan tingginya harga minyak, khususnya untuk premium juga disampaikan oleh seluruh masyarakat di Kota Tarempa dan Kecamatan Jemaja Tidak adanya fasilitas SPBU di daerah darat Tarempa, membuat warga membeli bensin eceran dengan harga diatas rata-rata dan ditambah ongkos pengiriman.

"Kami membutuhkan SBPU di Tarempa. Jika ada SPBU, maka akan berdampak pada turunnya harga jual kebutuhan pokok di masyarakat. Seperti contoh, harga satu botol bensin, dalam di minggu ke tiga Juli mencapai Rp 15 Ribu. Kondisi tinggi ini makin diperparah, dengan harga konsumtif masyarakat yang juga serba mahal. Sebagai contoh, harga minuman teh es mencapai Rp 5 Ribu per gelas, sedangkan makan dengan lauk secukupnya, bisa mencapai Rp 20 ribu. Harga ini sangat beda jauh dengan di Kota Batam dan Tanjungpinang,"ujar Epi, warga Tarempa yang baru pindah tugas dari Batam.

Anehnya, tingginya harga makan dan minum, tidak menyurutkan daya beli masyarakat. Ali, warga Tarempa menjelaskan usaha masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dengan hanya bernelayan. Selain itu, warga memiliki kebun kelapa yang mampu memproduksi berton-ton kopra yang dijual ke Ranai Natuna.

"Semua serba mahal di Tarempa. Ini semua dipengaruhi kekurangan BBM hingga mempengaruhi harga kebutuhan lainnya. Kalau kami ke laut, butuh solar, sedangkan harganya tinggi. Dampaknya, hasil tangkapan juga dijual tinggi,"ujar Ali usai menghadiri acara Sosialisasi yang digelar BI.

Untuk dampak ketidakstabilan pasokan BBM ini, berdampak pada upaya investasi di daerah Anambas. Kita terbuka dan membidik investasi pengolahan ikan di Tarempa. Tapi, kondisi kekurangan listrik sangat mempengaruhi. Oleh itu, bapak bupati terus mempromosikan dan potensi Anambas kesejumlah kota di Indonesia.

"Untuk PAD dihasilkan dari pajak migas, dengan angka APBD saat Anambas tahun 2011 dikucurkan berkisar hampir Rp 1,4 Triliun. Penyaluran APBD untuk pengembangan kecamatan dan juga pengembangan sarana di kota Anambas sendiri,"ujar Abdul Hari mengakhiri.

Transaksi Tukar Rp1,9 Miliar

Sementara itu, hasil operasi layanan kas, tim BI berhasil mengumpulkan uang lusuh, rusak dan tidak laku dari masyarakat dan tiga bank mencapai Rp 1,9 miliar. Nilai tukar hampir Rp 1 miliar lebih, terserap oleh tiga bank yang ikut serta dalam kegiatan. Tingginya antusias masyarakat  Tarempa akan penukaran rupiah karena persedian uang baru di sejumlah bank tidak lagi terpenuhi.

" Kunjungan di Pulau kedua di Kecamatan Tarempa, kita cukup kewalahan  melayani transaksi penukaran uang dari masyarakat Tarempa. Temuan kami, warga yang menukar uang adalah dari kalangan pedangan keliling hingga pegawai negeri. Hampir empat kotak uang rupiah tunai berbagai pecahan terpenuhi. Kondisi ini jelas kalau, kehadiran kami di Tarempa sudah diprediksi akan kebutuhan uang rupiah cetakan baru. Belum lagi, uang dengan kondisi rusak yang tidak laku pecahan Rp 100 sampai Rp 10000 lama masih ditemui, dan jumlahnya mencapai jutaan rupiah,"ujar T Faisal, Koordinator pelaksana Kegiatan dari Direktorat Pengedaran Uang BI Jakarta, Rabu (20/7) usai kegiatan.

Dijelaskan Faisal,  untuk warga yang dari pedangan pasar dan pegawai pemerintahan, rata-rata menukarkan uang juga berkaitan persiapan menghadapi bulan puasa dan lebaran Idul Fitri. Rata-rata nilai tukar uang perorangan kisaran Rp 500 ribu hingga Rp jutaan rupiah.  "Kita sengaja menukar dan mengambil uang dari bank yang ada di Tarempa, agar proses kerja lebih cepat. Jika kita layani satu persatu butuh waktu berhari-hari, dan tentu rencana perjalanan kita menjadi terundur,"ujar Faisal yang mewakili BI Jakarta.(dedy suwadha/bersambung)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved