Senin, 15 Juni 2026

Ekspedisi Uang Lusuh di Pulau Terluar Kepri

Mesjid Agung Ranai Natuna Terbesar Tapi Sepi Jemaah

Ekspedisi Uang Lusuh di Pulau Terluar Kepri (5- Terakhir)

Tayang:
Laporan Dedy Suwadha Wartawan Tribunnewsbatam.com

TRIBUNNEWSBATAM.COM, KRI TELUK SIBOLGA - Pulau Natuna adalah tujuan pulau ke empat yang wajib di singgahi. Untuk sampai di Ibukota Kabupaten Natuna ini, membutuhkan waktu hampir 10 jam perlayaran, dengan perhitungan, Kamis (22/7) sore pukul 17.00WIB dari Pulau Laut dan tiba di Pangkalan TNI AL di Sendanau Natuna, Jumat (23/7) dini hari.

Perasaan campur aduk, lelah dan lemas mulai terlihat diwajah-wajah tim BI yang telah melakukan perjalanan lauh lima hari empat malam. Karena tugas, tim tetap semangat karena masih tersisa uang senilai hampir Rp 1 miliar yang akan diperuntukan di Pulau Ranai dan Pulau Subi Natuna.

Setelah sarapan pagi, tim bersiap berangkat ke tempat lokasi sosialisasi di Kantor Bupati Natuna dan layanan kas keliling dipusatkan di Bank RiauKepri Cabang Natuna. Untuk menuju ke kantor bupati dibutuhkan  1 jam lebih perjalan darat, dengan rintangan berliku dan naik turun. Setelah melewati kawasan pendatang, atau transmigrasi suasana pergunungan berganti padang ilalang bekas kebakaran.

" Oh itu diatas bukit itu kantor bupatinya, besar juga. Tapi kok jauh dari pemukiman penduduk. Terkesan sekali daerah ini dana anggarannya besar, tapi tidak tepat sasaran, "ujar Gufron Albayroni, staf ahli anggota Badan Supervisi Bank Indonesia DPR RI.

Sambutan dari sejumlah pegawai Kantor Bupati dilakukan sederhana. Tim langsung mengadakan kegiatan sosialisasi setelah resmi dibuka Iswar Asisten II Bidang Ekonomi Kabupaten Natuna Karena hari Jumat, kegiatan sosialisasi uang rupiah hanya berlangsung 1 jam. Peserta yang hadir para pegawai bupati dan sejumlah tokoh masyarakat. Menariknya, belum lagi acara dimulai, seorang pegawai sigap mengumpulkan tanda tangan peserta. "  Tanda tangan 2 rangkap pak," ujar pegawai tersebut.

Diceritakan Iswar kalau Bupati Natuna sedang keluar kota, begitu juga dengan wakil bupatinya. Biasalah, suasana kerja memang seperti ini setiap hari, dan ditambah kalau hari Jumat, segala aktifitas kantor terbiasa tutup pukul 11.00 WIB hingga buka lagi usai makan siang selesai sholat Jumat.

"Bupati sampaikan salam karena sedang keluar kota. Terkait kegiatan dari BI ini, kami di Natuna sebenarnya telah terlayani dengan baik oleh sejumlah bank yang ada di Ranai. Tapi, kehadiran layanan kas keliling untuk penukaran uang bagi masyarakat tentu tetap ditunggu,"ujar Iswar dalam sambutannya.

Menjawab rasa penasaran sang Asisten, Tribun Batam mencoba berkeliling kantor Bupati. Ternyata, kantor Bupati yang sangat luas itu, sebelum pukul 11.00 secara bergantian ditinggalkan para pegawainya. Tidak terlihat aktifitas pelayanan masyarakat seperti layaknya kantor pemerintahan.

Satu satunya yang membuat tim penasaran, yaitu ingin sholat Jumat di Mesjid Agung Ranai, yang konon mesjid terbesar di Asia Tenggara, dan menghabiskan dana triliunan rupiah.

Timpun bergerak ke mesjid yang dimaksud. Rasa kagum sekaligus keheranan mesjid sebesar itu, masih terlihat sepi dari jemaah. Benar saja, usai khatib berkotbah, saat sholat Jumatan hanya terisi lima syaf saja.

" Kalau Jumatan, kadang ramai kadang tidak. Tapi, tidak penuh. Mungkin jauh dari pemukiman penduduk, serta jauh dari jalan raya. Ditambah, sudah ada mesjid kecil kecil lain yang dibangun masyarakat. Walau demikian kami bangga dengan mesjid ini," tutur seorang warga ke Tribun usai sholat Jumat.

Melihat kondisi ini, kritikan Gufron dan Syafrizal yang juga dari staf ahli Komisi XI DPR RI, kembali diungkapkan. Seharusnya, mesjid agung berdekatan dengan Kantor Bupati dan instansi pemerintahan lainnya. Inikan tidak, jarak mesjid dengan kantor bupati, hampir 30 menit lebih  perjalanan darat juga.

" Benar benar prestius minded" ujar Syafrizal disela makan siang bersama tim dengan sejumlah petinggi TNI AL dari Lanal Ranai.

Sementara itu, kegiatan layanan kas keliling BI tidak terlaksana maksimal, karena hujan mengguyur Kota Ranai. Walau demikian, dana hampir Rp 1 milar terserab di tiga bank yang ada di Kota Ranai. Tim pun memutuskan, pukul 16.00 WIB, kembali ke kapal KRI Teluk Sibolga yang merapat di Sendanau Ranai.

Hasil penelitian yang dilakukan tim survey dari BI didapat jumlah penduduk di Ranai sekitar 62 ribu orang. Sekitar 3.000 diantaranya PNS dan 6000  bekerja honorer Pemkab yang tersebar di 10 Kecamatan se Kabupaten Natuna. Sisanya beraktifitas sebagai pedangan sebanyak 25 persen, berprofesi sebagai nelayan dan berkebun 50 persen. Untuk pembiayaan pembangunan, pemerintah Kabupaten Natuna dianggarkan APBD sebesar Rp 1,6 triliun.

Menurut seorang pegawai Bank RiauKepri mengungkap kalau penyimpanan dana APBD Kabupaten Natuna untuk pembiayaan pembangunan disimpan di banknya. Sejak awal tahun dana masih ada, dan baru bulan ini diputuskan ada 40 lebih lelang proyek diputuskan, dan segera dikucurkan pendanaanya. "Baru minggu lalu diputuskan pemenang 40 proyek lebih. Mungkin bulan depan sudah mulai pembangunannya,"ujar pegawai bank tersebut.


Pulau Subi Berpotensi Perbankan

Setelah tim selesai berkemas dan naik kapal, sejurus kemudian Kapal KRI Teluk Sibolga bergerak menjelang magrib menuju pulau Subi Kecil yang merupakan pulau terakhir dari lima pulau terluar di wilayah Kepri. Jarak pulau Ranai dan Subi Kecil Kecamatan Subi Kabupaten Natuna ditempuh hampir 7 jam perjalanan. Beruntung ombak Natuna yang ditakutkan selama perjalan tidak dialami tim BI hingga pulau terakhir.

Letak Pulau Subi sendiri sangat dekat dengan Pulau Kalimantan, tepatnya Kalimantan Barat dan negara Malaysia. Setelah istirahat malam, Sabtu (23/7) pagi langsung di jemput oleh komandan pos Pulau Subi. Ternyata, selama kapal lego jangkar, jarak kapal dengan pulau sangat jauh sekali. Diperkirakan hampir 2,5 kilometer.

"Pulau Subi ini karangnya dari bibir pulau hingga ke laut dalam hampir dua kilometer. Jadi, kita tidak berani mendekat lagi,"ujar Mayor (P) Asep Budiman, Komandan KRI Teluk Sibolga, Sabtu pagi.

Sekitar pukul 09.30 WIB, tim akhirnya sampai di daratan Pulau Subi. Dengan membawa sekitar uang tunai Rp 100 jutaan, tim juga dibagi dua dimana sesuai kesepakatan, di Pulau Subi ditargetkan selesai hingga pukul 12.00 WIB. Waktu dipercepat agar jadwal pulau sampai di perairan Batuampar Batam pada Minggu Sore.

"Kita disini kerja cepat untuk menghidari tidak sampai Senin siang di Batam. Jarak tempuh di peta sekitar 36 jam perjalan, jika makin sore berangkat maka ketakutan tim yang akan berangkat ke Jakarta, Senin siang akan tertinggal pesawat,"ujar Faisal dari DPU BI dan Letkol Bambang Winarko dari Lantamal IV TNI AL.

Berkat bantuan pemerintah kecamatan dan masyarakat, layanan kas keliling mendapat bantuan kendaran. Sasaran kali tim mengunjungi seluruh warung dan minimarket di Pulau Subi Kecil dan sebagaian Pulau Subi Besar. Hasilnya cukup meyakinkan, rata-rata warga menukarkan uang dalam jumlah besar dan minimal Rp 300 ribu hingga belasan juta rupiah. Seperti biasa, proses layanan keliling mendapat pengawalan dari anggota TNI AL dari KRI Teluk Sibolga.

Tidak kalah serunya dengan tim layanan kas, acara sosialisasi menjadi harapan besar bagi masyarakat Subi agar ada layanan perbankan.

"Kami butuh bank, disini telah banyak minimarket ukuran besar hingga kecil. Juga ada penginapan dan juga banyak sarana umum lainnya. Satu-satunya belum ada bank. Warga binggung, ketika hasil panen ikan atau hasil panen ikan kering nilai mencapai jutaan, duitnya disimpan dimana. Kami yakin, kalau ada bank disini, pasti akan hidup, apalagi warga yang memiliki tabungan di sini dan menabung di Ranai hampir merata,"ujar Tri Didik, Staf Kecamatan Pulau Subi.

Karena dekat dengan Kalimantan, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atau berjualan di beli ke Pemangkat Kabupaten Sambas Kalimantan Barat, atau harus menempuh 18 jam perjalanan laut

Yusfinaldi dari perwakilan BNI wilayah Padang mengakut Pulau Subi berpotensi untuk pelayanan bank. Jika melihat pola kehidupan masyarakat yang konsumtif, tapi juga produktif BNI bisa mempertimbangkan. Hanya saja, masalah listrik yang hidup jam 5 sore hingga 12 malam patut menjadi kendala yang harus dicarikan solusinya.

Tepat pukul 13.00 siang, tim mulai bergerak menuju kapal. Rasa lelah selama ini mulai terobati dengan suksesnya ekpedisi uang lusuh yang digelar Bank Indonesia dalam uji coba kerjasama dengan TNI AL. Semua saling bersalaman dan berlomba-lomba menganti pakaian dengan pakain santai.

Tidak diduga, Komandan Kapal akan menggundang seluruh tim dan awak kapal untuk makan malam bersama, sebagai bentuk ucap syukur. Acara  malam syukuran diisi dengan penyerahan cidera mata kepada komandan kapal dan unsur dari DPR RI yang ikut dalam ekspedisi di haluan kapal.

Ditarik kesimpulan juga, kalau kegiatan ini bisa dilanjutkan jika memang BI memiliki tugas untuk menyumplay dan layanan kas keliling dengan jumlah miliar rupiah. Dibahas juga bagaimana sistem pelayaran yang harus dilakukan agar kedepan lebih nyaman.

"Kedepan kegiatan ini bisa dilanjutkan, dan khusus untuk pelayarannya, sebaiknya dimulai jalur terbalik, atau tujuan pertama adalah pulau paling jauh, agar semangat tim masih terasa. Secara kelembagaan, peran BI turun kelapangan seperti ini harus terus dilakukan. Selama ini, peran BI hanya kebijakan moneter, sedangkan perannya ke masyarakat terutama masyarakat pulau baru kali ini. Jadi, kita laporkan nanti kalau kegiatan bergaya ekspedisi bisa dilanjutkan, apalagi anggara BI naik hingga beberapan triliun tahun ini,"ujar  Gufron Albayroni, staf ahli anggota Badan Supervisi Bank Indonesia DPR RI.

Saran serupa menjadi kunci dari seluruh kegiatan yang dilakukan, dan disetujui oleh peserta tim. Sedangkan dari pihak Staf ahli Komisi XI menyatakan, kegiatan difokuskan juga pada pulau-pulau yang benar-benar banyak penduduk dan tidak ada pelayanan bank. "Kalau di Ranai, kayaknya salah sasaran, selain pejabat daerah kurang peduli, juga masyarakatnya merasa telah terlayani oleh pihak perbankan,"ujar Syafrizal menutup diskusi malam diatas kapal sambil persiapan menonton final bola Copa Amerika.

Dari pantauan Tribun Batam, kegiatan ini sangat bermakna terutama dengan jelas dapat melihat langsung kehidupan dan kebutuhan masyarakat pulau yang disinggahi. Jika selama ini ditutup-tutupi, maka dengan jelas terlihat apa yang dibutuhkan masyarakat. Semoga laporan dan catatan perjalanan singkat yang dibuat Tribun Batam dapat menjadi sedikit tambahan referensi pemerintah daerah dan provinsi untuk menyikapi perkembangan masyarakat di Pulau Terluar di Kepri.(dedy Suwadha)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
2 - 2
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
1 - 0
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
Live
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved