Saum Ramadan
DNSI Batam Nilai Angka Kemiskinan di Batam Terus Bertambah
Superman Tak Bisa Memberantas Kemiskinan
TRIBUNNEWSBATAM.COM, BATAM - Kemiskinan yang menjadi persoalan di negeri ini ternyata tidak bisa diselesaikan secara perorangan (superman). Melainkan harus melibatkan berbagai pihak. Inilah topik yang dibahas dalam acara Talkshow Tribun Batam di Mega Mall Batam Centre, Jumat (5/8) mulai pukul 17.00 wib hingga menjelang waktu berbuka puasa.
Pada kesempatan ini, Tribun Batam menghadirkan narasumber yang ahli di bidang zakat, Ir Bimo T Prasetyo selaku Direktur Operasional DSNI Batam dan moderator Candra P Pusponegoro. Secara tegas, Bimo menegaskan persoalan kemiskinan di Batam saat ini boleh dikatakan terus bertambah. Hal ini dikarenakan sistem perekonomian yang ada masih jauh dari apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad.
Namun demikian, dia sebagai salah seorang yang menggeluti bidang zakat, masalah kemiskinan ini tidak langsung bisa selesai dalam satu waktu. Perlu adanya kerjasama yang terus berkesinambungan antarelemen yang ada. Kerjasama yang harus disinergikan dari Pemerintah, swasta, atau lembaga-lembaga yang ada saat ini.
DSNI sebagai lembaga perzakatan dan lebih dari 12 tahun, hingga saat ini terus berkonsentrasi mengatasi kemiskinan. Salah satu pengentasan kemiskinan ini melalui program yang berkelanjutan. Misalnya dengan pemberdayaan sisi ekonomi, baik dengan pendidikan gratis ke jenjang lebih tinggi dan penyetaraan keterampilan terhadap orang-orang fakir atau miskin.
"Persoalan kemiskinan ini tidak bisa diselesaikan secara individu, tetapi harus berkelompok. Selanjutnya bersama-sama komitmen dan istiqomah dalam menjalankan program kerjanya," ujar Ir Bimo T Prasetyo disela-sela acara Talkshow, Jumat (5/8) kemarin.
Kemudian peran DSNI sebagai amil zakat, tidak hanya secara periodik membagikan zakat konsumtif kepada delapan golongan (asnaf) penerima zakat. Tetapi harus lebih dari itu, maksudnya dengan pemberdayaan terhadap mereka yang termasuk ke dalam golongan itu. Sehingga setiap tahun, angka kemiskinan bisa ditekan dan terus berkurang.
"Amil dituntut agar tidak hanya memberikan zakat secara konsumtif dalam bentuk uang, barang, atau beras. Tetapi mereka harus mampu memberdayakan potensi-potensi yang dimiliki si penerima (mustahik) zakat itu sendiri," tegas Ir Bimo T Prasetyo menambahkan.
Selama ini, dia mengamati masih banyak lembaga amil zakat yang melakukan seperti itu. Hal ini sangat dikhawatirkan, sebab justru akan menumbuhkan perilaku konsumtif bagi para asnaf. Untuk itu, perlu adanya suatu program pemberdayaan kepada masyarakat fakir atau miskin melalui pendidikan dan keterampilan. Jika ini digenjot dengan serius, kata dia, mereka bisa menjadi lebih potensial.
Bimo menjelaskan, seseorang yang dilahirkan di bumi ini pasti diberikan kemampuan (skill), itu berlaku bagi setiap individu. Maka dengan program pendidikan dan pengayaan keterampilan gratis tersebut, dipastikan mereka yang masih tegolong "miskin" bisa keluar dari kungkungan dan pola pikir yang konsumtif itu sendiri.
Dengan adanya bimbingan dari amil (pengelola) zakat terhadap mereka yang masih bergantung kesehariannya dengan zakat bisa diputuskan mata rantainya dengan cepat. Misalnya, si penerima zakat diteliti potensi dirinya, lalu dibekali modal yang cukup. Selanjutnya dalam pemberdayaan itu terus didampingi, niscaya kemajuannya akan meingkat drastis.
"Jika terus diberikan umpannya tanpa diberikan jala dan cara menjaringnya maka mereka akan seperti itu. Agar mereka bisa menjaring, tentu dibutuhkan bimbingan sesuai dengan potensinya masing-masing," imbuh Bimo T Prasetyo meyakinkan.
Selain itu, lanjut Bimo, semua elemen yang ada saat ini bisa bersinergi dengan tulus, ikhlas, dan komitmen yang baik. Sehingga ketika semuanya sudah bersatu padu, kemiskinan dan keterbelakangan akan segera tertangani. Namun jika masih mengedepankan 'ego' kelompoknya maka pengentasan terhadap masalah kemiskinan akan sulit tercapai.
Dia mengharapkan, semua lembaga amil zakat (LAZ) yang ada di Batam seyogyanya bisa saling bersinergi. Termasuk Badan Amil Zakat (BAZ), dia meminta, agar BAZ mampu menjadi suprvisor yang melakukan pengawasan terhadap lembaga-lembaga amil yang ada. Sehingga prateknya di lapangan tidak akan terjadi overlap atau salah sasaran. (tia)