Saum Ramadan

Surau Baeturachman Bergaya Klasik Jaman VOC di Bintan

Surau Baeturachman Bergaya Klasik Jaman VOC

Surau Baeturachman Bergaya Klasik Jaman VOC di Bintan
tribunnewsbatam/ muhammad ikhsan
Surau Baeturachman Bergaya Klasik Jaman VOC
Laporan Muhammad Ikhsan Wartawan Tribunnewsbatam.com


BINTAN, TRIBUN -
Saat melewati Jalan Berdikari menuju ke Kelurahan Sei Enam, sekilas kita bisa melihat sebuah surau dengan arsitektur klasik dipinggir jalan. Dari pinggir jalan ini pun hanya terlihat sebuah menara mesjid yang berada di tepi tebing, sedikit unik memang mengamati bangunan ini

Surau Baeturachman di Kelurahan Kijang, Kecamatan Bintan Timur ini tampak seperti surau yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda, apalagi menara yang dirancang mirip dengan gaya menara Masjidil Haram di Mekkah.

Gaya bangunan menara maupun surau ini seakan dibuat pada tahun sebelum kemerdekaan, banyak surau dan mesjid tua di Indonesia memiliki arsitektur serupa. Namun siapa sangka menara surau ini terbilang bangunan baru, yakni dibangun pada tahun 90-an, sementara surau Baeturachman sendiri memang sedikit tua dibangunan pada tahun 1969, tapi tidak setua yang dibayangkan.

"Banyak yang sangka surau ini dibangun pada jaman VOC, tapi tidak, surau ini dibangun pada tahun 1969. Yang paling baru justru menaranya, itu dibangun sekitar tahun 90 an," tukas Ijal warga setempat yang tinggal didepan surau

Tentang keunikan surau ini, Ijal mengatakan memang bangunan ini dibangun oleh orang-orang tua, sehingga bernuansa klasik layaknya surau dan mesjid tua di Indonesia. "Kalau nggak salah yang bangun menara itu namanya mbah Slamet, sekarang orangnya sudah meninggal. Memang dia jago membuat bangunan, cukup unik juga dia bisa bangun menara dipinggir tebing," sebutnya, Kamis (25/8)

Keberadaan Surau ini memang tidak sepopuler Mesjid Raya Kijang yang berada tak jauh dari lokasi ini, apalagi Mesjid-mesjid lainnya yang lebih representatif saat ini banyak terdapat di Kijang.


"Dana untuk merenovasi surau ini seadanya saja. Dulu pada awal dibangun halamannya seluas 6 x 7 meter persegi saja, sekarang udah beberapa renovasi ukurannya luas surau beserta halamannya bertambah 15 x 12 meter. Tapi memang banyak pengerjaan yang tidak rampung akibat keterbatasan dana tadi," sebut Ijal.


Pengecatan dan pola bangunan tiang pun terlihat kurang rata dan rapi, apalagi batu miring di depan surau tempat menaranya berdiri juga baru selesai sebagian, terasa jelas dana untuk renovasi surau ini terbatas. Mungkin ini yang membuatnya tampak seperti bangunan lama pra kemerdekaan (jaman penjajahan)


Tak banyak aktifitas pendidikan seperti TPA di surau ini, para jemaah menggunakannya hanya untuk shalat 5 waktu dan Tarawih berjamaah. Dulunya menurut Ijal, pendidikan TPA di surau Baeturachman banyak diisi oleh para murid yang berasal dari berbagai lokasi di Kijang, namun saat ini memang sudah jauh menurun dari tahun-tahun sebelumnya.


Surau yang mulai dibangun pada tanggal 20 Agustus 1969 ini menurut informasi merupakan sebuah bangunan yang dihibahkan. Saat Tribun mengunjungi bangunan surau, tak ada satupun pengurus yang berhasil ditemui. "Kebetulan garinnya juga lagi pulang kampung jelang lebaran ke Madura," sebut Ijal. (san)

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved