Peringatan Hari Pahlawan

Aliansi Pemuda Kepri Gelar Demo Terkait Pulau Berhala

Sebanyak 9 pemuda yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Kepulauan Riau merayakan Hari Pahlawan,

Aliansi Pemuda Kepri Gelar Demo Terkait Pulau Berhala
Tribunnews/ Wahyu Aji
Aksi Unjuk rasa terkait Pulau Berhala.
Laporan Thomlimah Limahekin, wartawan Tribunnewsbatam.com

Tribunnewsbatam.com, Tanjungpinang-Sebanyak 9 pemuda yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Kepulauan Riau merayakan Hari Pahlawan, Senin (10/11) dengan menggelar aksi dengan memasang spanduk di depan taman makam pahlawan Pusara Bhakti Batu V kota Tanjungpinang. Aksi ini digelar sebagai bentuk desakan mereka terhadap pemerintah provinsi Kepri agar sesegera mungkin mengambil langkah mempertahankan pulau Berhala.

"Aksi ini masih berkaitan dengan perjuangan mempertahankan pulau Berhala. Dahulu pahlawan kita mempertahankan kesatuan kepulauan Riau bahkan sampai mengorbankan jiwa dan raga. Karena itu kita minta supaya pemerintah lebih tegas mempertahankan pulau Berhala. Aksi ini lahir dari kekecewaan para pemuda," ungkap siswandi, seorang anggota aliansi, ketika diwawancarai Tribun.

Kekewaan tersebut justru lahir dari sebuah anggapan bahwa pemerintah Kepri terkesan tak serius mempertahankan pulau Berhala. Para pemuda itu menilai perjuangan yang sudah diretas selama ini lebih banyak berkutat pada teori dan belum menampakkan realisasi praktis.

"Kalau perjuangan dari jalur politis sudah digalahkan oleh mahasiswa, pemuda dan elemen masyarakat. Hanya saja perjuangan dari jalur hukum dan lobi ke pusat belum tampak terlihat dan terkesan hanya bual-bual saja," tandas Basyarrudi Idris selaku penanggung jawab aksi ini.

Basyaruddin yang kerap disapa Oom itu menilai bergabungnya pulau Berhala ke provinsi Jambi merupakan warisan dari kesalahan dari Badan Penyelaras Pembangunan Provinsi Kepulauan Riau (BP3KR).

Kendatipun demikian, gubernur HM Sani dan wakil gubernur HM Soerya Respationo yang tengah memimpin Kepri dituntut aliansi pemuda ini untuk tetap mempertahankan pulau yang sudah bergabung dengan Jambi melalui Permendagri nomor 44 tahun 2011 itu. Mereka bahkan menawarkan dua opsi untuk HM Sani dan HM Soerya: atau berhasil merebut pulau Berhala atau sebaiknya mengundurkan diri.

"Apabila gagal mempertahankan pulau Berhala, alangkah baiknya Sani dan Soerya mundur," tegas Oom sambil memperlihatkan pernyataan sikap Aliansi Pemuda Kepulauan Riau yang berisi desakan kepada HM Sani untuk segera menyurati DPRD Kepri agar memparipurnakan penolakan Kepmendagri nomor 44 tahun 2011 dalam tenggang waktu 5 x 24 jam terhitung dari Kamis (10/11).

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved