Breaking News:

Opini

Inilah Cara Jitu Agar Gedung Anda Bisa Murah Bayar Listrik

Pekan Efisiensi Energi di Batam

Inilah Cara Jitu Agar Gedung Anda Bisa Murah Bayar Listrik
tribunnewsbatam/ istimewa
Melany Tedja

Laporan Alfian Zainal
Wartawan Tribunnews.com, Batam

TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Bila dalam sebuah perusahaan, 40 karyawan mencabut saklar listrik yang tidak terpakai, setiap pulang kerja setiap hari, maka perusahaan itu akan menghemat Rp 5,9 juta per tahun.
Itu hanya contoh sederhana bagaimana keuntungan yang diperoleh perusahaan jika setiap orang bisa melakukan penghematan energi.

Contoh itu disampaikan Melany Tedja, Co-Team Leader Energy Efficiency in Industrial, Commercial and Public Sector (ENCOPS), Selasa (6/12) di Hotel Novotel Batam dalam acara Pekan Efisiensi Energi Batam. Acara ini digelar oleh Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE), Kementerian ESDM.

Masih ada contoh kecil lagi, yakni penggunaan AC ata alat pendingin ruangan. Setiap kenaikan atau penurunan suhu setiap satu derajat, berarti terjadi perubahan daya sekitar enam persen. Nah, bila penggunaan AC bisa maksimal, dengan menutup rapat seluruh sendi ruangan sehingga kedap udara, maka penggunaan suhu 24-25 derajat Celcius saja, dijamin ruangan akan dingin.

Tetapi, kenapa hal itu tidak diterapkan? Jawabnya adalah perilaku. Bisa jadi, akibat bangsa Indonesia selama puluhan tahun dimanja oleh ketersediaan energi yang besar serta disubsidi negara, maka perilaku boros terpelihara dalam setiap sendi kehidupan di negara ini.

Sebenarnya, kata Melany, banyak hal yang bisa dilakukan untuk melakukan efisiensi energi dengan hanya mengubah perilaku tersebut. Misalnya, bagaimana menghemat listrik dengan memperbanyak kaca pada ruangan dan memperbesar akses cahaya sehingga mengurangi penggunaan lampu.

Nah, tentu saja hal itu dimulai dari desain awal pembangunan gedung. Hanya dengan menambah investasi sekitar 15 persen, sebenarnya penghematan energi bisa dilakukan 35 persen lebih setiap tahunnya.

Konsep efisiensi dan konservasi energi ini sebenarnya sudah mulai dilakukan di Indonesia. Melany mencontohkan Bandara Ngurah Rai yang penghematannya bisa mencapai 30 persen. Bahkan, Kantor Kementerian ESDM bisa menghemat 40 persen.  "Bahkan, sebuah gedung tidak hanya bisa menghemat energi, tetapi juga memproduksi energi dan menjualnya ke gedung-gedung tetangga," kata Melany kepada Tribun di sela-sela acara.

Konsep ini dikenal dengan zero energy building. Di Indonesia, saat ini ada 21 pilot project di berbagai kota dalam program Eneggy Efficiency and Concervation Cleering House Indonesia (EECHI). Konsep ini dikembangkan Kementerian ESDM dalam program ENCOPS, bekerjasama dengan Pemerintahan Denmark.

Caranya, selain merancang gedung yang adem, terang-benderang dan hemat energi, juga bisa memproduksi listrik sendiri dengan mengganti kaca dengan solar panel atau panel listrik tenaga matahari. Gedung seperti ini sudah ada di Singapura dan Malaysia, seperti di Braddle Road, Singapura. Di Indonesia juga ada Green School di Bali yang bisa memproduksi sendiri energi terbarukan yang sehat.

Program hemat energi ini saat ini bahkan sudah menjadi bisnis baru yang cukup menarik di kota- kota besar dunia, termasuk Indonesia, yang disebut energy performance contract. Mereka datang ke sebuah perusahaan dan menawarkan pergantian peralatan listrik dfan pembenahan di gedung tersebut. Bila bisa melakukan penghematan dibanding tagihan listrik sebelumnya, kelebihan itu dibagi dua. "Misalnya hotel ini. Semua lampu dan peralatan listrik saya ganti. Bila hemat, maka selisihnya dibagi dua," kata Melany.

Masih banyak cara lain yang bisa dilakukan oleh perusahaan dalam pembiayaan efisiensi dan konsevasi energi ini. Saat ini, di perbankan juga ada pembiayaan green project.

Hasil penelitian menunjukkan, dengan program efisiensi dan konservasi energi yang terencana dengan baik, perusahaan atau induistri tidak hanya sekadar menjaga lingkungan yang sehat, tetapi sebenarnya bisa mendapat profit hingga 35 persen.

"Indonesia ini, bila mau mengembangkan EECCHI ini bisa menghasilkan energi setara dengan pemakaian energi di Eropa dan Amerika. Profitnya sangat tinggi. Masalahnya, siapa yang mau mulai duluan," kata Melany. (yan)

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved