Kelangkaan BBM

Hijazi: Nelayan Terpaksa Beli Pertamax

Kepala dinas perdagangan kota Batam, Ahmad Hijazi

Lapora TribunnewsBatam Abd Rahman Mawazi

TRIBUNNEWSBATAM.COM, BATAM - Kepala dinas perdagangan kota Batam, Ahmad Hijazi, mengaku sangat terpukul dengan kondisi kekurangan premium yang terjadi saat ini. Dalam pantauannya ke beberapa SPBU di Jodoh dan Nagoya, ia bertemua seorang nelayan yang terpaksa harus memeli pertamax untuk melaut.

"Malam ini saya keliling ke daerah Jodoh dan Nagoya. Saya bertemu dengan nelayan yang membeli membeli pertamax untuk melaut. Dia membawa jeriken," ujar Hijazi mengisahkan. Ketika ditanya mengapa membeli pertamax, si nelayan menjawab bahwa ia harus melaut untuk bisa menghidupi keluarga. Karena itu, walau pun ia tahu besok premium akan datang, ia tetap saja memilih untuk membeli pertamax malam itu.

Hijazi mengaku sangat terpukul melihat kenyaan itu, sementara dilain sisi masih banyak pengendara mobil-mobil mewah yang juga berebutan untuk mendapatkan premium. Bahkan, mobil-mobil dengan CC diatas 2000 pun masih mengantri untuk mendapatkannya, padahal dari mobilnya bisa dikategorikan pemiliknya adalah rang mampu.

"Saya lihat ini, warga nelayan saja memaksakan diri untuk membeli pertamax. Mengapa pengendara-pengendara Landcruse, BMW, atau mobil dengan CC diatas 2500 tidak sadar diri untuk tidak membeli bensin. Minimal paruh-paruhan lah. Kalau yang mampu tidak tetap ingin mengambil jatah warga yang tidak mampu, maka akan terus terjadi paradoksal di negara ini," ujar Hijazi dengan nada geram.

Ia mengaku tidak bisa berbuat banyak dengan kondii saat ini karena memang secara nasional BBM subsidi sudah tidak lagi mencukupi. Saat ini Dirjen Migas sedang meminta tambahan kuota dan membahasnya di DPR-RI. Selain itu, pengaturan premium tidak seperti solar yang jelas disebutkan dalam peraturan presiden.

"Kalau solar memang bisa dibatasi sebagaimana ng berlaku saat ini. Namun, tidak ada ketentuan dari perpres untuk pembatasan bagi pembeli premium. Hanya imbauan saja. Idealnya, memang ada pembetasan pemerintah dari sisi regulasi. Kalau tidak, maka akan seperti ini terus. Pengendalian dengan kartu fasilitas pun mentah dan gagal," ujarnya lagi.

Jika kondisi ini terus belanjut, maka 2012 akan lebih mengetatkan karena BBM subsidi ini dengan pembatasan agar tidak terjadi kelangkaan seperti sekarang ini. Ia memprediksi, dengan pertumbuhan kendaraan sebesar 11 persen maka keadaan akan semakin sulit, apalagi secara nasional akan ada pengurangan 3 juta kilo liter.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved