Pendidikan
Status Tak Jelas, Mahasiswa Universitas Karimun Mengadu ke Sani
Mahasiswa UK Mengadu ke Sani
Laporan Thomlimah Limahekin, Wartawan Tribunnewsbatam.com
TRIBUNNEWSBATAM.COM, TANJUNGPINANG-Menganggap perjuangannya di Karimun tidak membuahkan hasil, 5 mahasiswa dari Rescue Team Universitas Karimun ( tim penyelamat UK_red) memutuskan untuk bertemu gubernur Kepri, HM Sani, Rabu (28/3). Mereka meminta Sani supaya bisa menyelesaikan masalah yang mereka hadapi akibat belum terakreditasinya UK ini.
"Kami sudah berusaha di Karimun. Tetapi usaha kami itu justru terbentur sana sini. Makanya kami adukan nasib kami yang terkatung-katung di Karimun itu di sini, supaya bisa menjadi jelas," ungkap Maulinawati, ketua Rescue Team, mewakili kawan-kawannya Rima Auditya, Riska Aziawati, Hendra dan Lely Triana, usai bertemu dengan Sani, dalam sebuah konferensi pers.
Ketak-jelasan nasib yang dialami mahasiswa/i UK ini berawal dari pengetahuan mengenai status kampus UK yang belum juga terakreditasi. Ironisnya status UK tersebut baru terungkap pada awal 2012 lalu, sementara kampus ini sudah mulai berdiri sejak 2008 lalu.
Setelah menyelidiki lebih jauh,
para mahasiswa ini pun mengetahui secara lebih rinci mengenai kondisi
kampus yang berada di bawah naungan Yayasan 7 Juli itu. Mereka
mengetahui bahwa dari 14 program pendidikan (Prodi) yang ada di UK,
hanya ada 9 Prodi yang sudah mempunyai izin. Sementara, izin dari 5
Prodi lainnya belum dikeluarkan.
Kondisi tersebut tentu tak
diterima oleh para mahasiswa/i UK. Mereka beralasan banyak hal telah
dikorban mereka selama 3 tahun kuliah, seperti waktu, tenaga dan uang.
Namun, mereka justru mendapatkan ketidak-jelasan, bahkan di akhir masa
kuliah.
"Ada sekitar 700 mahasiswa dari fakultas ilmu politik (Fisipol) akan wisuda pada Juni mendatang. Kalau sampai Mei ini belum terakreditasi juga maka wisuda dari para mahasiswa itu akan terancam. Sementara bulan ini tinggal beberapa lagi saja," ujar Udin, pendamping kelima mahasiswa/i dari Rescue Team UK itu.
Tak hanya mahasiswa/i yang hendak wisuda, para mahasiswa/i lainnya pun merasa terancam akan status kampus seperti itu. Hampir semua anggota Rescue Team UK, saat ini sedang menyelesaikan tugas akhir. Ada yang sudah memajukan proposal skripsi dan ada juga yang menunggu ujian proposal.
"Namun, nasib kami akhirnya terkatung-katung karena ketidak-jelasan status kampus ini," tambah Maulinawati.
Menurut Rima Auditya, seorang anggota Team Rescue lainnya, sebetulnya sudah ada upaya oleh pihak rektorat untuk berusaha menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Pihak rektorat misalnya berusaha memberikan 3 opsi bagi para mahasiswa/i. Ketiga opsi itu adalah memindahkan para mahasiswa/i ke perguruan tinggi (PT) lainnya, memindahkan para mahasiswa/i ke PT lainnya kemudia kembali lagi ke UK dan memulai kuliah dari awal.