Pendidikan
Guru Terpencil Minta Perbaikan Rumah Dinas
Terpaksa gadaikan SK untuk bikin rumah
TANJUNGPINANG, TRIBUN- Di Cempa desa Pasir Panjang kabupaten Lingga terdapat sekolah yaitu SDN 005 dan SMP 009 Satu Atap Cempa. Semua tenaga pengajar di sekolah satu atap ini, baik PNS maupun honorer berasal dari luar daerah yang tentu saja membutuhkan tempat tinggal untuk dinas. Sedangkan penduduk setempat mayoritas adalah nelayan dan tidak tersedia rumah kontrakan untuk para guru tersebut.
Letak sekolah satu atap ini berada di pulau Cempa, sering dilewati para pejabat yang lalu lalang dari Tanjungpinang ke kabupaten Lingga menggunakan kapal laut. Bahkan di Pulau Cempa ini menjadi tempat persinggahan ferry dari Dabo Singkep ke Tanjungpinang dan sebaliknya. Dari ferry tersebut, sebagian penumpang turun di pulau Cempa kemudian meneruskan ke pulau pulau kecil di sekitarnya menggunakan pompong atau perahu.
"Rumah dinas ini sudah ada sejak lama sebelum saya mengajar di sekolah satu atap ini. Saya menempati rumah ini sejak mengajar di sini tahun 2003 hingga kini belum ada perbaikan padahal sudah bocor parah. Saya sebagai guru berharap ada tambahan pembangunan rumah dinas yang baru serta perbaikan yang lama," kata seorang guru PNS di sekolah tersebut yang tidak bersedia disebutkan namanya.
Diterangkannya, jika musim hujan maka harus menyediakan banyak ember dan baskom untuk menampung air bocor dari atap. Beberapa guru harus menggadaikan SK nya untuk membuat rumah di Pulau Cempa ini supaya bisa kumpul bersama keluarga. Guru yang belum menikah atau sudah menikah tetapi belum punya anak ada yang menumpang di rumah warga karena memang tak ada rumah kontrakan.
Guru tersebut mengaku tulus dalam pengabdian mengajar dan mendidik anak anak sekolah yang berasal dari beberapa pulau sekitar Cempa. Namun jika keadaan rumah tempat tinggalnya sudah bocor karatan karena sudah tua, seng kabur oleh angin dan sebagainya, bagaimana bisa mendukung konsentrasi para pengajar. Ketidaknyamanan tempat tinggal serta beban pikiran karena jauh dari keluarga dan tekanan hidup karena penghasilan pas pasan sering menguburkan ide ide kreatif dalam pengajaran.
"Seharusnya para pejabat di Kepri mengetahui kondisi sekolah satu atap di Cempa ini karena sering lalu lalang dari Tanjungpinang ke Lingga atau Dabo," terang bu guru tersebut.
Diakuinya, sebagai guru yang bertugas di pelosok mendapat tambahan atau tunjangan daerah terpencil yaitu sebesar gaji pokok. Tunjangan terpencil tersebut diterima tiap 6 bulan sekali dengan mengambil di Tanjungpinang, yang bisa menutupi kekurangan dalam keluarganya.
"Untuk mengambil uang tunjangan tersebut harus berangkat ke Tanjungpinang dengan biaya transportasi laut sebesar Rp 300 ribu per orang. Tambah lagi biaya penginapan, makan dan lain lain hingga keesokan harinya harus kembali lagi ke Cempa mengajar. Karena angkutan laut ini hanya ada sehari sekali," terang guru terebut menyampaikan keluhan kepada Tribun. (wid)