Kelangkaan BBM
SPBB Apung di Seri Kuala Loban Dinilai Rawan Penyelundupan
Ary Upayakan Komunikasi dengan BPH Migas
BINTAN, TRIBUN - Keberadaan Stasiun Pengisian Bahan bakar Bungker (SPBB) apung yang akan beroperasi di perairan Teluk Sasah, Kecamatan Seri Kuala Lobam (SKL) dikhawatirkan tidak berjalan efektif dan rawan.
Dari fungsinya, SPBB ini akan melayani kebutuhan solar subsidi bagi nelayan. Namun dari titik keberadaannya lokasi SPBB terbilang jauh bagi daerah-daerah yang mayoritas masyarakatnya bermatapencaharian nelayan. Di Teluk Sasah sendiri jumlah nelaan terbilang sedikit.
Kepala Bagian Perekonomian Setdakab Bintan, Ary Setya Dharma mengatakan, pihaknya akan mengupayakan koordinasi dengan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) terkait hal ini. Ary menjelaskan jika sebelumnya dalam penentuan titik SPBB ini, Pemkab tidak diikutsertakan.
"Yang menentukan titik lokasi SPBB pihak BPH Migas. Mereka yang punya kajian kesana. Dikhawatirkan kalau kita tolak pengadaan SPBB di lokasi itu, BPH bisa saja memindahkan ke daerah lain yang juga membutuhkan. Namun kami dari Pemkab sendiri memang mengakui lokasi tersebut tidak efektif dan rawan," ungkap Ary, Senin (16/4).
Ia menambahkan SPBB akan lebih efektif ditempatkan di Bintan Timur, Kawal atau di Tambelan. "Tujuan dan prioritasnya kan untuk bisa dimanfaatkan kapal-kapal nelayan," tambahnya.
Titik perairan Teluk Sasah sendiri memang agak rawan, disamping banyaknya lokasi industri di area ini, lokasinya juga akan sulit untuk diawasi. Dikhawatirkan solar subsidi ini mengalir ke industri.
Ary mengatakan pihaknya akan mengadakan pertemuan bersama instansi lainnya terkait isu ini. Apalagi jatah bahan bakar subsidi perbulan ke stasiun ini mencapai 500 Kiloliter. "kami akan coba cari solusinya bagaimana. Kami akan komunikasikan hal ini ke BPH Migas," ungkapnya
Dari informasi yang dihimpun Tribun di lapangan sejauh ini ijin operasi SPBB yang disebut-sebut dikelola oleh PT. Putra Barelang Sejati ini masih dalam proses. "Kalau gak salah belum ada ijin HO, berapa kapasitas literisasi juga. Jadi prinsipnya belum boleh beroperasi," ungkap salah seorang sumber Tribun di Disperindag Bintan.
"SPBB ini memang berada di perairan bebas yang kerap di lalui tangker-tangker. Kalau tidak diawasi ekstra, takutnya kita bisa kecolongan," tambah sumber tersebut. (san)