Tribun Corner

Mudik Nestapa

Mudik Lebaran Idul Fitri adalah tradisi tahunan masyarakat Indonesia yang sudah mengakar kuat.

TRIBUNNEWSBATAM.COM- Mudik atau pulang kampung menjelang Lebaran Idul Fitri adalah tradisi tahunan masyarakat Indonesia yang sulit diubah. Bagi masyarakat perantau dari berbagai lapisan masyarakat, merayakan Idul Fitri bersama keluarga di kampung halaman adalah sebagai suatu yang sangat penting maknanya.

Perjuangan untuk mudik tidaklah mudah. Mulai dari antre tiket --bahkan ada yang bermalam di stasiihn kereta api atau berebutan naik bus atau kapal. Suasana itu semakin repot karena mereka juga membawa keluarga serta barang-barang bawaan yang cukup banyak.

Beberapa tahun terakhir, karena sulitnya angkutan, trend mudik beralih dengan membawa kendaraan sendiri. Kelas menengah ka atas membeli mobil baru atau menyewa kendaraan atau rental. Sementara yang menengah ke bawah, pulang menggunakan sepeda motor.

Sayangnya, trend ini semakin membuat suasana mudik menjadi semakin berbahaya. Jalanan padat dan sangat rawan kecelakaan. Lihat saja, selama 16 hari Operasi Ketupat 2012 sebelum hingga pasca-Lebaran, Mabes Polri merilis, terjadi 5 233 kasus kecelakaan lalulintas di wilayah Jawa dan Sumatera, melibatkan 7 870 kendaraan," 

Dari peristiwa itu, korban meninggal dunia mencapai 908 orang, luka berat 1 505 orang, luka ringan 5 139 orang. Sedangkan  dengan estimasi kerugian materil Rp 11,8  miliar lebih.  Sebanyak 70 persen kasus melibatkan sepeda motor, yakni mencapai 5 634 sepeda motor. Sedangkan mobil penumpang atau kendaraan pribadi 1 188, bus 276, mobil barang 55, kendaraan khusus 13, serta kendaraan bukan kendaraan bermotor 101.

Angka ini sangat memprihatinkan kita karena dibandingkan dari tahun lalu, angkanya naik sekitar 17 persen. Tentu saja potensi naiknya angka kecelakaan di tahun-tahun mendatang juga akan semakin tinggi. Jumlah kendaraan bertambah banyak, sementara kemampuan jalan dan fasilitas kendaraan tidak bertambah, bahkan semakin menyusut akibat desakan pembangunan.
Terus tingginya angka kecelakaan semakin diperparah oleh buruknya koordinasi pemerintahan dan stake holder. Operasi Ketupat yang kita saksikan setiap tahun seakan dimonopoli oleh kepolisian semata, ditambah sejumlah perusahaan yang melayani pelanggannya.
Pemerintah seakan abai dengan kemacetan dan berbagai masalah transportasi ini. Padahal banyak kementerian yang seharusnya terlibat dalam penanganan mudik ini. Misalnya kementerian perhubungan,  kesehatan, PU, perdagangan, pemerintahan daerah, kesra, bahkan agama. Kemana mereka dalam penanganan mudik ini?

Tidak tampaknya mereka terlibat jelas karena masalah koordinasi yang seharusnya dibahas di tingkat kementerian, bahkan Istana Negara. Sebab, penanganan mudik ini lintas lembaga dan wilayah karena jalur mudik menyinggung banyak daerah.
Tradisi mudik sebenarnya bukan hanya milik Indonesia. Tahun baru Cina atau Imlek di Cina juga ada tradisi ini. Jumlahnya, seperti kata Wakil Ketua DPR Pramono Anung, jauh lebih besar dibanding di Indonesia. Tetapi, tradisi mudik tersebut juga diikuti oleh tradisi pemerintahan menyiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari.  Manajemennya sangat rapi.
Tetapi, apa mau dikata. Sepanjang tahun kita selalu menghadapi masalah yang semakin lama semakin menyesakkan, yakni transportasi. Indonesia termasuk negara yang transportasinya terburuk di dunia, juga termahal. Presiden SBY sendiri sudah berkali-kali mengungkapkannya.
Namun, sampai sekarang, tidak ada strategi yang lebih terukur dalam menyelesaikannya. Negara yang superluas ini semakin macet. Lautan yang luas juga tidak pernah dijadikan alternatif untuk mengatasi transportasi,. Uang hanya habis untuk membangun dan memperbaiki jalan, sarana dan prasarana angkutan darat. Kebodohan ini tak pernah berubah. (*)
Penulis: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved