Investasi
Kandungan Bauksit Lingga Melimpah, Baru Dua Juta Ton yang Diambil
Kandungan Bauksit Lingga Melimpah, Baru Dua Juta Ton yang Diambil
Tayang:
Laporan TribunnewsBatam, Abd Rahman Mawazi
LINGGA, TRIBUN – Setelah masa kejayaan timah sejak seabad
lalu, kini Lingga menjadi daerah potensial untuk penambangan bauksit.
Diperkirakan kandungan bauksit di bumi Lingga mencapai puluhan juta ton dan
saat ini baru terambil sekitar dua juta ton lebih oleh beberapa perusahaan
penambangan yang ada.
“Pak Suryono (PT TBJ) saja sekitar 80 jutaan. Lebih besar
dari 80 jutaan. Angka pasti tak bisa saya pastikan. Perkiraan gak bisa,” ujar Dasrul Azwir, Kepala
Dinas Pertambangan dan Energi kabupaten Lingga beberapa waktu lalu.
Saat ini, kata Azwir, ada enam
perusahaan yang melakukan
eksplorasi bauksit di Lingga. Sejak beroperasi perusahaan penambangan
tersebut,
ada sekitar dua hingga tiga juta ton bauksit yang telah diambil. Sebab
itu,
katanya, pemerintah sangat mendukung rencana PT Sinar Bahagia Grup untuk
pembangunan perusahaan beleburan biji bauksit atau smelter. Kandungan
bauksit yang melimpah inilah yang membuat PT Sinar Bahagia Grup ingin
membangun smelter di Lingga.
Dalam sosialisasi rencana pembangunan Smelter, Direktur PT
Sinar Bahagia Grup, Suryono, pihaknya akan segera melakukan aktivitas
penambangan kembali setelah terhenti beberapa bulan lalu. PT Telaga Bintan
Jaya, anak perusahaan PT Sinar Bahagia yang mendapatkan izin tambang bauksit di
Singkep menghentikan aktivitas tambang sejak ada peraturan dari pemerintah yang
melarang mengekspor biji bauksit mentah.
“Distop pemerintah sekitar empat bulan, kita sendiri baru
stop sekitar empat bulan. Jadi bulan ini sudah melai lanjut lagi,” kata Suryono
ketika ditemui usai sosialisasi rencana pembangunan smelter beberapa waktu
lalu.
Selama proses penghentian kerja tersebut, ia mengakui ada
beberapa karyawannya yang memilih berhenti bekerja dari sekitar 500 karyawan.
Namun, hal itu tidak menjadi kendala berarti dan saat ini siap untuk
menlanjutkan operasi. Suryono enggan menceritakan nilai kerugian dari
terhentinya ekspor bauksit sejak peraturan pemerintah berlaku.
“Gak usah cetitalah kalau masalah kerugian. Tentu banyak
kendala-kendala, satu kepercayaan menjadi hilang,” katanya. Meski demikian,
Suryono menyebut upaya pemerintah pemerintah mewajibkan adanya smelter di
Indonesia ini juga bagus karena bisa meningkatkan pendapatan negara. Ia pun
berharap agar pemerintah bisa menata kembali dengan lebih baik sehingga negara
memiliki nilai tambah. (arm)