Pendidikan
Indonesia Kekurangan Ahli Bedah Mulut
ndonesia hanya memiliki 285 ahli bedah. Padahal kebutuhannya minimal sebanyak 1.000 orang.
Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti mengatakan, pihaknya terus berusaha meningkatkan jumlah itu. "Pada 2014 diharapkan sudah sebanyak 3.400 ahli bedah mulut," ujarnya, Jumat, 16 November 2012, usai membuka Kongres Asian Association of Oral and Maxillofasial Surgeons (AAOMS) di Kuta.
Peningkatan itu untuk mendukung pencapaian target pemerintah yang pada 2013 menginginkan sebanyak 86,4 juta warga dapat terlayani untuk operasi bedah mulut dan maksilofasial. Pemerintah terus mendorong lewat pendidikan beasiswa untuk penyiapan mereka di beberapa kampus seperti UGM dan Unpad Bandung.
Selain itu, pemerintah daerah juga diharapkan memberikan beasiswa kepada putra daerahnya untuk menempuh studi menjadi ahli bedah. Setelah lulus, penerima beasiswa diharapkan bisa mengabdikan diri ke daerah masing-masing.
"Warga miskin dan sangat miskin berhak mendapatkan pelayanan medis termasuk untuk bedah mulut dan maksilofasial (celah bibir dan langit-langit, dental implant, infeksi, trauma, onkologis, sendi temporomandibular)," ujarnya.
Pada 2011sebanyak 76,4 juta warga telah mendapat pelayanan itu. Mereka yang mengalami gangguan pada mulut dan maksilofasial seperti kanker, dijamin mendapat pelayanan itu di tempat-tempat yang menjadi pusat program itu.
Di kawasan Asia, Indonesia termasuk negara yang dinilai maju dalam teknologi dan peralatan serta rehabilitasi bedah mulut dan maksilofasial bersama India dan Amerika Serikat.(TMP)