Hukrim
Boat Terbalik Di Simpang Jernih, Warga dan Guru Hanyut
Peringatan hari guru sepertinya ternodai tewasnya dua guru akibat buruknya fasilitas transportasi menuju sekolah.
TRIBUNNEWSBATAM, KUALA SIMPANG - Peringatan hari guru sepertinya ternodai tewasnya dua guru di Simpang Jernih, Aceh Timur akibat buruknya fasilitas transportasi menuju sekolah.
Boat yang ditumpangi para guru dari Kota Kuala Simpang, Aceh Tamiang menuju Desa Milidi, Aceh Timur terbalik di batu katak akibat boat tak mampu menerjang derasnya arus Sungai Smpang Jernih, Senin (26/11/2012) pukul 16.00 WIB.
Enam penumpang yang terdiri empat guru, tekong dan kernet boat hanyut, namun dua guru berhasil menyelamatkan diri dan empat lainnya dinyatakan hilang terseret arus.
Warga Simpang Jernih, Ajisah yang di hubungi Serambi, Selasa (27/11/2012) mengatakan, empat guru yang mengajar di SD Milidi berangkat dari Kota Kuala Simpang menuju Desa Milidi sekitar enam jam perjalanan menggunakan transportasi sungai. "Muatan boat awalnya tujuh orang, terdiri lima guru, tekong dan kernet,"ujarnya.
Sampai di ibu kota kecamatan Simpang Jernih sekitar pukul 16.00 WIB seorang guru turun di Simpang Jernih, sedangkan empat guru lainnya melanjutkan perjalanan ke Desa Milidi.
Sesampai di kawasan batu katak, warga sekitar menamai kawasan batu katak karena memang ada batu di tengah sungai mirip katak. Kawasan ini dikenal rawan disamping kiri kanan bukit berbatu dan sempit, arus sungai juga menanjak dan deras.
Sesampai dikawasan in, boat tidak sanggup melawan derasnya arus sungai yang menanjak, terlebiih kondisi air di Sungai Simpang Jernih meningkat karena hujan di hulu di kawasan hutan Aceh Timur dan Gayo Lues.
Akibatnya, boat tumpangan guru itu mundur ke belakang dan nabrak batu katak sehingga terbalik. Empat guru beserta tekong dan kernet hanyut namun dua guru berhasil menyelamatkan diri sementara dua guru lagi serta kernet dan tekong sampa saat ini belum di temukan di perkirakan tenggelam dan terbawa arus sungai.
SD Milidi di Kecamatan Simpang Jernih merupakan salah satu SD terpencil di Aceh Timur, satu-satunya jalan menuju ke sana menggunakan transportasi sungai Tamiang, setelah sampai Desa Milidi guru yang mengajar harus berjalan kaki lagi mendaki bukit selama satu jam menuju rumah sekolah. (Tribunnews)