Minggu, 7 Juni 2026

Sport

Puasa Ibunda Iringi Perjuangan Andik

Jumaiyah (68) Ibunda dari Andik Vermansah ini mengaku hanya bisa berdoa, saat putranya, malam ini (1/12)

Tayang:
TRIBUNNEWSBATAM - TAK ada yang lebih bernilai dari doa seorang ibu kepada anaknya. Dan hal itupula yang disadari oleh Jumaiyah (68).

Ibunda dari Andik Vermansah ini mengaku hanya bisa berdoa, saat putranya, malam ini (1/12), menjadi ujung tombak Timnas Indonesia untuk lolos ke babak semifinal Piala AFF 2012.

"Saya tidak punya firasat apakah Indonesia nanti bisa lolos atau tidak. Saya ini hanya bisa berdoa, mas," ujar Jumaiyah, ditemui Surya di kediamannya, Jl Kalijudan Taruna III, Surabaya, Jumat (30/11).

Jumaiyah mengaku tak pernah putus mendoakan Andik selepas salat lima waktu. Salat tahajud pun ia kerjakan tepat pukul 12 malam. Selepas salat, Jumaiyah selalu membaca ayat kursi sebanyak tiga kali.

Tidak hanya itu, ia juga mengerjakan puasa, tiga hari berturut-turut. Kebiasaan ini, ia lakukan setiap kali putra bungsunya itu akan bertanding membawa nama negara.

"Soal mengapa puasanya tiga hari itu ada maknanya. Ibaratnya, saya dan bapaknya Andik, mengapit Andik di tengah. Jadi, kami berdua seperti menemani Andik berjuang di lapangan," urai perempuan yang sempat bekerja sebagai buruh konveksi, ketika Andik belum menjadi pesepakbola profesional ini.

Menyantuni anak yatim, juga menjadi bentuk doa lain dari Andik. Pada Piala AFF kali ini, Andik sudah meminta ibunya untuk mengundang 30 anak yatim mengikuti pengajian di kediaman mereka.

Malah, kalah atau menang melawan Malaysia, lolos atau tidak ke babak semifinal, Andik sudah berencana melakukan hal serupa di tempat kelahirannya, di Desa Semboro, Jember.

"Tidak peduli apapun hasilnya, Andik ingin menyantuni anak-anak di desa neneknya," ungkap Jumaiyah.

Sebelum Andik berangkat ke Malaysia, Jumaiyah juga sempat memberinya doa khusus. Biasanya, ia meminta Andik duduk di depannya, lalu dibacakannya doa sambil mengusap rambut anaknya itu.

"Saya beri Andik air putih, yang sudah saya doakan," kata Jumaiyah, yang mengaku tidak pernah punya guru spiritual khusus selama ini.

Lahir Paling Susah

Andik kini memang menjadi tulang punggung buat kedua orangtuanya. Sang Ayah, Saman (68), mengaku, Andik sudah melarang mereka untuk bekerja.

Sebelum Andik menjadi pesepakbola terkenal, Saman menghidupi empat anaknya dengan bekerja sebagai kuli bangunan. Sehari, ia membawa pulang uang Rp 35.000.

Sementara ibunya, bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan konveksi. "Dulu, untuk makan saja rasanya sulit," kenang Jumaiyah.

Jumaiyah tak pernah menyangka, bahwa di pundak anaknya, kini ada harapan seluruh masyarakat Indonesia, agar Timnas bisa berprestasi di tengah masalah yang  merundung pesepakbolaan Indonesia.

Ia tak pernah menyangka, bahwa anaknya kini menjadi pesepakbola terkenal seperti saat ini.

"Andik itu dulu lahirnya paling susah, dibanding tiga kakaknya. Dia satu-satunya anak saya yang lahir dengan pertolongan bidan, sementara yang lainnya cukup dengan dukun bayi," kata Jumaiyah sambil tertawa.

Namun, Jumaiyah mengatakan, Andik dikenalnya punya tekad yang kuat untuk menjadi seorang pemenang. Ia mengenal Andik sebagai anak yang punya kemauan yang keras.

"Saya ingat betul, sewaktu kecil dulu, dia main di kompetisi junior Piala Campina bersama klub KSI (Kedawung Setia Indonesia, Red). Nah, waktu itu, di final, kalah dari IM (Indonesia Muda). Waktu itu Andik menangis sesunggukan di lapangan, sampai dia buang kaos dan sepatu sepakbolanya. Dia bilang, tidak mau main sepakbola lagi," cerita Jumaiyah.

Menurut Jumaiyah, butuh waktu lama untuk menghibur Andik kecil. Tapi, setelah itu, Andik malah menjadi sosok yang tidak mudah menyerah. Dan Jumaiyah pun kini berharap, agar putranya itu, tak kenal kata menyerah saat berjuang bersama Tim Garuda malam ini.(surya/Tribun Batam)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved