Breaking News:

TRIBUN CORNER

Tribun Corner: Akhir Langkah Gubernur Riau Rusli Zainal

Akhirnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Gubernur Riau menjadi tersangka korupsi.

Tribun Corner: Akhir Langkah Gubernur Riau Rusli Zainal
Tribunnews.com
SIDANG - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Gubernur Riau menjadi tersangka korupsi. Tidak tanggung-tanggung, KPK menjerat Rusli dengan tiga kasus sekaligus.
Akhirnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Gubernur Riau menjadi tersangka korupsi. Tidak tanggung-tanggung, KPK menjerat Rusli dengan tiga kasus sekaligus.

Pertama, dugaan menerima suap dari pihak swasta terkait pembahasan Perda PON agar anggaran sarana dan prasarana ditambah, kemudian memberikan suap kepada anggota DPRD Riau untuk kasus yang sama, dan yang ketiga, penyalahgunaan wewenang terkait pengesahan bagan kerja Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman (IUPHHK HT) 2001 2006.

Kasus pertama dan kedua saling berkaitan. Kasus ini terungkap setelah KPK menangkap tangan sejumlah anggota DPRD menerima suap dari pejabat Pemprov Riau menjelang PON 2012 tahun lalu. 

Agak mengherankan juga KPK lambat menetapkan Rusli sebagai tersangka. KPK rupanya juga ingin menjerat Rusli dengan kasus lain, yakni masalah perizinan kehutanan yang telah memenjarakan dua bupati di Riau.

Seperti diketahui, sejumlah pejabat Riau sudah divonis. Wakil Ketua DPRD Riau Taufan Andoso Yakin divonis 4 tahun penjara di Pengadilan Negeri Pekanbaru, 5 Februari lalu. Eka Dharma Putra, anggota staf Dinas Pemuda dan Olahraga Riau dan Rahmat Syahputra, anggota staf kerja sama operasi tiga BUMN (PT Adhi Karya, PT Pembangunan Perumahan, dan PT Wijaya Karya) juga sudah divonis.

Anggota DPRD Riau lainnya, yakni Faisal Aswan (Partai Golkar) dan Muhammad Dunir (Partai Kebangkitan Bangsa), dihukum masing masing 4 tahun. Sedangkan mantan Kadinas Pemuda dan Olahraga Riau, Lukman Abbas masih menunggu vonis.

Tujuh tersangka lain, semuanya anggota DPRD Riau, masih ditahan KPK di Jakarta. Mereka adalah Zulfan Heri dan Abu Bakar Siddik (Partai Golkar), Syarif Hidayat dan Rum Zen (PPP), Adrian Ali (PAN), Turoechan Asyhari (PDI P), serta Tengku Muhazza (Partai Demokrat).

Inilah akhir langkah Rusli yang sudah dua periode memimpin provinsi kedua terkaya di Indonesia tersebut. Selama ini, Rusli sangat sulit disentuh meskipun sudah banyak cerita soal kasus-kasus di Riau, terutama terkait masalah kehutanan. 

Bahkan, ketika pengadilan sudah memvonis bersalah mantan Bupati Pelalawan, Tengku Azmun Jafar, dan mantan Bupati Siak, Arwin AS, ada pesimisme bahwa Rusli akan lolos lagi. Padahal dalam fakta persidangan, para saksi menyebutkan peran Rusli dalam pemberian izin terhadap 10 perusahaan yang mendapat izin pada tahun 2004 lalu. 

Tetapi, kasus Rusli ini bisa jadi belum selesai karena informasi di persidangan menyebutkan adanya aliran dana suap PON 1 juta dollar AS lebih ke anggota DPR RI. Bila ini benar, tentunya kasus PON ini bisa menandingi besarnya kasus Wisma Atlet dan Hambalang yang mengobok-obok sejumlah politisi dan pejabat penting di Republik ini. 

Bila itu benar, sebenarnya tidaklah sulit mengungkap kebenaran informasi tersebut karena modus korupsi dan suap yang tertjadi selama ini sama saja. Ada permintaan, ada sangu yang harus disiapkan agar anggaran negara bisa turun ke daerah. 

Akan lebih heboh lagi bila aliran dana itu terbukti karena artinya, giliran Partai Golkar yang digoyang korupsi. Sebab, nama-nama yang muncul adalah para tokoh penting Golkar, seperti Setya Novanto, Kahar Muzakir dan Agung Laksono (Menko Kesra). Jadi, kita tunggu saja nyanyian di persidangan. (*)
Penulis: Alfian Zainal
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved