TRIBUN CORNER

Tribun Corner: Akankah Anas Urbaningrum Ditinggalkan Begitu Saja?

Apakah Anas memang akan dilengserkan atau tidak karena SBY hanya meminta Anas untuk fokus pada kasus hukum yang saat ini disidik KPK?

Prahara yang melanda tubuh Partai Demokrat sepertinya kian membesar sejak Ketua Majelis Tinggi Demokrat Susilo bambang Yudhoyono "mengambil-alih" kewenangan partai dari tangan Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum.

Hingga saat ini memang belum ada penjelasan resmi dari partai, apakah Anas memang akan dilengserkan atau tidak karena SBY hanya meminta Anas untuk fokus pada kasus hukum yang saat ini disidik KPK. Hal itu tak pelak menimbulkan multitafsir di tubuh Demokrat. 

Bisa jadi pernyataan itu menyiratkan agar Anas mundur dari partai. Tetapi, bisa jadi tetap memimpin partai, namun diberikan keleluasaan untuk tidak terlalu memikirkan organisasi tersebut. 

Pengambil-alihan itu agar organisasi tetap berjalan dan partai tidak kehilangan komando. SBY bisa mengerahkan pengurus lain untuk menjalankan berbagai urusan internal partai.

Hanya saja, bola panas terus membesar. Setelah SBY memimpin penandatanganan pakta inegritas bersama seluruh pimpinan DPD Partai Demokrat, pekan lalu, tafsiran yang muncul adalah, SBY meminta agar seluruh daerah loyal terhadap dirinya sebagai kekuasaan tertinggi partai. 

Hal ini menimbulkan kesan agar loyalitas kader partai tidak lagi kepada Anas, melainkan kepada partai dan SBY. Posisi Anas yang berada di pusaran arus korupsi Hambalang jelas tidak memungkinkan untuk terus dibela mati-matian oleh daerah seperti yang selama ini sering muncul. 

Hal ini tidaklah realistis dan menguntungkan untuk terus dipertahankan. Hal ini bisa dilihat dari elektabilitas Demokrat yang terus melorot hingga 8,5 persen. Padahal, partai itu pada Pemilu 2009 lalu, adalah pemenang Pemilu dengan perolehan 21 persen suara.

Anas tidak bisa berkelit bahwa anjloknya elektabilitas itu bukan tanggung jawab dirinya. Apa gunanya seseorang dipiluh sebagai ketua partai bila justru membuat partai tersebut memburuk. Sebagai pimpinan partai, Anas bisa dianggap gagal dalam menggerakkan organisasi: apapun masalah yang mendera partai tersebut.

Kini, angin berubah arah. Organisasi Demokrat kembali diurus oleh SBY, baik yang menyangkut hal-hal strategis hingga teknis. Bahkan, kabarnya, SBY juga akan melakukan perombakan organisasi mengingat hingga saat ini, perpecahan di tubuh partai tersebut sangat terasa. Lihat saja perseteruan Ruhut Sitompul dengan Anas.

Berbagai daerah pun mulai mengungkapkan sikap yang berbeda. Dalam rakernas beberapa waktu lalu, loyalitas terhadap Anas sangatlah tinggi. Namun saat ini, sejumlah pimpinan cabang di berbagai daerah juga menandatangani pakta integritas untuk mendukung ketua majelis tinggi partai.

Beberapa pernyataan pengurus daerah juga sudah berbeda dengan komitmen loyalitas terhadap Anas sebelumnya. Tidak ada satupun daerah yang berani mengungkapkan hal yang berbeda, kecuali mengikuti langkah SBY.

Apakah ini pertanda bahwa Anas mulai ditinggal? Tentu saja hal ini sebuah keniscayaan dalam politik kendati mekanisme pengambilalihan kewenangan partai yang dilakukan SBY ini bukanlah cara yang biasa dalam sebuah organisasi.

Namun demikian, mengingat berlarut-larutnya masalah di tubuh Demokrat, tentunya cara yang tidak lazim ini bisa saja dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Ibarat kata pepatah, bagaimana menarik rambut dari dalam tepung: rambutnya tidak putus dan tepungnya juga tidak berserakan.

Demokrat hanya punya waktu yang singkat untuk bekerja meyakinkan publik bahwa partai tersebut masih layak untuk dipercaya. Bagaimana mungkin hal itu bisa dilakukan bila wara-wiri Hambalang ini masih terus menyandera partai? (*)
Penulis: Alfian Zainal
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved