Rektor Unja: Kelebihan Pembayaran SKS Ya Salahnya Mahasiswa

Kelebihan pembayaran regristrasi D3 Fakultas Ekonomi Universitas Jambi, ditanggapi dingin oleh pihak rektorat.

TRIBUNNEWSJAMBI.COM, JAMBI - Kelebihan pembayaran regristrasi D3 Fakultas Ekonomi Universitas Jambi, ditanggapi dingin oleh pihak rektorat. Rektor Unja Aulia Tasman menyatakan itu adalah kesalahan mahasiswa itu sendiri yang tidak membayar sesuai aturan. 

Dia menyatakan semua pembayaran tidak ada hubungan dengan program namun langsung pada bank. Menurut Aulia dirinya belum mendapat laporan tentang persoalan ini. Kalau saja persoalan ini dilaporkan, maka akan bisa diproses.

"Bisa saja uang mereka dikembalikan, tapi sesuai dengan prosedur," ujar Aulia Tasman melalui telepon (Rabu 20/2/2013).

Aulia menyatakan, mahasiswa harus membayar sesuai beban SKS. Tidak mungkin terjadi kesalahan kalau mahasiswa itu membayar sesuai beban SKS-nya. 

"Mahasiswa itu bodoh, lihat temannya bayar 24 SKS, maka dia juga bayar 24," kata Aulia. 

Menurutnya semuanya sudah sesuai dengan mekanisme dan aturan Unja. Pembantu Rektor II Unja Zulkifli mengatakan dirinya telah mengkonfirmasi pada Dekan Fakultas Ekonomi. Dari konfirmasi itu disimpulkan, persoalan ini adalah kesalahan mahasiswa itu sendiri.

"Saya sudah marah-marah dengan Samsul Rijal Tan Dekan Fakultas Ekonomi, kenapa persoalan ini ada?" ujar Zulkifli. 

Dia juga mengatakan, akan ada tim khusus untuk memonitor persoalan ini. Zulkifli mengatakan, jika kesalahan itu terjadi diakibatkan oleh pegawai negeri sipil maka akan diterapkan sanksi administrasi sesuai dengan aturan kedisiplinan PNS. Dalam waktu dekat Kepala BAAKSI sebagai bagian administrasi mahasiswa akan dipanggil. 

"Pembayaran SKS bukanlah orang per orang, dan akan dikelola oleh kas negara," kata Zulkifli.
Zulkifli membantah, jika pembayaran SKS ada pemaksaan, dia mengatakan pembayaran SKS tidak ada paksaan dan mahasiswa itu sendirilah yang mengurus beban akademiknya. 

Mahasiswa Bantah Tidak Melapor 

Mahasiswa pemasaran program Diploma III (D3) Fakultas Ekonomi Universitas Jambi (FE Unja) angkatan 2012 membantah pernyataan Ketua D3 FE Unja Agus Syarif. 

Seperti dimuat Tribun sebelumnya, Agus menyatakan bahwa mereka tidak menerima laporan terkait kelebihan pembayaran SKS pada semester pertama, Agustus 2012 lalu.

"Kami disuruh bayar 24 SKS, ternyata kontrakan 22 SKS. Tidak lama setelah itu, kami langsung melapor kok. Katanya akan dikembalikan. Tapi setelah lama tidak ada kabar yah kawan-kawan milih untuk ikhlasin. Mau bagaimana lagi, kami belum satu tahun di sini," ujar seorang mahasiswa kepada Tribun, Rabu (20/2/2013). 

Untuk meyakinkan pernyataannya itu, mahasiswa inipun memperlihatkan bukti transfer senilai Rp 840 ribu untuk pembayaran 24 SKS kuliah semester pertama. Tidak cukup sampai di situ, ia pun menunjukan mata kuliah apa saja yang diambilnya pada semester pertama itu.

"Delapan mata kuliah, komputer dan Bahasa Inggris Cuma 2 SKS," terangnya. 

Diakuinya tidak banyak mahasiswa yang berani bertanya mengenai kelebihan pembayaran itu. Selain takut karena masih baru, respon dari pihak akademik kampus pun dirasa tidak bersahabat.

"Beberapa ada yang tanya langsung tapi jawabannya dilempar-lempar, tanya dengan bagian itu bagian ini. Tidak ada yang jelas. Kami karena baru ya diam saja karena tidak mengerti," katanya.
Mahasiswa lain pun juga mengungkapkan hal yang sama pada Tribun. 

Menurutnya dari awal memang tidak ada itikad baik dari kampus untuk menyelesaikan permasalahan kelebihan pembayaran ini.

"Ya tidak harus dikembalikan uangnya, dikurangi saja dengan biaya semester ini. Nyatakan tidak, malah kami dibilang tidak melapor. Begini saja, langsung saja cek, benar atau tidak bahwa kami ini membayar lebih untuk SKS semester pertama. Itu bukan kesalahan kami, karena kami cuma disuruh," katanya.

Ditanya apakah seluruh mahasiswa angkatan 2012 mengalami hal serupa, ia tidak bisa memastikan. Namun untuk satu kelasnya dipastikannya mengalami hal itu. 

"Kayaknya cuma kelas pemasaran karena kami ngontrak 22 SKS. Kami dua kelas. Sekitar 63 orang jumlahnya. Kelas saya 33 orang, semua mengalami hal itu. Kalau kelas Akuntansi atau Keuangan Daerah tidak tahu karena mereka berbeda. Ada yang ngontrak 23 ada yang memang 24," katanya. (tribun jambi/arn/rep)
Editor:
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved