TRIBUN CORNER

Perlukah Pasukan Densus 88 Turun Tangan?

Ancaman serius terhadap rasa aman publik, Presiden SBY menyatakan serangan itu juga menghancurkan kepercayaan publik terhadap supremasi hukum.

Pelaku penembakan empat tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Sabtu dinihari (23/3/2013), hingga saat ini belum terungkap. Empat tahanan titipan itu adalah tersangka penganiayaan terhadap seorang anggota Kopassus, Sersan Satu Santosa di sebuah kafe. 

Santosa yang ditikam oleh tersangka Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait, akhirnya meninggal dunia. 

Kasus ini terus menjadi buah bibir karena aksi penyerangan kelompok bersenjata itu sangat tidak lazim di negara ini.  Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Staf Khusus Presiden bidang Politik, Daniel Sparringa mengatakan bahwa pembunuhan brutal itu adalah serangan langsung terhadap kewibawaan negara.

Selain telah menghasilkan ancaman serius terhadap rasa aman publik, Presiden SBY menyatakan serangan itu juga menghancurkan kepercayaan publik terhadap supremasi hukum. Karena itu, Presiden sudah memerintahkan Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo untuk melakukan semua tindakan yang diperlukan untuk mengungkap para pelaku dan memastikan semua yang terlibat diadili di pengadilan.

Tentu saja ini pekerjaan rumah yang berat bagi kepolisian yang masih melakukan penyidikan. Polisi bahkan belum bisa mengungkapkan senjata yang digunakan pelaku penyerangan kecuali menyebutkan bahwa senjata yang digunakan kelompok ini jenis laras panjang. Di ruang tahanan tempat keempat eksekusi itu, ada 31 selonsong peluru yang ditemukan.

Masih minimnya tanda-tanda penyidikan mambuat banyak pihak mengusulkan agar kepolisian mengerahkan Detasemen Khusus (Densus) 88. Sebab, kelompok ini bisa dikatakan sebagai teroris yang berbahaya karena berkelompok dan memiliki senjata. Gerombolan ini memiliki pistol, senjata laras panjang dan granat yang digunakan untuk mengancam sipir penjara.

Perlunya tim Densus 88 karena hanya satuan ini yang punya pengalaman dalam memburu, menangkap dan mengungkapkan kasus yang sudah tergolong aksi teror ini. Kepolisian tidak perlu malu untuk melibatkan Densus bila memang sulit mengungkap pelaku. Toh, Densus adalah pasukan elit dari kepolisian juga.

Indonesia Police Watch (IPW) menilai, sangat mudah bagi Polri untuk mengungkap kasus tersebut karena jajaran TNI sudah memastikan bahwa tidak ada oknum TNI yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Dengan demikian, Polri tak perlu melibatkan TNI dalam mengungkapkannya.

Tidak hanya kepolisian, pemerintah juga perlu melakukan investigasi kasus ini. Bahkan, DPR juga bisa membentuk Panitia Khusus (Pansus) untuk menyelidiki kasus yang sangat berdampak pada kepastian hukum di negara ini. 

Banyak hal yang harus diselidiki dari kasus ini. Mulai dari pemindahan tersangka dari Rumah Tahanan Polres Sleman pada tanggal 20 Maret, sehari setelah ditangkap. Kendati pemindahan tahanan adalah hal yang lazim, alasan pemindahan sangat diperlukan.

Kita tidak bisa melihat peristiwa ini sebagai kasus kriminal biasa seperti kasus perampokan bersenjata lainnya. Ini sudah termasuk pada kejahatan terorganisir yang mengancam negara. Bila tidak terungkap, tidak hanya kepolisian saja yang akan mendapat tekanan, tetapi juga pemerintah Indonesia akan mendapat cibiran dari negara lain. 

Akan lebih naif lagi karena Indonesia selama ini dianggap mampu menelusuri jejak teroris, tetapi tidak bisa menangkap pelaku penyerangan LP yang meninggalkan puluhan butir pelurus di lokasi. Apa kata dunia? (*)
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved