Breaking News:

TRIBUN CORNER

Film "Bribes to Customs Official Ngurah Rai" Dikunjungi 600 Ribu Orang

Film Bribes to Customs Official Ngurah Rai perlu mendapat pelajaran seluruh lembaga pelayanan publik di Indonesia.

Perilaku seorang oknum polisi di Bali yang memalak seorang turis asal Belanda membuat heboh. Sebab, aksi itu diunggah oleh korbannya, bernama Van Der Spek. Meskipun kejadian seperti ini bukan hal yang aneh di Indonesia, tetapi kemunculan video ini perlu mendapat pelajaran seluruh lembaga pelayanan publik di Indonesia.

Soalnya, Van Der Spek tidak hanya mengunggah perilaku oknum polisi, tetapi juga membongkar praktik pungutan liar yang dilakukan oknum petugas Bea dan Cukai Ngurah Rai, Bali. Video berjudul “Bribes to Customs Official Ngurah Rai” ini beredar di Youtube 4 April 2013 kemarin atau tiga hari setelah video berjudul “Polisi Korupsi di Bali”.

Reaksi kedua lembaga ini terhadap perilaku anggotanya memang beragam. Pihak Kantor Bea dan Cukai Ngurah Rai, I Ketut Suardinaya mengucapkan terima kasih atas koreksi terhadap petugas BC tersebut. Tentunya kita harapkan akan ada tindakan yang lebih komprehensif karena menindak petugas saja tidak cukup.

Sedangkan, reaksi Polda Bali justru terasa agak berlebihan. Selain memeriksa anggotanya, mereka juga memeriksa turis yang mengunggah video tersebut. Bahkan, Kapolda Bali menyiratkan bahwa pemberi suap juga bisa dijerat pidana karena dalam hukum kita, pemberi dan penerima suap sama-sama pelaku pidana.

Padahal, sejatinya kepolisian berterima kasih karena telah diingatkan bahwa perilaku pungli di institusi itu masih banyak. Van Der Spek adalah whistle blower yang berani mengungkapkan praktik kotor yang di negaranya sangat jarang terjadi. Bahkan, pengunggahan pelanggaran hukum itu adalah bagian dari hak asasi.

Bagi lembaga layanan publik di manapun, video tersebut patut mendapat perhatian serius bila tidak juga membenahi jajarannya. Nantinya, akan muncul Van Der Spek lain yang bisa membuat negara terkorup di dunia ini malu. Semakin lama, teknologi semakin canggih.

Ponsel, misalnya, sudah bisa mengambil gambar video resolusi tinggi. Masyarakat pun mulai semakin kreatif dengan berkembangnya citizen journalism atau jurnalisme warga. Kapan pun mereka bisa membuat rekaman peristiwa, mengirimkannya ke televisi atau bisa juga ke youtube, situs video terbesar di dunia, tanpa sensor.

Video itu juga engan cepat menyebar. Lihat saja video “Polisi Bali Korupsi” itu, hingga kemarin padahal baru lima hari ditayangkan, sudah ditonton oleh 600 ribu orang. Tentunya semakin lama, jumlah penontonnya semakin banyak dan itu berarti akan menjadi tamparan buruk bagi institusi kepolisian.

Sorotan bagi lembaga publik di Tanah Air selama ini sudah sangat terkenal di mana-mana dan hampir merata terjadi di seluruh lembaga pelayanan pemerintah. Perilaku oknum pemalak, penerima suap, calo bahkan pemeras bukan hal aneh lagi.

Pemerintah gagal memperbaiki itu semua karena perilaku korup itu juga hampir merata. Bahkan, saat ini justru muncul pameo bahwa di Indonesia ini lebih sulit mencari birokrat yang bersih dan kredibel dibanding birokrat bersih.

Barangkali, apa yang dilakukan oleh Van Der Spek ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa pun untuk melakukan hal yang sama, yakni merekam berbagai perilaku busuk di aparatur negara ini, kemudian mengunggahnya ke internet. Memang akan terlihat memalukan atau seperti memercik air di dulang, yang terpecik adalah muka sendiri.

Tetapi, hal itu lebih baik ketimbang tidak ada upaya untuk membersihkan negara ini dari para pelaku korup, mulai dari tingkat rendahan hingga ke tingkat pejabat tinggi. Bahkan, tontonan seperti ini akan lebih menarik dibanding reality show di televisi yang lebih banyak rekayasa. (*)

Penulis: Alfian Zainal
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved