Rabu, 10 Juni 2026

Dirut BTPN Selamat dari Serangan Bom di Boston Amerika Serikat

Tiga bom mengguncang Kota Boston, Massachusetts, Amerika Serikat (AS) Senin (15/4/2013) siang atau Selasa (16/4/2013) dini hari.

Tayang:

Peserta lari lainnya Roupen Bastajian (35)mengatakan, para pelari yang sudah sampai finish banyak menjadi korban. "Para pelari baru mencapai finish dan mereka kini tidak punya kaki," ucap Roupen Bastajian (35). Bastajian melihat banyak orang yang kehilangan kaki di sekitar lokasi ledakan. "Ada banyak orang tanpa kaki. Darah di mana-mana," imbuhnya.

"Kami menggunakan turniket (semacam pembalut luka untuk menghentikan pendarahan). Saya mengikat sedikitnya lima hingga enam potongan kaki dengan turniket," terang pria yang juga mantan Marinir AS ini.

Keterangan serupa juga disampaikan Deirdre Hatfield yang berdiri hanya beberapa langkah dari garis finis ketika ledakan terjadi. Wanita berusia 27 tahun ini mengaku, melihat beberapa tubuh manusia terlempar hingga ke jalanan. Ia  juga melihat sejumlah anak-anak yang tergeletak tak berdaya. Stephanie Douglas, melihat manusia beterbangan ke udara, ketika bom meledak di dekat garis finis.

"Ledakannya begitu kuat, bar penuh dengan asap dan kursi terbalik. Saya melihat orang-orang, seperti mereka dilontarkan menggunakan trampolin ke udara," ujarnya.

Dentuman Keras

Bruce Mendelsohn (44) mengaku tengah berada di dalam kantornya yang tepat berada di atas garis finis ketika ledakan terjadi. Mendelsohn yang merupakan veteran tentara AS ini langsung berlari keluar gedung dan disambut ceceran darah di mana-mana.

"Ada ceceran darah di jalanan maupun di trotoar," ucapnya. Ditambahkannya, banyak orang yang mengalami luka-luka di bagian perut ke bawah.

Jim Bardin yang bekerja di sebuah gedung perkantoran antara dua lokasi ledakan menyatakan saat ledakan terdengar, ruangan tempatnya bekerja sampai terguncang. "Saat hendak pergi untuk melihat apa yang terjadi, ledakan kedua terdengar," kata Jim Bardin. Ia melihat suasana sangat kacau di halaman kantornya. "Orang-orang berlarian karena panik," katanya.

Saksi lainnya, Will Ritter, yang berada beberapa blok dari lokasi di dekat Copley Square, sedang menyiapkan ruangan untuk konferensi pers bagi seorang pelari yang baru saja menyelesaikan lomba. Namun, aktivitasnya terhenti setelah mendengar ledakan. "Seperti bunyi ledakan kembang api, lalu asap putih mengepul," katanya.

Ambulans, mobil pemadam kebakaran serta puluhan mobil polisi langsung memenuhi lokasi. Orang-orang yang berhasil selamat dari ledakan hanya bisa menangis dan saling berpelukan. "Suaranya seperti dentuman sonik. Saya bahkan tidak bisa berhenti gemetar," ucap Melissa Stanley, yang menyaksikan putrinya melintasi garis finish sekitar 4 menit sebelum ledakan.

Ledakan ketiga dilaporkan terjadi beberapa saat kemudian di perpustakaan John F Kennedy yang letaknya 5 km dari garis akhir Boston Marathon. Tidak ada korban luka akibat ledakan di perpustakaan John F Kennedy tersebut.

Bocah 8 Tahun

Ledakan tersebut mengakibatkan bocah berusia delapan tahun yakni Martin Richard tewas ditempat. Beberapa saat sebelum ledakan terjadi, Martin berdiri di samping ibu dan saudara perempuannya. Mereka sedang menunggu sang ayah, Bill Richard mecapai garis finis.

Nahas, saat ledakan terjadi, Martin masih berada di lokasi yang sama. Tubuh Martin terlempar ke atas dan jatuh terhempas hingga tewas dengan kondisi mengenaskan. Sedangkan sang ibu dan seorang saudara perempuan Martin mengalami luka parah akibat ledakan tersebut. Sementara saudara perempuan Martin yang lainnya dilaporkan tidak mengalami luka-luka karena berada agak menjauh dari lokasi kejadian.

Martin dan keluarganya merupakan warga asli Boston. Mereka tinggal di wilayah Dorchester yang merupakan lingkungan bersejarah yang terkenal di Boston. Ayah Martin, Bill dikenal sebagai pemimpin komunitas warga di wilayah Ashmont Dorchester.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved